Artikel

Alaikum Bissawwadil A’dhom: Sejarah dan Intisari Ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah

 

  • Judul buku : Alaikum Bissawadil A’dhom
  • Pengarang : K.H. Nawawi Abdul Aziz
  • Penerbit : Percetakan Menara Kudus
  • Tempat Terbit : Kudus, Jawa Tengah
  • Tebal Buku : 274 Halaman
  • ISBN : 978-979-17185-0-4

Ketika kita menyoal tentang Ahlussunnah Wal Jama’ah mungkin steorotipe khalayak awam akan berlari kepada kaum sarungan atau orang yang shalat subuh-nya memakai qunut. Memang, steorotipe tersebut tidak ada salahnya dan harus terus tetap ada ila yaumul akhir.

Menilik perjalanan waktu demi waktu, Ahlussunnah Wal Jama’ah lebih dari sebatas steorotipe di atas. Mulai dari zaman Rasulullah SAW., masa iftiraq, masa dinasti-dinasti Islamiyah hingga masa sekarang. Tentu itu semua bukanlah perjalanan yang mulus, banyak sekali pergolakan-pergolakan yang membawa Ahlussunnah Wal Jama’ah kepada kita. Dan semua intisari sejarah beserta pemahaman mendasar ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah diungkap oleh penulis buku Alaikum Bissawwadil A’dhom yaitu, Al-Maghfurlah K.H. Nawawi Abdul Aziz. 

Pergolakan dalam Islam pertama kali muncul setelah terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, orang-orang menyebut masa itu sebagai masa iftiraq (masa perpecahan umat Islam). Ali bin Abi Thalib saat itu membawa beban besar ketika dibai’at sebagai khalifah, dimana pada masa itu fitnah tentang siapa sebenarnya yang membunuh Utsman bin Affan bertebaran. Belum lagi dengan adanya pemberontakan oleh barisan juang keluarga Utsman yang dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan.

Puncak dari pemberontakan ini ketika meletusnya perang siffin, dimana saat itu pasukan Ali yang masih berjumlah 65 ribu berhasil menupaskan pasukan Muawiyah hingga tersisa 35 ribu saja. Jika dilihat secara kasatmata orang pasti mengira kemenangan pasukan Ali sudah di depan mata. Tetapi sejarah berkata tidak, di saat terdesak Muawiyah beserta pasukannya mengangkat Al-Qur’an di atas tombak sebagai bentuk meminta gencatan senjata.

READ  Bulan Syakban: Saatnya Perbanyak Selawat

Alhasil, terjadilah gencatang senjata dan dilanjutkan dengan perundingan yang masyhur dengan nama Tahkhim. Setelah peristiwa tahkhim tersebut umat Islam terbagi menjadi tiga golongan yaitu, Syiah, Khawarij dan Muawiyah.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa selain dari ke-tiga golongan tersebut ada satu lagi golongan yaitu, kaum Murji’ah yang menyatakan bahwa di antara pihak yang saat itu bertentangan tetaplah mereka seorang muslim. Lalu mengenai pihak mana yang perlu disalahkan, kaum Murji’ah mengembalikan kepada Allah SWT. Yang Maha Mengetahui.

Lanjut ke masa Dinasti Islamiyah, mungkin sebagian dari kita berkhayal bahwa pada masa Dinasti Islamiyah tidak ada jalan yang terjal karena masa itu disebut-sebut sebagai golden age/ masa kejayaannya Islam. Sekali lagi saya katakan sejarah membungkan asumsi kita.

Pada masa Dinasti Islamiyah, khususnya ketika Daulah Abbasiyah berkuasa termuat kisah tragis yang tidak bisa dilupakan oleh kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dalam buku ini diceritakan bahwa ada empat khalifah yang dianggap mempunyai sejarah kelam terhadap sejarah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mulai dari Khalifah Ma’mun bin Harun Ar-Rasyid, Mu’tashim bin Harun Ar-Rasyid, Watsiq bin Mu’tashim hingga Mutawakkil bin Mu’tashim.

Jika diamati lebih lanjut pada masa ini Islam bertemu dengan problematika baru, dimana Islam yang sebelumnya hanya mengenal metode bayani (penekanan atas nash tanpa perlu dipikirkan) dihadapkan dengan gelombang helenisme pertama.

Menurut Ziyad Iswandi dalam Hellenisme (2012) menyebutkan bahwa helenisme merupakan paham orang awam yang bericara tentang Yunani baik berupa seni, kebudayaan maupun pemikiran. Dalam hal ini Islam dikenalkan dengan sesuatu yang baru yaitu, Metode Burhani (pengetahuan berbasis aqli/rasional dan empirism). Tentu hal ini ada baik dan buruknya, karena tidak semua yang ada di agama dapat dirasionalkan. Apalagi ketika itu sudah mulai bermunculan kelompok yang menuhankan akalnya/semua ilmu agama harus melalui justifikasi akalnya. Salah satu kelompok rasionalis terebut yaitu, Mu’tazilah.

READ  Memaknai Idulfitri di Tengah Pandemi Covid-19

Di antara banyak keputusaan kontoversial khalifah saat itu, ada satu hal yang menjadi problem pokok yaitu, Imtihan Al-Qur’an. Dimana semua ulama Ahlul Hadis diuji dengan pertanyaan “Al-Qur’an itu kalamullah atau makhluk?”, jika sang ulama tidak menjawab bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka  dinginnya jeruji penjara beserta siksaannya siap menjemput. Hal itu dipengaruhi oleh bisikan-bisikan pembesar Mu’tazilah yang pada masa itu dekat dengan kekuasaan/khalifah.

Kebanyakan dari ulama terpaksa ber-taqiyyah (berpura-pura) dengan menjawab bahwa Al-Quran itu makhluk. Selain itu ada juga ulama yang bersembunyi ke berbagai daerah salah satunya seperti Zannun Al-Missri As-Sufi yang melarikan diri ke Yaman. Berbeda dengan Imam Ahmad bin Hanbal yang senantiasa meladeni pertanyaan demi pertanyaan dengan setulus hati meskipun harus merasakan dinginnya jeruji penjara. Bahkan dikisahkan di buku ini, ketika itu tangan Imam Ahmad bin Hanbal pernah di cambuk sebanyak tiga puluh delapan kali sampai darah mengalir di sela-sela jarinya.

Trend ini berlanjut sampai masa kepemimpinan Khalifah Mutawakkil bin Mu’tashim yang tak berselang lama Mutawakkil sadar bahwa jika imtihan ini diteruskan akan terjadi pembrontakan oleh rakyatnya sendiri yang mayoritas kaum ahlul hadis. Setelah dibebaskan Imam Ahmad bin Hanbal diberikan penghargaan kehormatan sebagai pahlawan Ahlul Hadis. Konon, ketika Imam Ahmad bin Hanbal meninggal ada sekitar satu juta manusia yang ikut melayat.

Setelah saat itu api Mu’tazilah sudah mulai redup dan baru bisa dipadamkan sekitar 50 tahun pasca masa Khalifah Mutawakkil, lebih tepatnya ketika kemunculan Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Di masa inilah awal kelahiran/pengistilahan kelompok Ahlussunnah Wal Jama’ah atau biasa disebut juga dengan Sunni. Di antara ajarannya yaitu, tetap menggunakan dalil sebagai landasan berijtihad dan tidak anti dengan pemikiran baru yang lebih baik (penyeimbangan atas naqli dan aqli).

READ  Islam Nusantara dan Dilema Seragam Sekolah

Salah satu hal yang menarik dalam buku ini yaitu, buku ini dilengkapi dengan beberapa i’tiqad (keyakinan) antara kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan kaum lainnya. Dengan ini akan memberi gambaran kepada khalayak orang awam mengenai beberapa perbedaan yang mungkin kita kira selama ini adalah ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah ternyata bukan.

 

Penulis: Bintang Saka Arjuna (Ig:@sakaarjn), Mahasiswa (UIN Raden Mas Said, Fakultas Ushuludin dan Dakwah)

 

annurngrukem

Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??