Jumat, Agustus 12, 2022
No menu items!
Beranda blog

Hari Santri Nasional 2021: 5 Hal Yang Harus Dimiliki Santri

0

www.annurngrukem.com – Hari peringatan Santri Nasional ditetapkan setiap tanggal 22 Oktober sebagai peringatan jasa ulama dan santri yang turut berjuang merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahun-tahun sebelumnya, peringatan hari santri selalu diadakan upacara di lapangan terbuka dan dimeriahkan dengan adanya pawai. Namun, sejak datangnya pandemi Covid-19, peringatan hari santri hanya diperingati melalui sosial media tanpa ada upacara maupun pawai.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT., pada tahun ini peringatan hari santri dapat digelar kembali dengan mengusung tema “Santri Siaga Jiwa dan Raga”. Semua pondok pesantren di Indonesia merayakan datangnya hari santri ini.

Tak terkecuali Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, yang juga mengadakan acara peringatan Hari Santri Nasional. Walau masih dalam kategori sederhana, namun semangat dan antusias santri sangat membara.

Hal ini dibuktikan dengan dimulainya serangkaian acara peringatan hari santri yang meliputi muqaddaman Al-Qur’an dan pembacaan selawat Nariyah. Tercatat 12 khataman al-Qur’an dan sekitar 12.000 bacaan selawat Nariyah yang sudah dilaksanakan dalam menyambut hari santri oleh santri putri.

Tidak hanya itu, jajaran pengurus An Nur Putri juga mengadakan beberapa perlombaan sebagai ganti ditiadakannya pawai hari santri di tahun ini. Perlombaan yang digelar antara lain lomba fashion show, Musabaqoh Hifdzil Qur’an 30 juz/5 juz/10 juz, lomba menulis cerpen dan opini, lomba kebersihan komplek dan pidato. Perlombaan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan public speaking serta meningkatkan kreatifitas para santri.

Perlombaan fashion show yang menjadi ‘gong’ dari semua perlombaan diadakan pada Kamis malam (21/10). Pada fashion show ini, santri putri dituntut untuk kreatif dengan membuat busana dengan barang bekas. Selain itu, setiap peserta diberi beberapa pertanyaan seputar santri, antara lain tentang Nahwu-Shorof, seputar Pondok Pesantren An-Nur, serta berita trending terkini.

Pada Jumat (22/10) pukul 07.30 WIB, seluruh santri siap dalam barisan mengikuti apel pagi di halaman kampus IIQ An Nur. Semua santri mengenakan outfit baju serba putih. Apel pagi ini juga dihadiri sebagian besar dewan dzuriyah Pondok Pesantren An Nur Ngrukem. Tidak lupa semua peserta apel menjaga protokol kesehatan dengan memakai masker.

Dr. KH. Khoirun Niat, Lc. MA. selaku pembina apel menyampaikan amanat singkat mengenai arti dari kata “santri”.

“Sesuai namanya, santri iku kudu satu S sregep (rajin), dua A andhap asor (rendah hati), tiga N nrima (menerima apa adanya), empat T tabah, lima R rekoso (berani susah) lan enam I iso (bisa)”, tutur beliau.

Apel selesai, apel pagi ditutup dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dan “Ya Lal Wathon” yang diikuti oleh seluruh peserta apel. Tidak lupa pelantunan Asmaul Husna sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

“Senang sekali waktu pengumuman besok pagi ada apel, bisa ketemu santri komplek lain”, ungkap Shabrina salah seorang santri baru. Event hari santri 2021 merupakan hari spesial, karena kembali diizikannya mengadakan acara yang cukup besar dalam akhir masa pandemi ini. Hal ini disambut meriah dan antusias oleh para santri meskipun tidak ada pawai seperti tahun-tahun sebelum pandemi.

Setelah apel pagi, perlombaan di komplek Pusat Putri kembali dilaksanakan, yakni lomba MHQ dan pidato. “Selain bisa melihat banyaknya santri An Nur, saya juga merasa senang bisa ada rame-rame seperti ini, rasanya semua santri excited banget. Semoga tahun besok kegiatan di Hari Santri Nasional bisa ada pawai. Amin”, tutur Sabilah.

_______________

Oleh: Tim Annurngrukem.com

Peringatan Maulid: Nabi Muhammad SAW Adalah Manusia Biasa yang Tidak Biasa

1

www.annurngrukem.com – Ahad (10/10) Pondok Pesantren An Nur laksanakan acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Acara berlangsung bertempat di pendopo dan mushala komplek putra pusat dan disiarkan secara langsung melalui channel Youtube AnnurngrukemTV.

Acara maulid Nabi Muhammad saw ini dihadiri oleh al-Habib Muhammad bin Hussain al-Habsyi, KH Ashim Nawawi, KH Yasin Nawawi, KH Mu’thi Nawawi, KH Muslim Nawawi, KH Nur Hadi, Agus Adib Ashim, Agus Sabiq Abqorie dan segenap zuriyah Pondok Pesantren An Nur.

Acara dimulai bakda jamaah salat Isya, para santri putra komplek pusat sudah rapi dengan pakaian putih. Adapun komplek Putri Pusat, Khodijah, Maghfiroh dan Nurul Huda mengikuti acara di komplek masing-masing secara virtual. Masing-masing komplek disiapkan layar oleh panitia agar dapat mengikuti acara secara khidmat.

Pembacaan maulid Simtudduror dibuka dan dipimpin langsung oleh al-Habib Muhammad bin Hussain al-Habsyi dan diiringi oleh tim hadroh Pondok Pesantren An Nur dari awal hingga akhir. Setelah pembacaan maulid Simtuduror, beliau memberikan tausiah.

Dalam tausiahnya, Habib Muhammad bin Hussain al-Habsyi menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia biasa, namun tidak seperti manusia pada umumnya. Nabi Muhammad ketika lahir dalam keadaan sujud dengan tangan menunjuk ke atas, sudah dalam keadaan disunat, tali pusar sudah terputus dan mata sudah menggunakan celak.

Diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani bahwa Kanjeng Nabi SAW mengatakan, “kemuliaanku yang ditetapkan oleh Allah swt adalah aku terlahir dalam keadaan dikhitan sehingga tidak ada yang bisa melihat kemaluanku”.

Terdapat riwayat shahih yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin saat Subuh. Saat kelahiran Nabi SAW, Syafa’ (ibu dari Abdurrahman bin ‘Auf) berkata terdapat cahaya yang menyinari gedungnya orang Romawi yang berada di Syams, jaraknya sekitar 500 KM. Bahkan seluruh yang hadir dalam kelahiran Nabi Muhammad saw mendapat kemuliaan masing-masing dari Allah swt.

Ketika Nabi Muhammad saw wafat, Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar mendatangi Ummu Aiman yang merawat Nabi sedari kecil. Mendengar kabar bahwa Nabi SAW sudah wafat, Ummu Aiman menangis sehingga Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar menghiburnya. Namun Ummu Aiman tidak menangisi kepergian Nabi, melainkan menangisi bahwa teguran dari Allah swt yang dulu datang melalui Nabi Muhammad SAW sudah berakhir dengan wafatnya Kanjeng Nabi.

Syair Lam Yahtalil berisi tentang keutamaan-keutamaan yang ada pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dalam syair pertama bahwa Nabi tidak pernah bermimpi basah dan menguap. Mengingat bahwa mimpi basah dan menguap adalah reflek dari setan, sedangkan Nabi SAW adalah manusia yang paling suci.

Dalam syair kedua berisi penjelasan bahwa hewan-hewan tidak pernah lari ketika Nabi SAW lewat dan tidak pernah ada lalat yang menempel pada kulit Kanjeng Nabi. Dalam suatu riwayat dari Sayyidah Aisyah, Kanjeng Nabi memiliki ayam yang mana ketika Kanjeng Nabi berjalan ayam tersebut tidak pernah lari dan justru mengikuti Kanjeng Nabi. Dalam riwayat lain dikatakan hewan yang paling cinta kepada Nabi adalah unta.

Dilanjutnya syair ketiga yang menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi dapat melihat ke belakang tanpa menoleh sebagaimana melihat ke depan. Selain itu, tidak pernah terlihat kotoran hajat dari Kanjeng Nabi, sesuai dengan riwayat dari Ibnu Dihyah bahwa Allah SWT memerintahkan bumi menelan kotoran yang keluar dari para Nabi.

Syair keempat menjelaskan tentang hati Kanjeng Nabi tidak pernah tertidur meski matanya mengantuk dan para sahabat tidak pernah melihat bayangan Kanjeng Nabi di bawah sinar matahari. Syair ini berkaitan dengan riwayat dari Ibnu Mulaqqin bahwa Sayyidah Aisyah bertanya kepada Kanjeng Nabi yang tidur sebelum shalat Witir, lalu Nabi menjawab “Ya Aisyah, kedua mataku memang tidur, namun hatiku tidak pernah tidur”.

Riwayat Imam as-Suyuti dalam kitab Khoshoisul Qubro menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi tidak ada bayangannya. Dijelaskan hal ini karena cahaya Nabi Muhammad lebih terang dari matahari dan bulan. Dalam riwayat lain menjelaskan bahwa Kanjeng Nabi ketika berjalan selalu dinaungi oleh awan.

Syair kelima sebagai syair terakhir menjelaskan ketika duduk maupun berjalan Nabi Muhammad tampak lebih tinggi dari para sahabat, namun tidak terlihat tinggi ekstrim dari yang lain. Syair ini sesuai dengan riwayat dari Imam az-Zarqani dalam syarah Mu’attho’ bahwa ketika Nabi duduk pundaknya lebih tinggi dari semua yang duduk.

Al-Habib Muhammad bin Hussain al-Habsyi menyampaikan sekaligus berpesan kepada para santri dan jamaah bahwa “hafalkanlah khususiyah-khususiyah ini agar engkau aman dari buruknya api, pencurian dan semua cobaan-cobaan hidup”.

Al-Habib Muhammad juga menegaskan bahwa dari sekian banyak keutamaan Kanjeng Nabi, yang perlu kita yakini adalah Kanjeng Nabi adalah manusia sempurna dan akan selalu tampak sempurna. Beliau juga berpesan bahwa hafal dan mengamalkan khususiyyah adalah suatu wasilah qabulnya hajat kita, terhindarnya kita dari bencana dan lain sebagainya. 

Selain itu al-Habib Muhammad juga berpesan bahwa ketika berdoa tirulah Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad yang mana dibuka dengan hamdalah, dilanjut dengan shalawat, lalu ditengahnya diberi shalawat dan ditutup dengan shalawat. Harapannya adalah agar qabulnya doa kita melalui perantara Kanjeng Nabi Muhammad SAW. dan semakin dekat kita dengan Nabi Muhammad saw.

Wajib bersyukur bagi kita yang bisa mengkaji kehidupan Rasulullah dan rugi jika kita tidak mengkaji kehidupan Rasulullah SAW. Umat itu akan berkah selama masih ada hubungan dengan Nabi Muhammad SAW. Kalau sudah terputus dengan Nabi Muhammad SAW, maka tidak ada keberkahan baginya.

Setelah tausiahdari al-Habib Muhammad bin Hussain al-Habsyi dilanjutkan dengan pembacaan Qasidah dan ditutup dengan doa yang pimpin oleh al-Habib Muhammad bin Hussain al-Habsyi. “Seneng bisa ikut sholawatan di pondok. Ya walaupun di rumah pun sudah sering, tapi di pondok ini rasanya beda, meskipun via Youtube tapi alhamdulillah bisa ikut hurmat maulid Nabi”, tutur Juli usai acara maulid selesai.

Acara selesai pada pukul 10.00 WIB. Usai acara, seluruh santri menuju Pendopo Rusunawa untuk makan bersama dengan nampan.

Kirim 1.417 Khataman Al-Qur’an dalam Haul Ke-7 KH. Nawawi Abdul Aziz

0

www.annurngrukem.com – Sabtu (9/10), Pondok Pesantren An Nur Ngrukem mengadakan serangkaian acara haul muassis. Haul termasuk dalam acara rutin tahunan. Acara ini dihadiri oleh beberapa warga sekitar pondok, jajaran dosen IIQ An Nur, beberapa tamu undangan dan seluruh dewan dzuriyah tentunya.

Acara berlangsung di area komplek putra pusat dan disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube AnnurngrukemTV, yang dimonitori langsung oleh pengurus IT Pondok Pesantren An Nur. Untuk para santri mengikuti acara haul bertempat di komplek masing-masing secara virtual.

Acara diadakan untuk memperingati haul ke-7 almaghfurlah KH. Nawawi Abdul  Aziz dan haul ke-10 almagfurlaha Ny. Hj. Walidah Moenawwir. Adapun rangkaian acara telah dimulai sejak tanggal 23 September 2021 lalu dengan pembukaan amaliah. Sedangkan puncak acara adalah malam Ahad (9/10).

Rangkaian acara haul muassis meliputi amaliah pembacaan muqoddaman, simaan Al-Qur’an 30 juz dan tahlil. Amaliah ini diikuti oleh seluruh santri yang masih di pondok, para alumni dan muhibbin. Semua sangat antusias memperingati haul muassis dengan melaksanakan serangkaian amaliah tersebut, meski alumni dan muhibbin melaksanakan di rumah masing-masing

Adapun puncak acara yang dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober dan berlangsung dengan lancar dan cepat. Dimulai sekitar pukul 19.30 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Seluruh santri yang mengikuti puncak acara haul baik secara langsung maupun melalui Youtube mengenakan pakaian serba putih. Pembacaan surah Yasin dipimpin oleh KH. A. Haris Masduqi M.Si, menantu KH. Nawawi Abdul Aziz sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Gunungkidul dan pembacaan zikir tahlil dan doa oleh KH. Miftahul Muna dari Pondok Pesantren Al Anwar Ngrukem.

Selanjutnya penyampaian manaqib singkat KH. Nawawi Abdul Aziz oleh KH. Muslim Nawawi, putra ke-8, KH. A. Haris Masduqi dan KH. Yasin Nawawi. Sambil menikmati hidangan, para tamu undangan yang hadir menyimak manaqib tersebut.

“Bapak itu sangat semangat dalam belajar. Pokoknya kenceng mikir atau cengkir istilahnya. Dan selanjutnya mengajarkannya kepada orang lain sampai sekarang. Sehingga bisa dikatakan bapak sudah mencapai maqom robbaniyyin atau orang yang mengabdikan dirinya untuk mengajarkan dan mendidik dengan ilmu Allah”, jelas KH. Muslim Nawawi.

KH. Muslim Nawawi banyak menjelaskan perjalanan Simbah Nawawi dalam mencari ilmu. Mulai dari belajar di pondok alat sampai ngaji Qiroah Sab’ah di Kudus. Berbagai macam perjuangannya untuk menjaga hafalan Al-Quran. Sampai suatu ketika harus pulang dengan jalan kaki dari Yogyakarta ke Purworejo karena adanya serangan Belanda di DIY.

“Tidak seperti santri jaman sekarang, santri kalau pulang malah hafalannya berkurang. Simbah kalo pulang justru menambah hafalan sendiri. Jadi kembali ke pondok hafalannya tambah, tinggal disetorkan kepada gurunya”, lanjut KH. Muslim Nawawi dengan gaya bercanda.

Perjuangan Simbah Nawawi dalam mencari ilmu sangat luar biasa. Perjuangannya pun dipraktikkan dan diajarkan kepada para santrinya. Simbah Nawawi selalu menekankan untuk selalu istiqomah dan sungguh-sungguh dalam belajar.

“Simbah mengajarkan keistiqamahan dengan sangat luar biasa. Pernah saya ngaji biasanya satu kaca (halaman), tapi saya ingin lebih banyak setornya. Hari pertama kedua aman. Hari ketiga tiba-tiba penjalin datang dan dengan tegas nan lantang Simbah dawuh ‘nek ngaji iku sitik-sitik wae, sing penting  rutin!’ (Kalau mengaji itu sedikit saja, yang penting rutin!), otomatis setelah itu saya tidak lagi-lagi mbedani”, jelas KH. A. Haris Masduqi.

“Kemudian Simbah Nawawi juga menekankan santrinya untuk mengaji dengan suara lantang. Karena mengaji atau nderes dengan suara lantang itu akan menambah lebih kuatnya hafalan”, sambung KH. A. Haris Masduqi.

Acara haul mengusung tema QS. Ali Imran ayat 79 yang artinya “Hendaklah kamu menjadi orang-orang yang robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Qur’an dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. Acara diakhiri dengan pembacaan hasil amaliah santri, alumni dan muhibbin Pondok Pesantren An Nur Ngrukem.

Tercatat dari tanggal 23 September sampai 09 Oktober sebanyak 77 khataman sima’an al-Qur’an 30 juz, 1.340 khataman muqoddaman al-Qur’an 30 juz, 27.733 pembacaan surat Yasin, 667.702 pembacaan surat al-Ikhlas dan 33.750 pembacaan selawat Nariyah.

Setelah pembacaan hasil amaliyah, acara ditutup oleh pembawa acara, Mbah Hamam dari Ngrukem. Harapannya dengan ikut serta berpartisipasi dalam acara haul untuk ngalap berkah Simbah KH. Nawawi Abdul Aziz dan Simbah Ny. Hj. Walidah Moenawwir.

Vaksinasi Dosis Satu: Santri An Nur dan Masyarakat Siap Sehat

0

www.annurngrukem.com – Pondok Pesantren An-Nur Ngrukem kembali mengadakan vaksinasi massal. Berbeda dengan vaksinasi sebelumnya, pada Selasa (04/10) vaksinasi dosis satu yang diselenggarakan di depan kampus Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur berlangsung hanya selama satu hari.

Vaksinasi tersebut dibuka untuk masyarakat umum dan santri yang belum pernah mengikuti vaksinasi. Meski sebenarnya, beberapa peserta datang ke lokasi ada yang telah vaksin dosis satu, dan hendak dosis dua. Termasuk beberapa santri pada September lalu yang berhalangan mengikuti dosis dua, maka pada dosis satu ini mereka ikut serta.

Pondok Pesantren An Nur Ngrukem dengan gencar terus mengejar kekebalan kelompok (Herd Community) mencapai 100% dalam percepatan vaksinasi. Dalam percepatan vaksinasi kali ini, sudah mencapai 98 % dari keseluruhan santri. Selainnya, para santri telah mengikuti vaksinasi di rumah sebelum balik pondok, atau tidak ikut karena punya riwayat penyakit.

Kegiatan vaksinasi dosis satu ini diikuti sebanyak 821 santri. Dari santri putra sebanyak 331 dan santri putri lebih dominan yaitu sebanyak 490 santri. Meski pihak pondok tidak mewajibkan vaksin, para santri yang belum pernah vaksin tetap memilih mendaftarkan dirinya.

Adapun masyarakat sekitar terdata sebanyak 171 orang ikut serta vaksinasi di An Nur. Mulai dari yang muda hingga yang sudah lanjut usia. Sebab, vaksin jenis Sinovac boleh diikuti dari usia minimal 12 tahun alias anak pelajar.

Dokumentasi Vaksinasi Santri An Nur dan Masyarakat Sekitar.

“Saya sangat berharap seluruh santri Pondok Pesantren An Nur dan masyarakat mendapatkan vaksinasi semua. Karena vaksinasi ini adalah bentuk usaha kita untuk melawan virus Covid-19. Pesan saya kepada para santri dan masyarakat, tetap semangat, dan salam sehat, Indonesia kuat”, tutur Hendra, TNI AD Koramil Bantul.

Selanjutnya, vaksinasi dosis dua akan dijadwalkan pada bulan November mendatang. Vaksin jenis Sinovac memiliki interval dosis satu dan dua kurang lebih 28 hari. Vaksin jenis Sinovac memang merupakan salah satu jenis vaksin yang paling lama.

Vaksinasi dosis satu berlangsung cepat. Pada pukul 08.00 suasana lokasi sudah dihadiri para peserta. Untuk mengantisipasi kepadatan antre-an, panitia membuat dua kloter kedatangan. Pukul 08.00—10.00 WIB adalah jadwal para santri. Sedangkan mulai pukul 10.00—12.00 merupakan jadwal masyarakat luar.

“Memang masih ada kemungkinan bagi orang yang sudah tervaksinasi itu terpapar virus Covid-19. Jadi upaya kita adalah meyelenggarkan kembali vaksinasi dosis dua untuk mempertebal imunitas tubuh kita. Andai kalau ada yang mengeluh mual-mual, pusing dan sebagainya itu merupakan hal yang wajar.

Namun, jika tidak ada keluhan apapun berarti tubuh seseorang tersebut dalam keadaan bugar. Harus diketahui juga bahwa imunitas akan kuat jika totalitas usaha terus ditingkatkan”, lanjut bapak Hendra.

Pada vaksinasi kali ini, para relawan santri dibantu tenaga medis dari Puskesmas Sewon 1, Rumah Sehat Baznas, dan Rumah Zakat. Relawan santri mengisi posisi bagian pra-registrasi, registrasi, observasi dan entry data. Adapun pihak dokter berada dibagian screening sekaligus cek suhu dan tensi, serta fokus di posisi vaksinator.

Seperti halnya ketika di pondok, adanya ajakan untuk mengikuti vaksinasi terus digencarkan. Ada yang mengajak berolahraga bersama, lari pagi mengelilingi desa, pola makan yang teratur dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan imun tubuh di masa pandemi ini.

“Tadi sempat terkendala teknis. Dari mulai sampai selesai Pcare banyak mengalami error. Makanya tadi sempat menumpuk juga antre-annya. Karena bareng dengan di Pasar Seni Gabusan. Katanya dosis di sana malah 3000. Padahal nakes dan relawan santri sudah diperbanyak. Namanya juga kendala teknis. Ada aja” ujar Sangidu.

_______________

Oleh: Ahmad Nur Hidayat

Ta’aruf Santri Baru 2021: Cara Menggapai Keberkahan Ilmu

0

www.annurngrukem.com – Pondok Pesantren An Nur mengadakan Forum Ta’aruf Santri (FORTASI) baru pada Jumat (1/10) kemarin. Acara ini hanya dihadiri para santri baru saja, baik putra maupun putri. Acara FORTASI berlangsung setelah para santri datang ke pondok secara bergelombang karena pandemi.

Acara dimulai pukul 08.00 WIB dan berlangsung di aula lantai 3. Santri yang mengikuti mulai dari jenjang MTs, MA, tahasus, dan mahasiswa di setiap komplek. Acara berlangsung internal dan disiarkan langsung lewat Youtube, agar wali santri dapat mengikuti dari rumah masing-masing.

Dimulai dari pembukaan oleh MC disambung pembacaan Kalam Ilahi. Selanjutnya, beberapa sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pondok, Ahmad Sangidu. Adapun sambutan kedua diberikan oleh perwakilan wali santri, bapak kiai Nurohman. Dan sambutan ketiga dibawakan oleh pengasuh pondok, KH Muslim Nawawi.

Pengasuh memberikan motivasi kepada para santri baru. Beliau menceritakan bahwa orang besar itu terlahir salah satunya karena jauh dari orang tua, jauh dari keluarganya. Beliau mencontohkan Nabi Muhammad SAW, yang sudah jauh dari orang tua. Bahkan Nabi Muhammad SAW belum lahir sudah ditinggal wafat ayahandanya. Lalu, enam tahun umur nabi juga ditinggal oleh ibundanya.

“Secerdas apapun kalau hanya di rumah, ilmumu tidak maksimal” jelas KH Muslim Nawawi.

Berikutnya, ada acara perkenalan dewan dzuriyah atau keluarga dari Almagfurlah Simbah KH Nawawi Abdul Aziz. Pada sesi ini, Agus Sabiq Abqori ditunjuk sebagai pemandu untuk mengenalkan keluarga besar An Nur.

Turut hadir pada kesempatan kali ini, ada KH Yasin Nawawi, KH Mukthi Nawawi, KH Muslim Nawawi, KH Nurhadi Anwar, Nyai Hj Umi Azizah Nawawi, Nyai Hj Binti Nafi’ah, Ny Hj Thoyyibatus Sariroh, Ny Hj Luailik Muthi’ah, Agus Adib, Agus Makhrus, Agus Izzatu Muhammad, Agus Sabiq Abqorie, Ning Mila Nadia dan Ning Isna Fatimatuzzahro.

Dokumentasi FORTASI Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Yogyakarta

Empat dari 11 putra Almaghfurlah Simbah KH Nawawi Abdul Aziz mukim di Ngrukem, mengasuh masing-masing komplek di Pondok Pesantren An Nur. Perlu diketahui, semua putra-putri Almaghfurlah Simbah KH Nawawi Abdul Aziz di luar Ngrukem telah berdakwah dengan mendirikan pondok pesantren di daerah masing-masing.

Usai perkenalan, disambung acara pesan-pesan pengasuh yang disampaikan oleh KH Yasin Nawawi. Beliau bercerita tentang alumni pesantren yang telah sukses di masyarakat dan beberapa santri yang gagal bahkan tidak berguna di masyarakat sekitarnya.

KH Yasin Nawawi menyebutkan ilmu yang bermanfaat dan barakah itu tidak bisa dinilai dari hasil akhir. Akan tetapi, justru sejak awal mencarinya, apakah mencari dengan baik, niat yang benar karena ikhlas, tertib, disiplin. Itulah kuncinya. Sebab ilmu yang bermanfaat itulah yang akan menyelamatkan di dunia dan akhirat.

Beliau mencontohkan para alumni An Nur yang tertib di pondok, meski tidak punya ilmu banyak, tetapi justru di masyarakat malah mendapatkan keberkahan. Ketika di rumah jadi tokoh besar di masyarakatnya. Ada juga yang di pondok cerdas, tapi suka melanggar qonun menjadikan ilmunya tidak berkah. Sehingga di masyarakat malah tidak terpakai, tidak bermanfaat di masyarakat.

“Jangan pernah melanggar peraturan meskipun kecil, ilmunya bisa tidak bermanfaat, tidak berkah!” pesan KH Yasin Nawawi.

Acara selesai pukul 10.30 WIB dengan ditutup doa oleh KH Mu’thi Nawawi. Para santri Kembali ke komplek masing-masing dan santri putra persiapan menuju masjid untuk menunaikan salat Jumat.

Siangnya, acara diawali pukul 13.30 dengan pengenalan profil lembaga oleh panitia. Para santri disuguhi video agar melihat lebih banyak profil Lembaga Al Ma’had An Nur. Lalu, dilanjutkan dengan seminar motivasi.

Tahun ini, seminar motivasi dibawakan oleh kepala sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI), Anis Sulhan Fadlil, M.Pd. Rekam jejak kesuksesan beliau berawal ketika menjadi santri, salah satunya santri An Nur. Beliau aktif di berbagai organisasi bahkan pernah menjabat sebagai ketua Pondok Pesantren An Nur periode 2017-2019.

Selesai menjabat ketua pondok, para pengasuh Pondok Pesantren An Nur memberikan amanah untuk menjabat sebagai kepala sekolah MI Al Mahad An Nur sampai sekarang.

Beliau bercerita tentang KH Ashim Nawawi yang ilmunya laduni. KH Ashim Nawawi ketika di Pondok Ploso mengaku tidak bisa apa-apa. Cuma beliau berusaha sekuat mengkin tidak melanggar qonun pondok. Pulang di An Nur, sama Simbah KH Nawawi didawuhi mengajar kitab Jalalain. Akhirnya mendadak beliau bisa.

Acara selesai pukul 15.00 WIB dilanjutkan dengan quiz dari panitia. Beberapa pertanyaan sudah disiapkan panitia. Bagi santri yang bisa menjawab, maka akan mendapatkan dooprize. Total santri baru yang mengikuti acara ini ada sebanyak 472 santri.

Bupati Bantul Hadiri PBAK IIQ An Nur

0

www.annurngrukem.com – Pengenalan Budaya Akademik Kampus (PBAK) merupakan salah satu tradisi turun temurun yang dilaksanakan di lingkungan perkuliahan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan adat istiadat, norma dan sebagainya, yang ada di kampus tersebut. Di Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, kampus dalam naungan Yayasan al-Ma’had An Nur ini menggelar acara PBAK selama 4 hari.

Jum’at (24/9), hari pertama dilaksanakannya PBAK dimulai dengan kegiatan pembekalan mahasiswa baru pada pukul 14.00 WIB yang bertempat di auditorium kampus IIQ An Nur Yogyakarta. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah memberikan penjelasan kepada mahasiswa baru terkait pengertian PBAK dan tujuannya, serta menyampaikan rundown kegiatan yang akan mereka jalani selama PBAK.

Setelah memberikan arahan kepada mahasiswa baru terkait dengan rundown acara PBAK, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian kelompok oleh panitia. Mahasiswa baru dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari putra dan putri yang masing-masing akan dibimbing oleh satu mentor. Setelah pembagian kelompok, mahasiswa baru berkumpul sesuai dengan kelompok dan didampingi oleh mentor masing-masing. Kegiatan di hari pertama ini berakhir pukul 16.00 WIB.

Lalu, Senin (27/9) kegiatan PBAK diawali dengan pembukaan acara yang dihadiri oleh bapak Abdul Halim selaku bupati Bantul, bapak KH Muslim Nawawi selaku pengasuh Pondok Pesantren An Nur dan bapak Sihabul Millah, M.A selaku rektor IIQ An Nur Yogyakarta. Acara dimulai pukul 07.00 WIB dengan menyanyikan lagu wajib, antara lain Indonesia Raya, Ya Lal Wathon, Mars Mahasiswa, Mars IIQ An Nur dan Mars PBAK dengan diiringi piano oleh panitia.

Kemudian acara disambung dengan sambutan dari ketua panitia PBAK, Tubagus Izmi Mubarok dan sambutan dari presiden mahasiswa, Zainal Fanani. Dalam sambutannya, Tubagus dan Zainal berpesan bahwa mahasiswa IIQ An Nur menyambut mahasiswa baru sebagai teman, rekan, sahabat dan saudara.

Sambutan yang kedua oleh bapak Sihabul Millah, M.A selaku rektor IIQ An Nur. Dilanjut dengan sambutan yang ketiga oleh bapak Abdul Halim selaku bupati. Sambutan keempat yakni dari bapak KH Muslim Nawawi selaku pengasuh Pondok Pesantren An Nur. Beliau, KH Muslim Nawawi berpesan agar menjadi mahasiswa yang ilmiah dan berakhlakul karimah. Seusai sambutan, acara dilanjutkan dengan pelepasan balon PBAK yang dipimpin langsung oleh bapak Halim bupati Bantul dan bapak KH Muslim Nawawi.

Setelah acara pembukaan selesai, para mahasiswa baru memasuki auditorium kampus IIQ An Nur untuk mengikuti materi mengenai profil kampus yang disampaikan oleh bapak Sihabul Millah, M.A. Setelah materi mengenai profil kampus, disusul penyampaian materi mengenai pengenalan akademik dan budaya kampus yang disampaikan oleh bapak Munjahid, M. Ag. Acara hari pertama ditutup dengan isoma.

Acara berlanjut pada hari Selasa (28/9) dimulai dengan apel pagi yang dipimpin oleh panitia sie ketertiban. Setelah apel selesai, dilanjut dengan pembekalan materi administrasi kampus yang disampaikan oleh bapak Drs. Atmaturida, M.Pd dan dilanjut dengan materi kemahasiswaan yang disampaikan oleh bapak Dr. H. Khoirunniat, M.A.

Penyampaian materi terakhir oleh KH. Ahmad Muwafiq yang menyampaikan materi sesuai dengan tema yang diusung dalam PBAK, yakni Sinegritas Peran Santri dan Mahasiswa Menuju SDM yang Progresif, Dinamis dan Transformatif. Acara pada hari Selasa ditutup dengan orasi ilmiah oleh presiden mahasiswa, Zainal Fanani.

PBAK berlanjut pada hari Rabu (29/9) diawali dengan apel pagi dan pengecekan suhu tubuh mahasiswa baru oleh panitia ketertiban. Pada hari ini mahasiswa baru tidak dikumpulkan dalam auditorium, melainkan berkumpul sesuai dengan fakultas masing-masing. Panitia menyediakan tiga ruangan yang bertempat di auditorium untuk fakultas Tarbiyah, lobby lantai 2 untuk Fakultas Ushuluddin dan lobby lantai 3 untuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

PBAK kali ini diisi dengan materi dan game oleh panitia dari fakultas masing-masing. Acara cukup meriah karena selain menggunakan kokat yang dibuat dengan potongan kardus, peserta juga mengenakan baju dengan warna seragam yang sudah ditentukan oleh panitia.

Setelah acara PBAK fakultas selesai, peserta menuju auditorium guna mengikuti arahan panitia untuk acara hari Kamis yakni pentas seni.

Pada hari Kamis (30/9) sebagai acara PBAK terakhir dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembukaan apel seperti biasa yang dilanjutkan dengan pengenalan Badan Otonom kampus dan UKM di auditorium IIQ An Nur. Acara dilanjut dengan pentas seni oleh peserta sesuai dengan tema kelompok yang sudah diberikan oleh panitia.

Acara hari terakhir ini lebih ramai, sebab menghadirkan banyak pementasan yang membawa canda tawa di setiap kelompok. Ada pun pentas seni yang ditampilkan adalah drama, puisi berantai, dan tari.

Acara PBAK ditutup dengan pembagian hadiah dan penobatan King dan Queen peserta PBAK. Penobatan ini adalah sebuah simbolik penghargaan kepada peserta terbaik PBAK. Penutupan acara dipimpin langsung oleh ketua PBAK, Tubagus Izmi Mubarok. Setelah acara resmi ditutup, para peserta dan panitia menyanyikan lagu ‘Sayonara’ bersama-sama.

_________________


Oleh: LPM Tsuroya IIQ An Nur Yogyakarta

Vaksinasi Santri Tahap Kedua Menuju Indonesia Sehat

0

www.annurngrukem.com – Pondok pesantren An Nur Ngrukem kembali mengadakan vaksinasi Covid-19 yang kedua. Acara ini terselenggara bersama tim gabungan tenaga medis dari LKNU DIY, Klinik Kartika 0729 Bantul, dan Denkesyah 04.04.02. Pelaksanaan vaksinasi tahap kedua ini dilaksanakan 2 hari, yakni pada tanggal 20 – 21 September 2021.

Rencana awal yang sudah terbentuk pelaksanaan vaksinasi tahap kedua dilaksanakan pada tanggal 17-19 September lalu, namun dikarenakan tempat pelaksanaan vaksinasi sedang digunakan untuk acara wisuda mahasiswa IIQ An Nur, maka vaksinasi tahap kedua baru terlaksana kemarin, Senin (20/9).

“Vaksin sangat penting guna mencegah penyebaran Covid-19. Ketakutan masyarakat atas vaksin harus dihilangkan. Keluhan bermacam-macam, tetapi itu normal”, tutur salah satu nakes dari TNI. Ibarat memakai pelindung kepala (helm) saat berkendara motor, pastinya yang diharapkan dapat melindungi kepala bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya jika terjadi kecelakaan maka helm tersebut dapat melindungi kepala.

Sekalipun terluka mungkin bisa dipastikan hanya luka ringan. Seperti halnya vaksinasi, yaitu untuk meningkatkan imun kekebalan tubuh. Sesuai dengan fungsinya, vaksinasi berperan sebagai pembangkit imun tubuh di mana ketika seseorang terpapar Covid-19, maka imun tubuh akan mengenali dan melawan virus Covid-19 tersebut.

Hari pertama untuk seluruh santri putri An Nur dan beberapa Dewan dzuriyyah An Nur turut serta divaksin. Adapun di hari kedua untuk seluruh santri putra An Nur, dan beberapa santri dari Ponpes terdekat, seperti Ponpes Al-Anwar, Ponpes Nurul Anwar Sawahan dan Ponpes Al-Mahalli Pleret.

Peserta vaksinasi tahap kedua ini adalah santri yang sudah mengikuti vaksinasi tahap pertama, baik di pondok maupun di luar pondok. Peserta vaksinasi yang berstatus pelajar MTs – MA An Nur diatur dengan bergilir berdasarkan kelasnya. Hal ini dilakukan agar tidak mengakibatkan kerumunan yang parah, terlebih sebagian siswa MTs – MA yang mengikuti vaksinasi sedang melaksanakan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) di sekolah.

Suasana vaksinasi kali ini lebih tertib daripada saat vaksin yang pertama. Mulai dari alur kedatangan santri hingga menuju ruang tunggu untuk panggilan screening. Apabila pada tahap ini santri dinyatakan sehat maka dipersilakan lanjut ke tahap penyuntikan vaksin. Setelah divaksin santri menunggu di ruang observasi guna melihat reaksi selama kurang lebih 15 menit. Jika tidak ada keluhan maka santri diperbolehkan pulang.

“Ya, sedikit pegal, sih, dibanding vaksin tahap pertama. Mungkin vaksin yang pertama bisa dikatakan baru perkenalan dengan jarum. Dan yang kedua, alhamdulillah tidak terlalu sakit.” ucap Kuni Farida, salah seorang santri An Nur yang mengikuti vaksinasi dosis kedua.

Vaksin yang digunakan pada tahap kedua ini masih sama dengan vaksin tahap pertama, yaitu menggunakan vaksin jenis Sinovacyang memiliki efikasi sekitar 65,3% di Indonesia.Menurut beberapa peserta yang telah divaksin tahap kedua ini, efek yang dirasakan tidak jauh berbeda dari vaksin sebelumnya, hanya saja lebih ringan.

“Kemarin pas vaksin pertama efeknya pusing, nggregesi, sama pegel-pegel sekitar 2 hari. Di tahap kedua ini alhamdulillah tidak terasa apa-apa”, tutur Nayla, salah satu santriwati yang mengikuti vaksinasi.

Dari keterangan Ahmad Mahrus selaku Sekertaris Pondok Pesantren An Nur, presentase santri yang sudah mengikuti vaksinasi tahap pertama dan kedua adalah sekitar 50%. Hal ini dikarenakan syarat dari vaksinasi ini adalah anak usia 12 tahun ke atas dan sudah mendapat izin dari orang tua.

Adanya vaksinasi tahap kedua ini gunanya untuk menyempurnakan vaksin tahap pertama, sehingga imun dalam tubuh lebih kuat dan diharapkan vaksinasi ini menjadi salah satu usaha untuk  melawan virus Covid-19.

“Harapannya seluruh santri Pondok Pesantren An-Nur segera mendapat vaksinasi. Meskipun masih ada beberapa santri yang enggan divaksinasi, namun kami tetap memberikan penjelasan untuk menyadarkan bahwa vaksinasi sangatlah penting. Karena tujuan kami adalah menuju Indonesia sehat”, tutur pak Sadi, TNI AD KODIM Bantul.

“Dengan vaksinasi ini kita jadi merasa dibentengi. Jadi, kalau misalnya ada kegiatan sekolah, diniyah, dan lain-lain itu bisa tatap muka. Tapi ya tetap menggunakan protokol kesehatan”, tambah Muhammad Arwani, salah satu tim satgas Ponpes An Nur.

Vaksinasi Covid-19 tahap kedua yang dilaksanakan di IIQ An Nur Yogyakarta berjalan dengan lancar. Ketua Pondok Pesantren An Nur, Ahmad Sangidu menyampaikan terima kasih kepada para nakes, vaksinator dan beberapa santri yang turut membantu proses vaksin ini, mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga usai pelaksanaan.

______________________________________________

Oleh: Wartawan Annurngrukem.com

WASPADA! 3 Hal Ini Dapat Membuatmu Murtad!

0

www.annurngrukem.com – Wajib bagi seluruh umat muslim menjaga dan memelihara keislamannya dari hal-hal yang dapat merusak, membatalkan atau memutuskan dari keislamannya. Dalam kata lain yakni murtad.

Di zaman sekarang banyak sekali orang-orang yang mengabaikan adab dalam berucap, sehingga menimbulkan ungkapan-ungkapan yang dapat membuat dirinya murtad dari agama Islam. Bahkan terkadang mereka tidak merasa bahwa semua itu adalah perbuatan dosa dan merupakan salah satu hal yang dapat membawa kepada kekufuran.

Dalam kitab Sullam At-Taufiq karya Syeikh Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hisyam Ba’alawi, menjelaskan murtad menjadi beberapa bagian, yakni sebagai berikut:

Murtad keyakinan (Murtad I’tiqadiyah)

Murtad keyakinan adalah rasa ragu dalam hati seseorang terhadap Allah Swt, Rasul-Nya, Alquran, hari akhir, surga, neraka, pahala, siksaan atau perkara lain yang telah disepakati oleh ulama. Salah satu murtad keyakinan adalah menghalalkan perkara yang diharamkan berdasarkan al-Qur’an, Hadits dan kesepakatan para ulama, seperti menghalalkan zina, liwath (homo seksual), membunuh tanpa alasan, mencuri dan mengambil hak orang lain.

Contoh lain dalam murtad keyakinan adalah mengharamkan perkara yang halal, seperti jual beli dan pernikahan, tidak mengakui salah satu huruf yang terdapat dalam al-Qur’an atau menambah satu huruf di dalam al-Qur’an dan meyakini bahwa satu huruf tersebut termasuk bagian dari al-Qur’an.

Murtad Ucapan (Murtad Qouliyah)

Murtad ucapan adalah murtadnya seseorang yang disebabkan adanya ucapan yang muncul dari mulut seseorang, yang mengandung unsur merendahkan keimanan dalam hatinya. Contoh dari adanya murtad ucapan adalah berkata kepada orang muslim lain dengan ucapan “hai kafir”, “hai yahudi”, “hai nasrani” atau “hai orang yang tidak mempunyai agama”.

Contoh lain dari murtad ucapan adalah menghina nama-nama Allah, menghina janji-janji Allah, menghina ancaman-ancaman Allah Swt, menghina Nabi dan Rasul, menghina al-Qur’an dan ucapan-ucapan yang merendahkan keyakinan agama Islam.

Murtad perbuatan (Murtad Fi’liyah)

Murtad perbuatan adalah murtadnya seseorang yang diakibatkan adanya perbuatan menyekutukan Allah Swt. Murtad perbuatan lebih parah dari murtad keyakinan maupun ucapan karena tidak hanya melibatkan batin maupun lisan, namun juga melibatkan raganya. Secara tidak langsung, murtad perbuatan merupakan murtad dengan tingkat terakhir yang melibatkan jiwa dan raga.

Contoh dari adanya murtad perbuatan adalah sujud atau menyembah selain kepada Allah Swt., seperti sujud kepada matahari, sujud kepada berhala, sujud kepada api atau sujud pada makhluk lain.

***

Lantas bagaimana hukumnya ketika seseorang melakukan perbuatan kufur dalam kondisi terpaksa? yang apabila tidak dilakukan akan mengancam keselamatannya?

Tenang, orang yang melakukan hal tersebut tetap dihukumi mukmin. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam al-Qur’an surah An-Nahl ayat 106 yang berbunyi

مَن كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِیمَـٰنِهِۦۤ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَىِٕنُّۢ بِٱلۡإِیمَـٰنِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرًا فَعَلَیۡهِمۡ غَضَبٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِیمٌ

Artinya: “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman artinya dia tidak berdosa. Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.”

Murtad merupakan suatu tindakan yang amat buruk. Bahkan keburukannya melebihi buruknya kafir dan lebih berat dalam segi hukumannya. Sebab, murtad dapat meleburkan seluruh amal perbuatannya apabila ia tidak kembali mengucap 2 kalimah syahadat dan masuk agama Islam hingga meninggal. Berbeda halnya dengan kafir asli atau non Islam sejak lahir yang mengadakan perjanjian damai.

Semoga Allah Swt. selalu melindungi kita semua dari setiap ucapan atau perbuatan yang mengarah kepada kemurtadan. Amin.

­­­__________

Penulis: Idzar, Komplek Nurul Huda.

Maksiat Hati: Manusia Wajib Jauhi Ini

0

www.annurngrukem.com – Maksiat dapat bermakna perbuatan dosa, buruk atau tercela. Umat muslim kerap memaknai maksiat sebagai perbuatan yang melanggar perintah Allah. Di samping itu, maksiat bisa berarti perbuatan menentang, membangkang atau mendurhakai. Maka dari itu maksiat merupakan perbuatan yang wajib kita hindari.

Dalam Al-Qur’an surah an-Nisa’ ayat 14 disebutkan:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya: “Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan baginya siksa yang menghinakan”.

Salah satu contoh yang masuk dalam kategori maksiat adalah maksiat hati. Sebagian dari beberapa maksiat hati ialah pamer dengan perbuatan-perbuatan baik, di antaranya riya’ yang artinya beramal karena ingin dilihat oleh orang lain. Riya’ bisa meleburkan pahala, sebagaimana ‘ujub (bangga diri) terhadap ketaatannya kepada Allah. Sikap ‘ujub merupakan seseorang yang melihat bahwa ibadah tersebut muncul dari dirinya tanpa adanya fadlumminallah.

Selain itu, termasuk maksiat hati adalah ragu akan keberadaan Allah Swt, merasa aman dari azab (siksa) Allah Swt, serta putus asa dari rahmat-Nya. Maksud dari merasa aman terhadap azab Allah Swt adalah dengan melakukan perbuatan maksiat, sedangkan dia meyakini bahwa Allah Swt itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang akan mengampuni segala perbuatannya.

Orang-orang yang seperti itu termasuk golongan orang-orang yang merugi. Hal itu mirip dengan sikap dan perilaku orang munafik, yaitu orang-orang yang berpura-pura percaya atau setia kepada agama, padahal hatinya tidak demikian.

Kemudian putus asa dari rahmat Allah Swt. Putus asa dari rahmat Allah merupakan dosa besar. Meskipun seseorang tersebut telah melakukan perbuatan dosa, tetap tidak diperbolehkan untuk putus asa. Salah satu penyebab munculnya rasa putus asa adalah dikarenakan mempunyai sifat berprasangka buruk terhadap rahmat dan pemberian Allah Swt. Padahal di dalam Al-Qur’an, Allah Swt telah menginformasikan dengan jelas dengan melarang hamba-Nya untuk berputus asa dari rahmat-Nya.

Dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 87 dijelaskan bahwa:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.

Dan termasuk maksiat hati di antaranya adalah sombong terhadap manusia lainnya. Terdapat banyak bentuk rasa sombong, antara lain menolak kebenaran, merendahkan atau meremehkan dan memandang bahwa dirinya lebih baik dari kebanyakan manusia. Persifatan yang demikian wajib dihindari, sebab rasa sombong akan menyakiti hati orang lain dan akan merusak fungsi hati si pelaku.

Maksiat hati yang selanjutnya adalah dengki. Sifat dengki muncul dari adanya rasa iri yang mengganggu hati. Yang dimaksud dengan hasut atau iri hati yaitu membenci nikmat yang dimiliki orang lain dan merasa berat pada nikmat tersebut, bahkan sampai ingin kenikmatan orang lain itu hilang. Sifat iri hati pada umumnya muncul karena adanya rasa kurang bersyukur terhadap apa yang sudah Allah Swt anugerahkan kepada dirinya, sehingga menginginkan apa yang menjadi nikmat orang lain.

Termasuk maksiat hati yang lainnya adalah mengungkit-ungkit sedekah atau berbuat baik di masa lampau. Padahal, perbuatan mengungkit-ungkit yang demikian dapat menggugurkan pahala dari sedekah atau berbuat baik tersebut. Dengan mengungkit kebaikan yang lalu, dapat dipastikan ketika sedang bersedekah atau berbuat baik tersebut tidak disertai rasa ikhlas di dalam hati. Maka biasakan diri menanam rasa ikhlas, agar senantiasa terjauh dari perbuatan tercela ini.

Kemudian kikir atau pelit, juga termasuk dalam kategori maksiat hati. Terlebih merasa pelit terhadap apa yang diwajibkan oleh Allah Swt, seperti bersedekah, menyantuni anak yatim dan lain sebagainya. Pada umumnya, sikap pelit atau kikir bersamaan dengan sikap sangat cinta kepada dunia (harish). Sikap inilah yang membuat manusia sangat jauh dengan Tuhannya, sebab mencintai dunia dengan sangat amat akan membuat manusia menuhankan duniawi.

Maksiat hati yang terakhir dan paling berat hukumannya adalah membenci Rasulullah Saw dan para sahabat, keluarganya (ahlul bait) dan orang-orang shaleh. Hal ini merupakan maksiat hati dengan kategori paling berat, sebab hati dari si pelaku sudah benar-benar tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang memiliki unsur merendahkan atau menganggap remeh terhadap apa yang dimuliakan oleh Allah Swt, seperti ketaatan, kemaksiatan, Al-Qur’an, ilmu, surga ataupun neraka termasuk bagian dari maksiat hati.

Hal-hal seperti ini harus kita waspadai. Jika dirasa susah maka secara pelan kita harus berikhtiar menghindarinya. Jangan sampai kita melakukan maksiat meski kecil sekalipun. Sebaliknya, kita mestinya menghabiskan waktu untuk beribadah, berbuat baik setiap saat, setiap hari, meski kecil sekalipun. Semoga kita dijauhkan dari kemaksiatan dan dimasukkan ke dalam golongan ahli taubat dan hamba yang shaleh. Amin.

Sumber: Kitab Sullam At-Taufiq karya Syeikh Abdullah bin Husain bin Thohir bin Muhammad bin Hisyam Ba’alawy

_________

Penulis: Idzar, Komplek Nurul Huda

Vaksin Untuk Jaga Kyai: 1.614 Santri Ikuti Vaksinasi Massal

0

www.annurngrukem.com – Dampak adanya pandemi Covid-19 di tahun 2021 cukup meresahkan. Dari tahun 2020 hingga saat ini, korban terdampak Covid-19 masih saja bertambah. Satuan Tugas (Satgas) penanganan Covid-19 pemerintah terus-menerus mengedukasi masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga protokol kesehatan.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kasus dampak Covid-19, tingkat kesembuhan masyarakat Indonesia juga terus bertambah. Terlebih di tahun 2021 ini, Pemerintah Daerah seperti Dinas Kesehatan menggelar vaksinasi gratis untuk masyarakat Indonesia. Kegiatan ini tidak lain untuk membentuk herd immunity di Indonesia.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul terus mengajak masyarakat sekitar mematuhi protokol kesehatan dan membuka kesempatan vaksinasi. Hal ini sangat membantu dalam meminimalisir dampak mewabahnya Covid-19.

Pada hari Kamis (19/8) hingga Sabtu (21/8) Pondok Pesantren An Nur Ngrukem mengadakan vaksinasi kepada seluruh santri baik putra maupun putri. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada santri yang belum pernah mendapatkan vaksin. Dalam kegiatan ini, Pondok Pesantren An Nur Ngrukem bekerja sama dengan PBNU, BAZNAS, TNI, KODIM, KOREM 072 dan Dinas Kesehatan Bantul, dan berbagai pihak lainnya.

Pelaksanaan vaksinasi bertempat di lobi kampus IIQ An Nur Yogyakarta. Terdapat 1500 kuota yang disediakan dari TNI, sehingga proses vaksinasi memakan waktu tiga hari. Dua hari berturut-turut untuk para santri An Nur. Hari selanjutnya untuk pondok selain An Nur.  Untuk hari pertama yakni berhasil mencapai 546 dosis vaksin. Lalu,  hari kedua masih diutamakan untuk santri An Nur, yang berhasil menyelesaikan 530 dosis.

Hari ketiga yakni ada beberapa dzuriyah An Nur yang mengikuti vaksinasi ini. Pada hari ketiga ini, Sabtu (21/8), adalah Ponpes di daerah Bantul. Turut serta Pondok Pesantren Nurul Anwar Sahawan, Al-Anwar Ngrukem, Al-Mahalli, Binaul Ummah, Al-Muhsin II, Nahdatusy Syu’ban, dan lainnya dengan total 538 dosis vaksin. Total keseluruhan melebihi target awal yakni terdapat 1.614 vaksin yang digunakan.

Pada vaksinasi hari pertama, mendapat kunjungan langsung oleh Komandan Denkesyah, Letnan Kolonel Ckm (K) dr. Virni Sagita Ismayawati MARS. Kunjungan tersebut bertujuan untuk mengecek kelancaran kegiatan yang berlangsung.

Di hari ketiga, acara vaksinasi dihadiri oleh Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih dan ketua Yayasan Pondok Pesantren An Nur, KH Yasin Nawawi. Kehadiran kedua tokoh masyarakat ini juga bertujuan untuk meninjau pelaksanaan kegiatan vaksinasi. Tim BAZNAS dan Satgas NU Peduli Covid-19 turut menyaksikan meriahnya vaksinasi santri pada hari terakhir, Sabtu (21/8).

Selama proses vaksinasi terdapat sekitar 30 santri yang turut membantu pelaksanaan vaksin ini. Ada yang membantu bagian registrasi, cek suhu dan tensi serta bagian observasi”, ucap Bahrul Amiq selaku ketua Satgas Ponpes An Nur. Santri yang turut membantu proses kegiatan adalah santri yang sudah mendapat pelatihan khusus, sehingga tidak sembarangan dalam melaksanakan tugasnya.

Adapun prosedur pemberian vaksinasi santri melewati beberapa tahap pemeriksaan. Pertama, melakukan registrasi ulang bagi santri yang telah melakukan pendaftaran. Setelah melakukan registrasi, santri menuju tempat skrining untuk pengecekan kesehatan.

Pada tahap kedua peserta akan diperiksa tekanan darah dan pengecekan suhu badan. Setelah melakukan pemeriksaan tekanan darah dan suhu badan peserta menuju pada tahap ketiga yakni screening. Pada tahap screening peserta akan diberikan beberapa pertanyaan dasar, seperti “Apakah sebelumnya pernah terinfeksi Covid-19 atau tidak?”, “Pernah melakukan kontak dengan penderita Covid-19?”, “Adalah riwayat penyakit dan alergi terhadap obat-obatan”, dan lain sebagainya.

Jika kondisi tubuh peserta vaksinasi dinyatakan sehat, maka peserta akan dipersilahkan menuju tahap empat, yakni suntik vaksin. Namun jika kondisi tubuh dinyatakan kurang sehat, maka peserta akan diberikan waktu istirahat 30 menit dan kembali lagi ke tempat screening. Namun jika tetap dinyatakan kurang sehat setelah 30 menit, maka peserta tidak bisa melakukan vaksinasi dan dipersilahkan istirahat alias pulang.

Setelah melakukan vaksinasi di tahap empat, peserta akan menuju ke tahap lima yakni tempat obsevasi. Tahap observasi berguna untuk melihat reaksi yang timbul setelah vaksinasi selama kurang lebih 15 menit. Jika peserta tidak ada keluhan maka peserta menuju tempat pencatatan resmi telah melakukan vaksinasi dan diperbolehkan pulang.

Alhamdulillah, walau sempat sedikit pusing dan mual karena efek vaksin, saya sangat bersyukur dengan adanya vaksinasi ini. Insyaallah setelah vaksin daya tahan tubuh saya dan santri yang lain akan lebih kuat”, ucap Ustadz Arman Maulana pasca vaksinasi.

Kegiatan vaksinasi santri berjalan dengan lancar dan tanpa kendala. Walaupun terdapat beberapa santri yang lemas pasca vaksinasi namun semua dapat tertangani dengan cepat. Antusias santri terhadap adanya kegiatan vaksinasi sangatlah besar, hal ini dibuktikan dengan melebihnya jumlah target vaksin yang sudah direncanakan.

Alhamdulillah para santri sangat antusias terhadap kegiatan vaksinasi ini. Terima kasih kepada seluruh lembaga yang sudah membantu berlangsungnya vaksinasi ini. Semoga daya tahan santri menjadi lebih kuat dengan adanya vaksinasi. Amin”, ucap Ahmad Sangidu selaku ketua Pondok Pesantren An Nur. Acara vaksinasi ditutup dengan berfoto bersama antara KOREM 072 dengan jajaran santri yang bertugas. Semoga dengan adanya vaksinasi santri dapat menjaga tingkat kesehatan baik santri maupun kyai, seperti jargon yang ada “Santri Sehat, Indonesia Kuat. Vaksin Untuk Jaga Kyai !”.

Lomba di Komplek Nurul Huda dan Maghfiroh Berlangsung Meriah dan Unik

0

www.annurngrukem.com – Dalam rangka menyambut peringatan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, Pondok Pesantren An Nur Komplek Nurul Huda dan Maghfiroh mengadakan beberapa rangkaian acara.

Acara peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia di Pondok Pesantren An Nur komplek Nurul Huda dan Maghfiroh diawali dengan berbagai macam perlombaan. Panitia perlombaan kali ini diambil alih oleh rekan-rekan mahasiswa IIQ An Nur Yogyakarta yang sedang melaksanakan PPL-KKN di Komplek Nurul Huda dan Al-Maghfiroh. Acara perlombaan dimulai sejak tanggal 10 hingga 17 Agustus 2021 dan terdiri dari beberapa cabang perlombaan.

Di Komplek Nurul Huda terdapat tiga cabang lomba, antara lain Lomba Makan Kerupuk, Lomba Futsal, Lomba K3I (Kebersihan Kerapihan Kamar dan Interior). Sedangkan di Komplek Maghfiroh mengadakan enam cabang lomba, di antaranya Lomba Kebersihan Kamar, MHQ, Rangking Satu, Pensi, Tari, dan Make Up tutup mata. Peserta dari setiap lomba merupakan perwakilan dari setiap kamar, selain itu terdapat juga lomba yang bersifat individu.

Perlombaan tersebut diadakan di luar waktu kegiatan pondok. Hal ini bertujuan agar tidak mengganggu kegiatan mengaji maupun KBM di pondok. Mengingat durasi perlombaan yang panjang sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan hanya dalam satu waktu.

Dari sekian banyak perlombaan tersebut diharapkan para santri komplek Nurul Huda dan al-Maghfiroh dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Tanah Air, mengasah kemampuan dan kreativitas santri”, tutur Faqih Aminullah (Ketua KKN-PPL IIQ An Nur).

Perlombaan yang diadakan oleh panitia sangat diminati oleh para santri. Hal ini dibuktikan dengan antusias para santri terhadap perlombaan yang diadakan. Mengingat dawuh dari bapak KH Yasin Nawawi bahwa sebagai seorang santri, tetap harus mengamalkan “Hubbul Wathan Minal Iman” yang artinya mencintai bangsa dan negara adalah sebagian dari iman. Maka sebagai santri harus senantiasa bahagia dengan hari besar Negara Indonesia.

Sesuai dengan rencana yang telah tersusun, pengumuman perlombaan dalam rangka meyambut peringatan hari kemerdekaan ini akan diumumkan oleh panitia pada puncak peringatan  Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni pada tanggal 17 Agustus 2021.

Selasa, 17 Agustus 2021 adalah hari yang sangat besejarah bagi kita semua warga Indonesia, di mana pada hari tersebut bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-76 tahun. Pondok Pesantren An Nur, Komplek Nurul Huda mengadakan upacara di komplek yang diikuti oleh santri pelajar MTs, MA, mahasiswa dan takhasus. Sementara komplek Maghfiroh hanya menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan berdoa bersama.

Upacara bendera dilaksanakan Pukul 08.00 s/d selesai. Upacara bendera berjalan dengan baik dan khidmad. Pembina upacara, kang Zainal Khanani (Lurah Komplek Nurul Huda) menyampaikan sebuah kutipan KH Nawawi Abdul Aziz bahwa “Santri Iku Kudu Ngaji, Yen Ora Ngaji Mulang”. Penyampaian amanah tersebut bertujuan untuk mengingatkan kepada para santri agar terus menuntut ilmu tanpa henti.

Selepas upacara bendera dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasiin dan Tahlil. Hal ini bertujuan untuk mendoakan dan mengenang jasa para pejuang yang telah gugur di medan perang demi membela Tanah Air Indonesia. Acara ditutup dengan pembagian hadiah perlombaan oleh rekan-rekan PPL-KKN IIQ An Nur Yogyakarta selaku panitia lomba.

Demikian rangkaian kegiatan untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia di Pondok Pesantren An Nur Komplek Nurul Huda dan komplek Maghfiroh.

Meski dalam musim pandemi, seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar dan baik tanpa ada halangan suatu apapun. Senyum manis seluruh santri turut merekah bersama dengan diteriakkannya jargon HUT Ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia, “Indonesia Tumbuh, Indonesia Tangguh”.

Komplek Attariq Gelar Lomba 17 Agustus Tiga Pekan

0

www.annurngrukem.com – 17 Augutus 2021 adalah hari dimana seluruh rakyat Indonesia merayakan hari ulang tahun kemerdekaan yang ke-76. Berbagai rangkaian acara diselenggarakan di setiap tempat, dengan mengusung tema “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”. Namun, sejak adanya pandemi Covid-19, semua kegiatan masyarakat di seluruh penjuru dunia mengalami perubahan. Mulai dari pendidikan, ekonomi, upacara adat hingga pernikahan.

Segala jenis kegiatan saat ini, bukan lagi mengandalkan pertemuan secara langsung di tempat, melainkan berpindah ke dunia maya. Seakan seluruh kegiatan-kegiatan berganti dari faktual menjadi virtual.

Namun hal ini sedikit berbeda dengan lingkungan pesantren. Meski masih dalam rengkuhan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan beberapa perubahan, Namun kegiatan tetap berjalan dengan normal. Hanya saja dalam setiap kegiatan wajib menerapkan protokol kesehatan. Mulai dari kegiatan ngaji al-Qur’an, ngaji kitab, mujahadah hingga KBM.

Tidak terkecuali santri asrama santri MI Al Ma’had An Nur atau biasa disebut Komplek Attariq. Sebagai santri Indonesia sejati, para santri Attariq ikut berpartisipasi dalam menyambut dan memeriahkan HUT Kemerdekaan Ke-76 Republik Indonesia.

Sebagai tanda cinta kepada Bumi Pertiwi, pada tanggal 17 Agustus 2021 disambut dengan penuh suka cita dan kegembiraan. Hal ini dibuktikan dengan diadakannya serangkaian acara perlombaan jauh sebelum hari H tiba.

“Alhamdulillah, komplek Attariq sudah melakukan start lebih awal dari komplek lainnya. Alas an kami memulainya lebih awal adalah karena komplek Attariq berisi anak-anak usia MI jadi harus dipersiapkan dengan matang. Selain itu juga ada beberapa perlombaan yang membutuhkan waktu ekstra”, ucap Ustadz Luthfi Nur Muchammad selaku penanggung jawab kegiatan perlombaan.

Kegiatan perlombaan dimulai hari Ahad, 1 Agustus 2021 dan berakhir ahad 15 Agustus 2021. Rangkaian lomba dilaksanakan setiap hari ahad saja dikarenakan hanya di hari tersebut kegiatan ngaji dan belajar diliburkan. Perlombaan berjalan selama 3 pekan, dengan 5 cabang lomba.

Perlombaan yang diadakan terdiri dari lomba makan kerupuk, estafet kelereng, balap karung, memasukkan benang ke jarum dan terakhir lomba estafet bendera yang diselenggarakan bersama dengan panitia guru MI Al Ma’had An Nur.

Lomba di pekan pertama adalah lomba estafet kelereng. Dalam lomba ini diambil dua juara yaitu juara 1 & 2 dari dua kategori, yakni kategori kelas bawah (kelas 1, 2, 3) dan kelas atas (kelas 4, 5, 6).

Di pekan kedua diadakan lomba makan kerupuk. Pada lomba ini terdapat perbedaan dengan lomba makan krupuk biasanya. Umumnya, lomba makan krupuk dilakukan dengan berdiri, namun yang dilakukan di komplek Attariq lomba makan krupuknya dengan duduk di kursi. Hal ini sengaja direncanakan oleh panitia agar tradisi adap dan sopan santun seorang santri tetap terjaga.

Kemudian di pekan ke 3 yakni pekan terakhir adalah lomba balap karung bagi santri putra dan memasukkan benang kedalam jarung bagi santri putri. Ditambahan lomba estafet bendera dari MI Al Ma’had An Nur sebagai lomba terakhir.

Dari awal hingga akhir perlombaan para santri terlihat sangat antusias. Binar wajah keceriaan santri terlihat berseri, semangat kekompakan panitia terjalin rapi. Hal tersebut terbukti dalam tayangan live streaming dan video dokumentasi yang diunggah di channel youtube komplekattariq.Acara pekan ke tiga diakhiri dengan pembagian bingkisan jajan dari pihak MI Al Ma’had An Nur untuk seluruh santri dan santriwati.

Rangkaian acara ditutup dengan upacara bendera pada hari selasa, 17 Agustus 2021. Upacara bendera yang diikuti oleh seluruh santri dan pengurus berjalan begitu khidmah. Petugas upacara diambil dari siswa-siswi kelas 6, dengan dikomandani oleh Mas Muhammad Nur Faizul Mubarok dan Ustadz Miftahul Ashbah sebagai pemimpin inspektur upacara. Dalam amanat pembina upacara Ustadz Miftahul Ashbah menyampaikan “sebagai generasi muda kita harus meneruskan kemerdekaan para pejuang, yaitu sebagai santri harus rajin mengaji dan berbakti”. Upacara ditutup dengan berdoa bersama memohon agar negeri Indonesia segera sembuh dari pandemic Covid-19. Merdeka Indonesiaku, “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”.

Santri An Nur Turut Memeriahkan HUT Ke-76 Republik Indonesia

0

www.annurngrukem.com – 17 Agustus adalah momentum bersejarah bangsa Indonesia. 17 Agustus adalah bukti hasil jerih payah perjuangan rakyat Indonesia. 17 Agustus adalah hari dimana Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Dan tepat hari ini adalah 76 tahun teriakan bung Karno beserta jajarannya membebaskan belenggu jajahan dari bangsa Belanda.

Sebagai warga Indonesia tulen, pasti merasa euforia saat datangnya peringatan hari kemerdekaan. Euforia kemerdekaan biasa dilakukan dengan mengecat tepi jalan di kampung-kampung, menghias rumah atau kampung dengan ornamen bendera merah putih dan memasang Sang Saka di setiap rumah. Semua antusias dengan datangnya hari kemerdekaan.

Tak terkecuali para santri Pondok Pesantren An Nur Ngrukem. Para santri menyambut hari kemerdekaan dengan menghias interior komplek, memasang hiasan bernuansa merah putih di tepi jalan hingga mengadakan lomba untuk memeriahkan datangnya kemerdekaan.

Kegiatan kepesantrenan juga turut andil dalam menyemarakkan datangnya hari kemerdekaan. Seperti kegiatan simaan al-Qur’an 30 juz, muqoddaman al-Qur’an 30 juz serta pembacaan surah Yasin, Tahil dan Selawat Nabi. Selain dalam menyambut datangnya hari kemerdekaan, kegiatan kepesantrenan ini juga untuk menyambut datang bulan Muharram.

Kegiatan kepesantrenan dilaksanakan pada Kamis, 12 Agustus 2021. Simaan al-Qur’an 30 juz putra sebanyak satu kali khataman dengan dibagi tiga majelis, simaan al-Qur’an 30 juz putri sebanyak tiga kali khataman dengan dibagi tiga majelis, pembacaan muqaddaman sebanyak 7 khataman, pembacaan surah Yasin sebanyak 100 kali dan pembacaan selawat nabi sebanyak 3000 kali. Kegiatan kepesantrenan ini ditutup dengan pembacaan Tahlil bersama.

Adapun apel pagi pada yang berjalan Selasa, 17 Agustus 2021, yakni komplek Putra Pusat bertempat di halaman pondok. Komplek Putri Pusat bertempat di halaman pondok Putri Pusat. Komplek Nurul Huda bertempat di halaman komplek Nurul Huda. Sedangkan komplek Attarik bertempat di halaman komplek Attarik. Sementara komplek Khodijah mengadakan apel hanya dengan cara diisi dengan berdoa bersama dan menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hari Merdeka.

Apel pagi yang diadakan secara terpisah dengan tujuan agar tidak menimbulkan kerumunan. Selain itu, apel pagi juga sesuai dengan protokol kesehatan, baik menggunakan masker, berjaga jarak dan selalu membawa handsanitizer.

Pelaksanaan apel pagi dilaksanakan dengan mengenakan kostum beraneka ragam. Ada yang mengenakan seragam tentara, tim satgas, pramuka, pejuang, joker hingga seragam ibadah 5 agama dan masih banyak lagi. Pengadaan apel pagi dengan kostum yang beraneka ragam adalah salah satu cara pembuktian bahwa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu dengan adanya kostum dan make up lucu adalah salah satu pelipur lara di tengah terpaan pandemi Covid-19.

Petugas apel diambil dari santri lulusan MA An Nur tahun ajaran 2020-2021 dan Ust Muhammad Arwani sebagai pembina apel. Dalam amanat pembina apel, Ust Arwani menyampaikan bahwa “hakikat kemerdekaan bagi seorang santri adalah menjaga kemerdekaan itu sendiri dengan cara berbahagia kanthi istiqomah, ngaji kanthi istiqomah, sekolah dan kuliah kanthi istiqomah serta nderes kanthi istiqomah”.

Tidak lupa, para santri juga mengadakan berbagai macam lomba meriah. Lomba yang diadakan juga dalam lingkup komplek masing-masing. Beberapa lomba ini dipanitiai oleh rekan-rekan KKN dari IIQ An Nur Bantul. “Lomba di komplek Putra pusat itu ada tenis meja, CCA, pecah air, gigit koin, estafet tepung, tarik sarung, makan kerupuk, balap kelereng, memasukkan paku dalam botol, balap karung dan tarik tambang”, ucap Muhammad Zulfa, panitia pelaksana lomba.

Sementara komplek Putri Pusat juga mengadakan beberapa lomba antar santri mahasiswi-tahasus dan antar santri pelajar. “Lomba di Putri antara lain ada jedar-jedor, estafet tepung, balap sarung, corong water dan rangking satu”, ucap Ni’matun Nur Afifah, Ketua pelaksana 17-an. Di komplek Putri Pusat juga dipanitiai oleh rekan-rekan KKN dari IIQ An Nur Bantul bersama dengan rekan pengurus komplek Putri Pusat.

Perlombaan dari komplek Khodijah tidak kalah seru. Di sana diadakan lomba yang dibagi menjadi dua kategori, yakni lomba tim dan lomba individu. Yang termasuk dalam lomba tim adalah lomba estafet variasi, estafet karung, estafet air, joget balon. Sementara untuk lomba dengan kategori individu antara lain adalah lomba makan kerupuk, puisi dan Khodijah Got Talent. Perlombaan diadakan di dalam komplek dan di halaman Madrasah Tsanawiyah An Nur Bantul.

Jajaran pengurus komplek Attarik atau komplek pelajar Madrasah Ibtidaiyah An Nur juga mengadakan serangkaian perlombaan yang diikuti oleh siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah An Nur. Lomba yang diadakan antara lain lomba balap kelereng, makan krupuk, balap karung, estafet bendera, memasukkan benang ke jarum. Lomba diadakan di halaman komplek Attarik.

Lomba dimulai dari pasca apel pagi hingga Dzuhur di hari kemerdekaan. Sementara untuk komplek Putri Pusat dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada tanggal 15-17 Agustus, dimulai pagi hari hingga waktu Dzuhur.

“Alhamdulillah, tiasa atoh pisan mugi bisa memeriahken acara nu megah nyaeta hari tepang tauna Indonesia nu ka 76, abdi te ngeharep rek menang atau eleh. Sing penting tiasa memeriahkan Indonesia merdeka ke 76. Abdi dan rerancangan ngges mateng pisan mempersiapkan lomba iye, ti awal nepi ka akhir”, Naila Juli Kurnia santri asal Cianjur.

Lomba wajib yang selalu diadakan di setiap komplek adalah lomba kebersihan kamar, yakni para juri akan menilai kebersihan dan kerapian setiap kamar dalam kurun waktu tiga sampai tujuh hari. Bagi kamar terbaik berhak mendapat hadiah dari panitia dan bagi kamar dengan kategori paling tidak rapi juga akan mendapat nominasi serta diumumkan saat penyerahan hadiah.

“Penyelenggaraan lomba-lomba ini selain untuk memeriahkan hari kemerdekaan Republik Indonesia juga untuk mengenalkan arti kekeluargaan, menambah solidaritas dan melatih mental santri, khususnya santri baru yang baru datang tiga hari yang lalu”, ucap Eka Oktaviani, Ketua Kelompok KKN Kamaratih Komplek Khodijah.

Setiap kegiatan kemerdekaan diikuti seluruh santri dengan penuh antusias. Semangat pejuang seperti merasuki para santri. Semua bergembira dan berbahagia dengan adanya perayaan kemerdekaan ini. Mengingat dawuh dari bapak Kyai bahwa hubbul wathan minal iman (mencintai bangsa dan negara adalah sebagian dari iman), maka kita sebagai santri wajib antusias pada hari spesial ini. “Sejalan dengan jargon HUT ke-76 Republik Indonesia yakni Indonesia Tumbuh, Indonesia Tangguh serta dengan segenap kerendahan hati, semoga perayaan kemerdekaan ini mampu menambah imun santri, memberikan semangat mengaji dan menjalankan nilai-nilai islami”, ucap Widdat ‘Ulya, Ketua Komplek Khodijah.

Kata Siapa Kita Sudah Merdeka?

0

www.annurngrukem.com – “Endonesa merdeka!!” Teriak salah seorang anak bertubuh gempal dengan suara lantang saat melihat bendera-bendera merah putih dipasang di halaman komplek pesantren pada pagi hari.

Anak itu membuat saya tersenyum. Saya baru ingat bahwa hari ini bulan Agustus. Jika tidak melihat bendera yang terpasang dan teriakan anak itu mungkin saya akan lupa bahwa sebentar lagi adalah hari kelahiran negara Indonesia.

Semenjak pasca kelulusan dari sekolah formal Madrasah Aliyah, tepatnya lima tahun silam membuat saya sering lupa bulan, dan hari. Karena kegiatan saya di pesantren kini setiap hari terkesan monoton. Pagi hari mengaji, siang nderes dan malam tidur. Tanpa ikatan hari, kecuali di hari Jumat. Untunglah bendera dan anak-anak itu mengingatkan saya. Sehingga saya bisa sedikit punya perasaan bangga dan hormat dengan adanya kemerdekaan.

Lalu di kepala saya terbayang ketika tanggal 17 Agustus nanti lagu “Hari Merdeka” karya Husein Mutahar akan dinyanyikan dengan euforia gembira dan menyenangkan seperti biasanya. Santri putra-putri memakai bermacam-macam kostum profesi pekerjaan, pakaian adat, bahkan kadang ada yang menjadi cosplay pahlawan super.

Belum lagi akan ada gerobak sampah yang disulap menjadi kendaraan perang TNI yang akan menghiasi halaman. Meriah dan menyenangkan sekali. Setelah itu akan ada lomba seru-seruan. Ada lomba balap karung, gigit koin yang dilumuri oli, menurunkan karet gelang yang dipasang di muka, lomba olahraga seperti sepak takraw, sepak bola, bulu tangkis hingga tenis meja. Semua komplit dan seru.

Namun, bayangan seru-seruan itu pudar seketika ketika saya melihat data jumlah kasus Covid-19 di negeri ini yang tak kunjung membaik. Terlebih lagi sudah pasti perayaan tujuh belasan yang dulunya meriah dan menyenangkan akan begitu membosankan seperti tahun lalu. Tak ada baris-berbaris, pawai, kostum dan lomba. Yang ada hanya hormat Sang Saka Merah Putih selama lima menit lalu bubar.

Meski begitu, bagaimanapun perayaan tujuh belasan nanti dirayakan, kita tetap harus bersyukur dan berterima kasih kepada para pejuang. Saya tak bisa membayangkan betapa beratnya para pejuang mempertaruhkan jiwa dan raga kepada Indonesia tercinta sehingga bisa merdeka dari kelamnya penjajahan.

Dalam album sejarah di aplikasi Youtube seorang veteran kota Blitar bernama Mbah Mardjoeni menceritakan bagaimana beratnya hidup dalam penjajahan. Untuk merebut kemerdekaan Mbah Mardjoeni harus meninggalkan rumahnya dan berpindah-pindah tempat untuk berjuang bersama Laskar Sabilillah.

Ibunya selalu menangis karena merasa khawatir. Hari-harinya semakin berat ketika mendekati hari kemerdekaan. Dentuman bom mulai akrab terdengar dimana-mana. Suara tembakan dan tangisan sudah menjadi sarapannya setiap hari.

Mbah Mardjoeni harus selalu waspada setiap keluar rumah. Katanya, siapapun yang bertemu Belanda akan ditembak mati. Ngeri sekali saya membayangkannya.

Namun apapun ancaman dari Belanda tak pernah membuat takut Mbah Mardjoeni. Katanya, perasaan takutnya sudah lenyap semenjak dirinya dan para pejuang dimotivasi oleh komandannya dengan sebuah kalimat “Merdeka itu lebih enak dari segala-galanya!”

Perkataan komandan membuat Mbah Mardjoeni berpikir seperti apa rasanya Merdeka itu. Dan itulah yang membuat semangatnya terus tumbuh.

Saya menyimaknya ceritanya dengan begitu takjub. Kalimat “Merdeka” yang diucapkan Mbah Mardjoeni membuat saya berpikir apa arti dari merdeka itu sendiri hingga lebih enak dari segala-galanya.

***

Saya masih ingat sekali pelajaran PPKn saat SD dulu. Pak guru saya menjelaskan bahwa merdeka memiliki arti sebagai “Bebas” dari suatu paksaan ataupun kendali yang dilakukan oleh negara lain.

Merdeka adalah sebuah kuasa untuk menentukan arah langkah diri sendiri dalam menentukan pilihan antara dilakukan atau tidaknya sebuah perberbuatan. Dan subjek yang merdeka itu harus mempunyai kekuasaan untuk menguasai diri sendiri dan perbuatannya. Maka sudah jelas merdeka lebih enak dari segala-galanya karena punya kuasa atas diri sendiri.

Tujuh puluh enam tahun sudah negara ini punya kuasa terhadap dirinya sendiri. Memang benar negara ini telah bebas, telah merdeka, tidak ada lagi paksaan-paksaan atau kendali dari negara lain. Kita telah merdeka. Eh, sebentar-sebentar. Bukan kita yang merdeka. Tapi negara kita. Diri kita tak akan pernah  merdeka dari penjajahan. Kita akan selalu terkekang. Karena setiap individu manusia tak akan pernah merdeka. Kita akan selalu diperbudak oleh kebiasaan yang kita lakukan.

Seperti ngendikan Pak Kyai saya, “Sejatinya manusia akan selalu diperbudak oleh kebiasaannya. Jika kebiasaannya baik maka akan diperbudak kebiasaan baiknya. Namun jika kebiasaannya buruk akan selalu diperbudak kebiasaan buruknya.”

Iya, setiap individu manusia akan selalu diperbudak oleh kebiasaanya. Yang memiliki kebiasaan baik akan selalu diperbudak kebiasaan baiknya.

Sebaliknya, seorang yang terbiasa melakukan kebiasaan buruk akan diperbudak kebiasaan buruknya. Lihat saja kebiasaan kita seperti telat menghadiri undangan rapat, kebiasaan menyontek pekerjaan orang lain, kebiasaan malas ngantri dan kebisaan buang-buang waktu. Kebiasaan itu akan sulit hilang meski berkali-kali kena teguran.

Hal itu juga sama dengan yang dilakukan oleh koruptor yang hobi mengeruk  uang rakyat di negeri ini. Orang yang biasa korupsi tak akan pernah jera meski berkali-kali terkurung dalam sel besi. Karena mereka sudah tak punya kendali terhadap dirinya sendiri. Satu-satunya cara menghentikan tindak korupsi adalah jangan sampai para koruptor ini diberi kesempatan. Karena akan selalu ada tekanan dan alasan untuk mengeruk uang rakyat.

Seperti halnya saya yang telah diperbudak kebiasaan saya yaitu tidur sehabis subuh. Saya sulit untuk menghindarinya. Tapi karena tempat tidur saya dipakai untuk mengaji, maka saya tak ada kesempatan untuk kembali terlelap dan akhirnya bisa menghindarinya hari ini. Pagi ini saya isi kegiatan dengan jalan sehat, tapi entah besok atau lusa. Namanya juga sudah diperbudak, hehehe.

Selalu Ada Hal yang Bisa Disyukuri

0

www.annurngrukem.com – Setiap malam, seorang laki-laki setengah baya, berkaki pincang, dengan topi berwarna merah jambu yang tak pernah ia cuci dan ia lepaskan itu datang ke rumah saya.

Orang-orang desa sekitar saya memanggilnya dengan panggilan “Lik Parmin”. Lelaki setengah baya itu tak pernah absen datang untuk menumpang tidur di kamar musala depan rumah.

 “Pak kula tilem mriki nggih, “ Katanya sewaktu awal-awal menumpang tidur. Saya tak tahu, mengapa ia lebih suka tidur di kamar musala depan rumah saya daripada tidur di rumahnya. Padahal, rumahnya juga tak terlalu buruk. Dan tak berbeda jauh dengan kamar musala depan rumah saya. Saya menebak, mungkin alasannya karena lebih nyaman, dan tak ada gangguan dari orang lain.

Awalnya bapak ragu untuk mengizinkannya, namun karena kasihan, bapak membolehkannya meski ia tak pernah mau shalat di musala  itu.

Lik Parmin adalah orang yang mengalami gangguan jiwa. Ia memang terlihat normal. Terlihat sehat. Bisa diajak berbicara.  Namun ia sering sekali bicara sendiri, mengomel-ngomel sendiri, kadangkala marah tanpa sebab mengumpat “Asu bajingan kampang!” Mengumpati orang-orang  membuatnya jengkel.

Kalau sedang kumat, saya kadang merasa jengkel dan harus menegurnya karena mengganggu orang tidur di waktu tengah malam. Jika dia ngomel-ngomel sendiri lagi, saya mendatanginya lagi hingga benar-benar diam.

Meski saya sendiri sering jengkel kepadanya karena suka marah-marah sendiri, kadang saya kagum dengan Lik Parmin.

Hampir setiap ia diberi sesuatu, ia selalu mengucapkan matur nuwun. Dan setiap mau makan atau  minum ia akan melakukan ritual khusus. Ia akan menunduk, larut dalam kekhusyukannya lalu mengucapkan doa yang ia sebut dengan mantra.

Maturnuwun gusti, maturnuwun (orang-orang yang sudah memberi) Al-Patekah! “. Ia selalu mengucapkan mantra itu meski ia cuma minum air keran. Dan itu membuat saya malu dan menyadarkan suatu hal dari kejadian yang saya alami.

***

Beberapa minggu lalu, saya dan saudara-saudara saya mengalami kecelakaan. Gara-gara sebuah mobil, mobil yang kami kendarai menyenggol mobil lain, lalu hilang kendali dan menabrak pagar tembok hingga akhirnya terjun bebas kurang lebih sampai sepuluh meter dari jalan raya.

Mobil yang kami tunggangi rusak parah, tapi untunglah kami selamat dan tak ada korban jiwa. Meski masih diberi keselamatan, saya menyebut hari itu adalah hari yang sial. Kecelakaan itu membuat saya lesu dan lemas.

Entah kenapa hati saya belum bisa menerima dengan apa yang saya alami. Membuat saya protes dengan dengan Tuhan. Saya sudah berdoa, membaca shalawat, bahkan saya juga mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Tapi, kenapa musibah masih menimpa saya?

Namun, ketika melihat Lik Parmin begitu khusyuk membaca mantranya, entah kenapa saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Kondisinya terlihat begitu menyedihkan di mata saya, namun ia masih bisa saja bersyukur dengan segala hal yang dimilikinya.

Saya jadi teringat sebuah Puisi Makna Titipan karya WS Rendra:

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan

bahwa mobiku hanya titipan-Nya

bahwa rumahku hanya titipan-Nya

bahwa hartaku hanya titipan-Nya

bahwa putraku hanya titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan

Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

 

Saya seharusnya mengucapkan “Alhamdulillah” Sebagai rasa syukur karena masih hidup, selamat, dan masih sehat hingga sekarang. Toh, semua yang hilang hanya titipan.

Bukankah sehat adalah nikmat yang tak ternilai harganya? Di kepala saya jadi terngiang sebuah ayat yang pernah saya hafal.

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٟنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS. Ibrahim 14:34]

Dengan bersyukur hati saya sebenarnya akan lebih lapang, kuat, dan lebih legawa. Bukan menghadapi musibah dengan protes, dongkol dan bertanya kenapa-kenapa musibah itu bisa terjadi. Namun nyatanya, selama ini ternyata saya hanya mengetahui teorinya, tidak dengan praktiknya.

Seperti Lik Parmin, sebenarnya selalu ada hal yang bisa disyukuri dari diri setiap orang.

Kata Ibu Nyai saya, semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Namun sayang, tak semua orang (salah satunya saya) bisa melihat sudut pandang yang bisa di syukuri dari apa yang dimilikinya, meski sebenarnya begitu jelas dan gamblang.

Bersyukur saat  terkena musibah memang bukan hal mudah dan  perlu latihan. Jika belum bisa dengan hati, cukup dengan lisan. Dan mungkin saya juga perlu membiasakan lisan saya mengucapkan syukur.

Toh, dibalik setiap kejadian atau musibah yang kita alami pasti selalu ada hikmahnya. Dan rela menerima ketetapan Allah dapat mengubah musibah, bencana menjadi karunia. Maturnuwun Gusti.

Kopdarwil Pertama AISNU Regional Jogja

0

www.annurngrukem.com – Arus Informasi Santri Nusantara (AISNU) Wilayah Yogyakarta bekerja sama dengan Pondok Pesantren An Nur dan Dema IIQ An Nur Yogyakata menggelar kopi darat (kopdar) perdana pada Ahad (17/7). Acara bertempat di auditorium Institut Ilmu Al Quran (IIQ) An Nur Yogyakarta, Kompleks Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul. Setelah sebelumnya tertunda akibat pandemic Covid-19 dua tahun terakhir ini.

Diikuti kurang lebih 100 santri pegiat media sosial wilayah Yogyakarta. Kopdar mengusung tema “Moral Pancasila dalam Literasi Digital bagi Santri Pegiat Media Sosial”. Kopdar ini sekaligus pelantikan pengurus AIS Nusantara Wilayah Yogyakarta.

Yusuf Haryono, SE., M.H. turut hadir dalam rangkaian acara ini sebagai Keynote Speaker. Adapun narasumber yang lain antara lain Anifatul Jannah (Koordinator Nasional AIS Nusantara), Firman Albasyari (Wakil Koordinator AISNU), M. Faisal Dzulfahmi (Presiden Mahasiswa IIQ An Nur).

Dalam sambutannya bapak Yusuf Haryono berharap bahwa kegiatan AISNU ini bisa menjadi wadah silaturahmi dan bertukar pikiran antar pondok pesantren, khususnya santri pegiat media sosial. Beliau juga menambahkan, semoga ke depannya mendapatkan ilmu yang dapat ditularkan, manfaat, dan mendapat keberkahan.

Narasumber pertama dengan materi Literasi Digital, kak Nadia Irmasakti Fadilla (sekertaris nasional AIS Nusantara) dan narasumber kedua dengan materi Manajemen akun media sosial, kang Muallif Wijdan Kayyis (Korwil AISNU Batavia), dengan moderator kang Ahmad Naufal Anam (AISNU Jogja).

Acara ditutup dengan kopdar dan foto bersama, setelah sebelumnya dilaksanakan pelantikan pengurus AISNU Jogja.

Selamat dan sukses atas terselenggaranya acara Kopdarwil AISNU Jogja yang pertama, semoga ke depannya semakin jaya dan menjadikan #IndonesiaLebihNyantri.

Munas Ke II: K.H. Shihabuddin Terpilih Menjadi Ketua Alumni

0

www.annurngrukem.com – Ahad (17/7) Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul kedatangan banyak tamu dari para alumninya. Mereka berdatangan dari perwakilan berbagai daerah untuk mengikuti acara Musyawarah Nasional (Munas) Ke II. Para alumni tergabung dalam silaturahmi yang disebut Ikatan Alumni Santri An Nur (IASA).

Munas dilaksanakan di dalem pusat, kediaman K.H. Muslim Nawawi. Para alumni yang datang dari jauh dipersilahkan transit di komplek Attariq. Acara resmi dimulai pukul 13.00 WIB. Para alumni memenuhi dalem, sekitar lebih dari 40 alumni hadir mewakili daerah-daerahnya.

Acara dibuka oleh MC dari alumni, Kiai Toyyib Arifin dari Kulonprogo. Dilanjutkan dengan acara kedua yakni pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Kiai Ali Ihsan dari Gunung Kidul. Lalu, diteruskan dengan pembacaan zikir tahlil singkat yang dipimpin oleh para pengasuh K.H. Yasin Nawawi, dengan doa dibawakan oleh K.H. ‘Ashim Nawawi.

Dilanjutkan sambutan pengasuh Pondok Pesantren An Nur, yang disampaikan oleh K.H. Muslim Nawawi. Dalam sambutannya, K.H. Muslim Nawawi menyampaikan bahwa keberadaan alumni bagi pondok sangat penting. Salah satunya sebagai sarana dakwah An Nur dikenal oleh masyarakat luas.

Adapun acara berikutnya adalah dawuh dan arahan dari dewan dzuriyah untuk alumni, terkhusus untuk organisasi dan umumnya untuk meningkatkan khidmah perjuangan alumni. Pertama, dawuh disampaikan oleh K.H. ‘Ashim Nawawi. Beliau berharap kegiatan semaan di daerah agar terus diadakan.

Hal itu bertujuan agar adanya halaqoh bathiniyah antara alumni daerah dengan pondok. “Ojo sampe alumni kok lali karo pondok e”, dawuh K.H. ‘Ashim Nawawi.

Kedua, dawuh yang dibawakan oleh K.H. Yasin Nawawi. Menurut beliau, setiap sektor alumni bisa diadakan acara tahunan, yang mana nanti ada dzuriyah yang hadir. Hablumminnas harus dijaga. Tidak boleh pilih kasih, alumni hafal Qur’an maupun tidak harus semua dirangkul.

“Semoga semua jadi rombongan simbah Nawawi di akhirat.” pungkasnya.

K.H. Mu’thi Nawawi menyambung sambutan ketiga. “Kulo bingah sanget nerasaken perjuangan simbah, saget ngurip-urip. Mugo-mugo berkah, hasil maksud.”

K.H. Muslim menambahi, halaqoh bathiniyah dapat ditingkatkan dengan meneladani Almaghfurlah Simbah Nawawi. Seharusnya meneladani Almaghfurlah Simbah Nawawi itu mudah. Karena Almaghfurlah Simbah Nawawi itu tidak aneh-aneh, justru sederhana. Gampang, kan? Ibadah juga Simbah Nawawi tidak banyak-banyak amat. Tapi istiqomah.

Amaliah Almaghfurlah Simbah Nawawi itu perlu diikuti dan dikaji. Seperti wiridan habis Magrib, usai salat bakdiyah lanjut salat Awwabin. Terus setelah salat Isya, Almaghfurlah Simbah Nawawi buat mengajar para santri, beliau salat witir di awal. Untuk Subuh, setelah salat qobliyah membaca ya hayyu ya hayyum la ilaha illa anta sebanyak 40 kali. Karya-karya simbah Nawawi juga dikaji. Biar jariyah Almaghfurlah Simbah Nawawi langgeng.

Di samping itu, K.H. Muslim Nawawi menceritakan bahwa syiir nadzam Fikih itu ditulis kurang lebih 9 tahun. Dulu, ketika mau berangkat rutinan ke masjid Ar Ridlo, Almaghfurlah Simbah Nawawi menulis 3-4 syi’ir.

Menuju ke acara inti, yakni Sidang Pleno. Moderator sekaligus ketua sidang diambil alih oleh K.H. Maftuh Rumanto. Karena waktu terbatas, Sidang Pleno fokus membahas pemilihan ketua alumni. Pembahasan AD/ART dilaksanakan di lain waktu.

Struktur Pengurus Pusat Ikatan Alumni Santri An Nur (IASA) berlaku 2022-2026, terdiri dari: al-Musyrif al-‘Am (Pembimbing Utama), Majlis Istisyary (Majelis Pertimbangan), Majlis Syuro (Majelis Permusyawaratan), Dewan Tanfidz (Dewan Pelaksana). Berdasarkan arahan pengasuh, ketua harus berasal atau mukim di Jogja.

Usulan nama calon ketua, dari Kulonprogo Bernama K.H. Shihabuddin, dari Gunung Kidul ada Kiai Ali Ihsan dan Kiai Hudi Rahmat, Bantul ada K.H. Maftuh Rumanto dan K.H. Musyafa’. Usulan peserta atau dari alumni.

Singkat sidang, alhasil, Al Amin Al ‘Am (Ketua Umum) terpilih adalah K.H. Shihabuddin dari Galur Kulonprogo. Lalu, hadirin berdiri membaca shalawat, yang dipandu ketua sidang. Acara selesai dan diakhiri foto bersama dengan para pengasuh dan dewan dzuriyah Pondok Pesantren An Nur.

Usai berfoto, para alumni menuju makam Almaghfurlah Simbah Nawawi untuk berziarah. Setelah itu, para alumni kembali ke tempat transit dan pulang ke daerah masing-masing.

Pesta Terbesar: An Nur Sembelih 36 Hewan Kurban

0

www.annurngrukem.com – Tahun ini, ada perbedaan perayaan Idul Adha, yang dilaksanakan oleh umat muslim. Pemerintah Indonesia menetapkan Hari Raya Kurban jatuh pada Ahad (10/7). Sedangkan Arab Saudi memutuskan Sabtu (9/7) sebagai Idul Adha 1443 H. Tentu, perbedaan ini bukanlah suatu masalah, karena Indonesia sudah terbiasa dengan berbeda-beda dan tetap satu jua.

Dr. KH. Aguk Irawan MN, Lc. Pengasuh Pondok Pesantren Baitul Kilmah Pajangan menerangkan, perbedaan ini sudah ada sejak zaman nabi. Dulu, Kuraib melakukan takbir di Syam pada malam Jumat. Sedangkan, Ibnu Abbas mengumandangkan takbir pada malam Sabtu di Madinah.

Dalam menanggapi soal perbedaan ini, Dr. KH. Aguk Irawan MN, Lc. menambahkan keterangan, bahwa terdapat dua istilah di dalamnya. Pertama, matla’ mahaliyah, yakni pendapat mayoritas ulama, di mana rukyat dan hisab berdasarkan negeri masing-masing. Kedua, matla’ ijmaliyah, dengan memandang soal Arafah yakni manasik khusus yang tempat dan waktunya hanya ada di Mekkah, otomatis seluruh negeri wajib mengikuti Mekkah.

Pondok Pesantren An Nur mengikuti pemerintah merayakan Idul Adha pada Ahad (10/7). Para santri berpuasa Tarwiyah pada Jum’at (8/7), dan puasa Arafah dilaksanakan pada Sabtu (9/7).

Alhamdulillah, tahun ini merupakan perayaan Hari Raya Kurban yang paling meriah usai pandemi. Sewaktu pandemi, bahkan tidak ada perayaan selain takbiran bersama. Hewan kurban disembelih oleh tukang jagal dan para santri tinggal menerima matang tanpa tahu berapa jumlah kambing yang disembelih di pondok.

Tahun 2022 sekarang, para santri nampak sangat bahagia bisa merayakan Hari Raya Kurban. Takbiran begitu semangat. Terlebih lagi para santri baru, yang baru datang ke pondok pada tanggal 2 Juli lalu. Untuk pertama kali mereka merayakan Lebaran Kurban di pondok, yang hanya bersama santri lainnya, tidak didampingi orang tua maupun keluarga.

Adapun salat Idul Adha dilaksanakan di Masjid Ar-Ridlo Ngrukem untuk seluruh santri putra. Untuk santri putri berada di komplek masing-masing karena Masjid Ar-Ridlo tidak bisa menampung seluruh santri An Nur putra-putri, yang jumlahnya lebih dari 2500 santri. Santri putri pusat membuat jamaah di musala putra pusat, yang diimami oleh Gus H. Adib ‘Ashim.

Lalu, komplek Khodijah melaksanakan salat Idul Adha di musala madrasah, dengan imam oleh Gus Thoriq Ziyad, S. Farm dan khatib yakni Gus Dr. H. Khoirun Niat, M.A. Sedangkan komplek Al-Maghfiroh, para santri mengikuti salat Idul Adha, yang diimami oleh K.H. Yasin Nawawi.

Kini, Panitia Kurban Pondok Pesantren An Nur Ngrukem berhasil mendapatkan jumlah hewan kurban yang fantastik, mencapai sebanyak 34 kambing. Tidak ada sapi. Sebab, sapi sedang banyak yang terjangkit wabah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku).

Panitia komplek pusat menerima sebanyak 22 hewan kurban kambing. Ditambah komplek Attariq ada 6 ekor kambing. Nurul Huda mempunyai 3 ekor kambing. Khodijah 1 ada 1 ekor kambing, sedangkan Khodijah 3 menyembelih 2 ekor kambing.

“Sebenarnya, ada satu sapi. Disembelih di Kulonprogo. Dari alumni. Aslinya ada tambahan satu kambing juga, yang disembelih di Kulonprogo. Daging sapi mau dibikin bakso. Untuk tasyrik kedua. Dibagi ke santri kalau sudah matang”, ujar Sangidu, ketua pondok sekaligus ketua panitia kurban.

Semua hewan kurban disembelih di hari pertama setelah salat Idul Adha. Karena para santri belum ada yang berani menyembelih, panitia dibantu warga yakni pak Agus Juron dalam penyembelihan. Selanjutnya, santri-santri yang besar-besar membantu nguliti. Penyembelihan mulai pukul 09.00 WIB. Dan pukul 10.00 sudah siap dibagi. Penyembelihan di halaman depan TPQ An Nur.

Usai dibagi, daging dipotong kecil-kecil untuk nyate seluruh santri. Tetap setelah jamaah salat Zuhur, para santri bersiap-siap untuk nyate. Daging yang sudah dipotong dibagikan ke seluruh santri. Santri pusat putra nyate di halaman depan TPQ An Nur.

Waktu Asar tiba, bertepatan selesainya nyate-nyate. Santri kembali ke kamar dan bersiap mengikuti jamaah salat Asar bersama bapak pengasuh. Selanjutnya, para panitia membersihkan halaman tempat penyembelihan dan nyate.

Talkshow Bareng Gus Ahmad dan Ning Sheila

0

www.annurngrukem.com – Malam Minggu (2/7) kali ini terasa berbeda dan istimewa bagi santriwan dan santriwati Komplek Khodijah. Dua tamu spesial hadir dalam acara “Talkshow: Membangkitkan Ghirah Menghafal Al-Qur’an di Tengah Gempuran Zaman”, yakni Gus Ahmad Kafa dan Ning Sheila Hasina dari Pondok Pesantren Lirboyo Jawa Timur. Acara itu digelar di halaman IIQ An Nur.

Talkshow dimulai bakda Isya dan berakhir pukul 22.15 WIB. Talkshow ini disambut hangat dan meriah dari awal hingga usai acara, baik dari para dzuriyah yang hadir maupun para santri. Terlebih ketika penampilan hadroh dari Komplek Khodijah yang menambah keseruan di awal acara, yang sekaligus sebagai menyambut kedatangan para dzuriyah dan Gus Ahmad serta Ning Sheila.

Adapun susunan acara yang meliputi: pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Azizatul Hasanah, lalu sambutan dari dewan dzuriyah Komplek Khodijah yang diwakili oleh Gus Izzatu Muhammad, S.H.I, kemudian dilanjut acara Talkshow yang dimoderatori oleh Mujawazah, M.Pd.

Tema yang diambil sangat fleksibel dengan keadaan santri zaman sekarang, yang mulai pudar semangatnya dalam menghafal Al-Qur’an. Hal ini juga dimaksudkan untuk mendobrak semangat para santri baru dalam menggapai cita-cita untuk menjadi hafidz-hafidzoh Al-Qur’an.

Cerita diawali dengan pengalaman mondok Gus Ahmad dan Ning Sheila. Kemudian dilanjut dengan 3 pertanyaan yang dilontarkan oleh para santri.

Pertanyaan pertama yakni bagaimana menjadi hafidz-hafidzoh yang ideal. Menurut Ning Sheila, ada 3 aspek utama dalam menjadi hafidz-hafidzoh yang ideal. Yang pertama adalah niat dari menghafal Al-Qur’an itu sendiri. Apapun niatnya adalah baik asalkan untuk sesuatu yang baik, seperti birrul walidain.

Satu yang ditekankan beliau yaitu Al-Qur’an bukan profesi. Jangan memanfaatkan gelar hafidz-hafidzoh untuk urusan duniawi lalu menyepelekan dalam memuliakan Al-Qur’an. Sementara yang kedua adalah mempelajari tajwid dan membenahi bacaan. Dan yang terakhir yaitu konsisten dalam muroja’ah hafalan Al-Qur’an yang telah dimiliki.

Gus Ahmad juga menyetujui jawaban dari Ning Sheila bahwa tajwid itu penting. Di zaman sekarang banyak orang yang membaca Al-Quran, namun Al-Quran justru melaknatinya karena kurangnya dalam menghormati Kalamullah.

Pertanyaan kedua yakni berkhidmah pada pondok untuk seorang santri. Ning Sheila menyampaikan tips dalam menyikapi kesibukan menjadi pengurus dan tugas seorang santri dalam mengaji, yaitu harus bijak membagi waktu. Ning Sheila juga berpesan bahwa ilmu itu berkah karena khidmah, maka jangan menyepelekan apalagi menolak kepercayaan dari pondok dalam mengabdi kepada kyai.

Pertanyaan terakhir yakni perihal menjaga hafalan setelah berumah tangga. Kali ini, Ning Sheila mengambil contoh dari orang tuanya, yaitu Bu Nyai Hannah Zamzami Lirboyo, yang sangat istiqomah dalam menjaga hafalan beliau. Ning Sheila pun mengakui bahwa beliau masih belum sekonsisten ibundanya. Namun, Ning Sheila terus berusaha dalam memuroja’ah hafalan setiap harinya.

Di penghujung acara Gus Ahmad dan Ning Sheila memberikan kuis bagi para santri. Santri putra yang ditunjuk dan diberi hadiah oleh Gus Ahmad bernama Alfa (VII MTs An Nur). Sementara itu santri putri yang berhasil menjawab pertanyaan bernama Putri Nafidah Chumairo’ (Tahassus).

“Seneng banget, grogi juga. Aslinya cuma iseng, eh, ternyata ditunjuk maju ke depan dan alhamdulillah jawabannya juga benar,” ujar Putri.

Kedua santri tersebut mendapatkan hadiah foto selfi bareng Gus Ahmad dan Ning Sheila. Gemuruh teriakan para santri merasa cemburu karena mereka tidak berhasil mendapatkan kesempatan langka itu.

Acara ditutup dengan doa yang dipim pin oleh Gus Ahmad dan sesi foto bersama para dzuriyah dengan Gus Ahmad dan Ning Sheila. Semoga dengan adanya acara Talkshow ini menjadikan lebih semangat dalam menghafalkan Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam keseharian kita. Amin.

____________________________

Oleh : Shabrina Rizqi dan Naila Gadis

WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??