Selasa, Mei 11, 2021
No menu items!
Beranda Artikel Hari Asyura: Peringatan Hari Raya Anak Yatim

Hari Asyura: Peringatan Hari Raya Anak Yatim

www.annurngrukem.com – Sebutan Idul Yatama sudah tidak asing bagi kalangan umat muslim, terutama bagi para santri. Idul Yatama merupakan sebutan Hari Raya Anak Yatim. Bertepatan dengan tanggal 10 Muharam atau Hari Asyura.

Istilah Idul Yatama hanya sebagai ungkapan rasa kegembiraan anak-anak yatim. Sebab, pada hari tersebut mereka diberi kasih sayang berlebih seperti dengan mengadakan santunan. Allah berfirman:

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.(QS. Al-Baqarah ayat 83).

Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbahnya menjelaskan, ayat ini merupakan perintah secara khusus untuk tidak menyembah sesuaatu apapun,  dan dalam bentuk apapun, selain Allah yang Maha Esa.

Dalam perjanjian itu disebutkan juga, perintah untuk berbuat baik dalam kehidupan kepada orang tua (ibu dan bapak), dengan kerabat (yang memiliki hubungan baik dengan orang tua), dan kepada anak yatim (mereka yang belum balig sedang ayahnya telah wafat). (lihat: Tafsir al-Misbah hlm. 298).

Penafsiran Quraish di atas menjabarkan dua hal. Pertama, beliau menjelaskan bahwa ada anjuran untuk kita berbuat baik terhadap orang tua, kerabat, dan anak yatim.

Kedua, beliau juga menjelaskan bahwa yang disebut anak yatim dalam redaksi ayat ini adalah mereka yang ditinggalkan ayahnya sebelum mereka akil baligh.

Ayat ini bisa direnungkan, bahwa jika kita tidak mampu berbuat baik dengan memberikan sebuah materi kepada mereka yang disebut yatim, hendaknya kita menjaga lisan kita untuk tidak mencela mereka. Ini dijelaskan dalam redaksi ayat serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.

Lalu timbul pertanyaan terkait memberikan sesuatu dalam wujud materi tersebut seperti apa. Selanjutnya Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Artinya: “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya”. (QS. Al-Baqarah ayat 215)

Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menjelaskan, bahwa ayat ini menggambarkan tentang pertanyaan yang dilontarkan kepada nabi tentang apa yang mereka nafkahkan.

Ayat ini memberikan jawaban, bahwa yang kamu nafkahkan dari harta yang baik.  Kemudian ayat ini juga menjawab pertanyaan tentang kepada siapa hendaknya harta itu dinafkahkan.

Pertanyaan yang dimaksud telah terjawab, bahwa hendaknya memberikan harta kepada orang tua, kerabat yang dekat maupun yang  jauh, dan anak-anak yatim yang belum dewasa sedang ayahnya telah wafat. (lihat: Tafsir al-Misbah hlm. 556).

Pemaparan Quraish Shihab di atas menjelaskan kepada kita bahwa pada surat al-Baqarah ayat 83, kita dikabarkan harus berbuat baik kepada beberapa golongan, salah satunya adalah anak yatim.

Kemudian pada surat al-Baqarah ayat 215, beliau menjelaskan bahwa kita harus menafkahkan harta kita untuk beberapa golongan yang salah satunya juga termasuk anak yatim.

Selain itu, dua redaksi di atas bisa dicermati bahwa kedua ayat ini menjelaskan tentang status anak yang disebut yatim, yaitu mereka yang belum dewasa atau belum baligh yang ayahnya telah wafat.

Menanggung anak yatim menag sangat luar biasa faidahnya. Dalam sebuah hadis diungkapkan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَقَالَ بِإِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Hadis yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’din Rasulullah Saw. bersabda: “Kedudukanku dan orang yang menanggung anak yatim di surga bagaikan ini.”Beliau merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (lihat: Maktabah Syamilah, matan hadis, Kitab Sahih Bukhari, Juz 18, hlm. 417).

Hadis di atas menjelaskan pada kita, bahwa betapa penyayangnya Rasulullah Saw. terhadap anak yatim. Selain itu, beliau juga sangat menyayangi umatnya yang menyayangi anak yatim.

Hadis ini juga menjelaskan kepada kita, bahwa isyarat yang diberikan Rasulullah Saw. kepada umatnya (bagi mereka yang menanggung anak yatim) menyimpan sebuah makna begitu dekatnya kedudukan mereka dengan beliau di surga nanti. Bahkan lebih dekat dari apa yang beliau isyaratkan dengan jari beliau.

Pemaparan di atas menggambarkan betapa besarnya balasan ketika kita menyantuni anak yatim. Kedua ayat di atas mengajarkan, bahwa salah satu perbuatan baik adalah ketika kita mampu berbuat baik terhadap anak yatim.

Salah satunya bisa menafkahkan harta kita untuk anak yatim. Sesuai hadis di atas, ketika kita bisa menafkahkan harta kita kepada anak yatim, maka kita akan memiliki kedudukan yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw.

Momentum 10 Muharam sebagai pengingat kepada masyarakat agar peduli kepada nasib anak-anak yatim. Namun demikian, menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapan saja, bukan hanya berlangsung pada hari tersebut.

Rasulullah Saw. berpuasa di hari tersebut dan memberikan kasih sayang berlebih. Dikutip dari laman tebuireng.online, dalam Kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiya-i wal Mursalin, Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشْرَةِ آلافِ مَلَكٍ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشْرَةِ آلَافِ حَاجٍّ وَمُعْتَمِرٍ وَعَشْرَةِ آلافِ شَهِيدٍ ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً

“Barangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharam, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan baragsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya”.

Hadis ini memang sanadnya Da’if (baca: lemah). Namun karena berkaitan dengan fadlailul a’mal (baca: berkaitan dengan dorongan berbuat kebajikan), maka hadis ini boleh diamalkan isinya.

Adapun makna mengusap kepala anak yatim ini memiliki dua bentuk. Ada ulama yang memaknai secara makna hakiki (baca: mengusap kepala anak yatim), dan ada yang menggunakan makna kiasan. Syekh Abu Thayyib mengatakan sebagaimana dikutip dari laman tebuireng.online:

قال الطيبي: مسح رأس اليتيم كناية عن الشفقة والتلطف إليه,  ولما لم تكن الكناية منافية لإرادة الحقيقة لإمكان الجمع بينهما

“Abu Thayyib berkata: “Mengusap kepala anak yatim adalah sebuah kinayah tentang kasih sayang dan sikap lemah lembut (kepada anak yatim). Makna kinayah ini tidak bertentangan dengan makna hakiki, karena keduanya bisa dipadukan”. (Mirqatul Mafatih, 8/3115)

Dari sini bisa diambil pelajaran, bahwa tanggal 10 Muharam merupakan hari yang istimewa. Rasulullah Saw. melakukan dua amaliyah, yaitu puasa dan menyantuni anak yatim.

Tentu kita sebagai umat muslim mengikuti apa yang beliau ajarkan. Semoga kita berhasil mendapatkan keberkahan dari Bulan Muharam, khususnya Hari Asyura ini. Wallahu A’lam.

Penulis: Jamal + Sangidu

Sumber: Alquran dan Terjemah, Tafsif al-Misbah, Maktabah Syamilah, tebuireng.online

Avatar
annurngrukem
Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Mengenal Ilmu Tauhid dalam Kitab Idhoatul Dujannah

www.annurngrukem.com - Tauhid secara singkatnya adalah mengesakan Allah SWT yang disebut dalam syahadatain yang kalimatnya terdiri atas dua bagian. Pertama, syahadat tauhid...

Penutupan Kegiatan dan Libur Lebaran 1442 H

www.annurngrukem.com - Rabu (27/4) Pondok Pesantren An Nur Ngrukem menggelar acara Peringatan Nuzul al-Qur’an sekaligus menutup rangkaian kegiatan Ramadan yang diikuti oleh seluruh santri...

Pengumuman Liburan Idul Fitri 1442 H

Sesuai surat edaran Pondok Pesantren An Nur dengan nomor 024/SP/PH-PPA/IV/2021 pada tanggal 28 April 2021 seluruh santri An Nur akan belajar di rumah...

Lomba Cerpen 6: SI DARYO

Lelaki 20 tahun itu terlihat meringis menahan perih saat air wudhu mengalir melewati luka-luka di beberapa bagian tubuhnya bersamaan dengan darah yang...

Recent Comments

Rini Dwi Hastuti on Pojok Santri#6 (Pelayan Surga)
Muhammad Rofiq Aulawi on Masih Manusiakah Kita?
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Cinta Raisa #3
fuad Rosyid on Kegiatan Harian
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
error: Ups, tidak boleh main copy paste ya! Izin dulu sama Admin annurngrukem.com, donk..!
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
👋 Hai, ada yang bisa saya bantu??