Harun Nasution: Pentingnya Rasionalitas Mu’tazilah di Indonesia

0
10

www.annurngrukem.com – Harun Nasution merupakan salah satu tokoh intelektual Islam era kontemporer. Interpretasi makna Nasution sangat berbeda dengan penjelasan kontemporer lain dan klasik. Beliau dalam mengaplikasikan penjelasan lebih berusaha untuk menunjukkan tema umum dari sejumlah besar poin. Tema yang paling mencolok ialah rasionalitas. Ia berkontribusi perihal problematika akal dalam skema teologi.

Hipotesis yang dikemukakan Harun Nasution menerangkan bahwa dalam Islam kedudukan akal begitu sangat diperhatikan, akal memiliki kedudukan tinggi dan banyak diaplikasikan. Akal melambangkan sebuah kekuatan manusia, dengan akal manusia dapat memiliki kesiapan guna menaklukan kekuatan makhluk lain di sekitarnya.

Semakin menjulang tinggi akal manusia maka akan bertambah tinggi kesiapan manusia guna melawan dan mengalahkan makhluk lain, begitu juga sebaliknya, berkurangnya kekuatan akal manusia maka akan bertambah lemah serta rendah dalam kesiapan menghadapi kekuatan makhluk lain.

Nasution berpendapat bahwa rasionalis memiliki pendirian yang mana suatu apresiasi akan dilihat sangat bermakna jika suatu penafsiran dapat dikonfirmasikan melalui akal. Dengan memperoleh kebenaran dasar yang tidak dapat disangkal itu memerlukan prosedur gagasan rasional (abstrak).

Hal ini menjelaskan bahwa keabsahan dapat dipahami dengan tidak bergantung pada metode empiris. Akal selain sumber utama pengetahuan dan kebudayaan, pada dasarnya akal juga berkontribusi dalam perkembangan history keagamaan.

Jadi, akal merupakan suatu pola deduktif yang dapat dimengerti secara rasional dan tidak secara langsung berhubungan dengan pengetahuan indrawi, melainkan dengan kriteria seperti konsistensi logis. Hal ini juga salah satu bukti klaim bahwa akal memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan banyak diaplikasikan.

Bagi Harun Nasutian, rasionalitas yang dibawa Mu’tazilah sangat berpengaruh dan sangat penting pada perkembangan fikrah Islam di Indonesia atau modernisasi Islam di Indonesia. Ia mengatakan bahwa rasionalisasi teologi Islam merupakan faktor fundamental dalam skedul modernisasi yang lebih pesat dalam masyarakat Islam.

Dengan kehadiran kalam rasionalitas Mu’tazilah ini menjadi signifikan dalam wacana Indonesia. Di kalangan teologi Islam di Indonesia, hanya rasional Mu’tazilah yang dapat membedakan dari mazhab Islam yang lain merupakan keprioritasan nalar spekulatif. Yang mana nalar spekulatif itu merupakan alat guna menyelesaikan problematika agama. Hal tersebut sangat mempengaruhi dalam pembaharuan teologi Islam Indonesia era kontemporer.

Dengan mengaplikasikan keutamaan rasional Mu’tazilah, teologi Islam Indonesia dapat mengetahui solusi Islam terhadap persoalan sosial yang ada di Indonesia. System ini merupakan atensi primer guna mengelaborasi teologi praktis yang dapat membagikan penjelasan Islam terhadap konteks realitas sosial dan politik dari teologi modernis islam Indonesia.

Indonesia di era kontemporer dan kemajuan IPTEK ini, sifat yang lebih rasional ajaran-ajaran Mu’tazilah ini sangat berperan. Jadi perlu digaris bawahai bahwa yang diperlukan kaum Islam di Indonesia dalam pembaharuan teologi adalah pemikiran yang dibawa Mu’tazilah yakni Rasional. Tidak lima ajaran dasar teologi Mu’tazilahnya akan tetapi teologi agama rasional yang dinamis (yang sangat kuat bergema percaya terhadap kekuatan akal manusia, percaya terhadap ilmu pengetahuan dan percaya terhadap hukum alam).

Peranan penting paham teologi rasional Mu’tazilah di Indonesia adalah supaya pemikiran sifat rasional Mu’tazilah dapat dipahami oleh orang. Seperti halnya umat Islam masa lampau yang maju dikarenakan menggunakan paham Rasional, dan seperti orang Eropa yang sekarang maju sebab menggunakan paham Rasional.

Jadi dalam penjelasan tersebut menjelaskan bahwa teologi rasional itu merupakan akal kuat sehingga dapat membawa kepada kemajuan. Hal itu berbeda kalau dengan Teologi Tradisional yang mana tradisi ini membuat kita pada tradisi tidak maju, karna terikat pada tradisi-tradisi dan adat istiadat pada pikiran lama.

Jika kita umat Islam di Indonesia menggunakan teologi rasional, maka kita dapat dengan mudah menghadapi problematika yang sedang kita hadapi dalam mengikuti lajunya perkembangan dunia, akan tetapi jika kita masih mengaplikasikan teologi tradisional yang fatalistic, irasional, predeterminisme maka kita akan kacau menuju kesengsaran dan static sehingga umat Islam dianggap menghambat pembaharuan.

____________________

Penulis: Durriyatun Ni’mah

Asal: Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

______________________

Refrensi

Hanafi, Ahmad. Teologi Islam: Ilmu Kalam. Jakarta: Bulan Bintang, 2015.

Madjid, Nurcholish. Islam, Kemodernan dan KeIndonesiaan. Bandung: tt, 1992.

Nasution, Harun. Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisis Perbandingan. Jakarta: UI Press, 1986.

Nasution, Harun. Filsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Rozak, Abdul, dan Anwar Rosihon. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia, 2012.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here