Kategori
Berita

Kegiatan Workshop Leadership: Formula Of Change Being Happy and Succes

www.annurngrukem.com – Jumat (09/04), Pondok Pesantren An Nur putri mengadakan workshop leadership dengan narasumber bunda Rita Eko Yuniarti dan teh Deri Rizki Anggraini S.Gz. Karena inti acaranya adalah workshop leadership, oleh karena itu peserta dalam kesempatan ini adalah para musyrifah (pembimbing kamar) dan pengurus pondok.

Acara dilaksanakan di musala baru, dan dimulai sejak pukul 08.30 WIB dengan moderator pengurus pondok, Istiqomah.  Acara dimulai dengan pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh saudari Rahmatang.

Lalu, acara selanjutnya yaitu sambutan. Sambutan yang pertama dari Ketua Pondok Pesantren An Nur putri, ustazah Nur Faizah S. Pd, dan sambutan kedua oleh perwakilan dewan zuriah, ning Atina Zulfa.

“Semoga ini menjadi semangat para pengurus dan musyrifah dalam menjalankan amanahnya. Karena setiap kalian itu pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Maka dari itu, semangat!” kata ning Atina Zulfa.

Dalam kesempatan ini, terdiri dari sekitar 30 peserta ikut hadir. Semua peserta mengikuti workshop dengan ceria. Narasumber pertama yaitu bunda Rita, menjelaskan tentang bagaimana cara mengenal diri sendiri dan mengenal orang lain.

Bagi pengurus ataupun musyrifah, tentu acara semacam ini sangat penting. Karena, jelas bunda Rita, untuk mampu menjadi pengurus atau musyrifah itu harus berinteraksi dengan orang lain dengan baik, dan mampu mengontrol diri dengan baik.

Di sela-sela penjelasan beliau, diselingi juga dengan belajar berinteraksi dengan baik. Yaitu dibentuk pasangan-pasangan untuk saling bercerita dan mendengarkan. Dengan demikian maka peserta diajarkan untuk menjadi pendamping yang baik. Mau mendengarkan dan merespon orang lain dengan baik.

Hal paling seru adalah ketika para peserta diberi beberapa pertanyaan dan harus dijawab sesuai kenyataan karakter masing-masing. Lalu, dikelompokkan sesuai perorangan yang memiliki kesamaan karakter. Selanjutnya diberi penjelasan secara psikologi.

Kemudian, dengan narasumber kedua yaitu teh Deri, dari Bandung. Pada sesi bersama teh Deri, suasana workshop lebih interaktif dan komunikatif. Karena pada sesi ini, para peserta dipersilahkan untuk bercerita tentang keluh kesah atau tentang apa pun seputar kepengurusan.

“Menjadi relawan itu sulit dan langka. Kalian tau, kalianlah relawan. Para pengurus dan musyrifah adalah relawan. Bahkan mau menjadi relawan karena dawuh guru atau kiai, ibu nyai. Ini sangat luar biasa” jelas teh Deri.

Tiba-tiba saja ada salah satu peserta yang menangis. Dan seketika diminta menjelaskan oleh teh Deri.

“Dulu, waktu saya masih pelajar, merasa nggak suka bahkan benci sama mbak-mbak pengurus dan musyrifah.  Katanya jadi mereka itu berat. Tapi, setelah sekarang merasakan jadi pengurus, ternyata lebih berat dari yang mereka ceritakan” ujar peserta itu.

Suasana acara berubah-ubah. Seketika ceria, seketika menyedihkan. Namun, sepanjang acara berjalan dengan lancar. Acara ini seakan-akan menjadi detox untuk para pengurus dan musyrifah. Dalam penjelasan kedua narasumber, banyak penjelasan secara psikologi dalam menjelaskan bagaimana cara menjadi seorang pengurus dan musyrifah yang baik. Bagaimana cara menghadapi santri yang banyak berulah, dan sebagainya.

Acara selesai pada pukul 12.20 WIB, ditutup dengan saling bermaafan dan foto bersama.

Oleh Qo2m

Nama lengkap Istiqomah, akrab dipanggil Qoqom. Santriwati komplek pusat di Pondok Pesantren An Nur Bantul. Kelulusan MA al Ma’had An Nur tahun 2017. Sibuk menulis. Silaturahmi bisa melalui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *