Kategori
Pojok Santri

Legenda Buletin Senja

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, terbitlah sebuah buletin sastra bernama Senja. Tampilannya sederhana dengan desain layout yang tidak populer. Maklum, bukan diterbitkan oleh lembaga atau komunitas besar yang dipimpin sastrawan terkenal.

Senja terbit mengandalkan mesin printer dan jumlahnya hanya dua puluh exemplar. Paling banyak pernah sampai lima puluh exemplar. Tidak mesti diprint, kadangkala difotocopy. Khusus covernya tetap dicetak seperti sampul buletin atau majalah yang banyak beredar demi mengundang daya tarik pembaca.

Buletin Senja dibagikan secara gratis. Visinya; mendekatkan santri pada karya sastra. Itu saja dasar pemikirannya, tidak muluk-muluk. Senja berada dalam naungan Pondok Pesantren An-Nur, tepatnya dikelola para santri yang mengurus perpustakaan. Maka mayoritas pembacanya adalah santri.

Awalnya dirintis oleh lima santri (tiga santri putra dan dua santri putri) yang membentuk semacam komunitas untuk berkarya bersama. Berharap bisa banyak merangkul santri-santri lain agar turut berkarya. Rasanya sayang, eman-eman kalau tulisan yang bagus tidak disebarkan. Setidaknya dari satu karya, minimal ada satu atau dua kalimat yang menginspirasi.

Buletin Senja memuat karya tulis berupa esai, cerpen dan puisi. Panjang pendek tulisan bebas, tidak ada batasan tertentu. Temanya pun bebas sesuai ide yang terbersit dibenak penulis. Rata-rata dari tulisan yang terkumpul dan lulus seleksi menghasilkan dua puluh empat halaman di Buletin Senja.

Menariknya, terdapat ruang khusus yang memuat karya santri pelajar (jenjang MTs-MA). Namanya Akar Bumi yang dimaksudkan sebagai media pembelajaran. Jelasnya, karya tulis cerpen dan puisi yang dimuat lantas diikuti dengan rubrik Ulasan.

Misalnya Ulasan Cerpen, maka tulisan ini akan menganalisis gaya bercerita dan yang lainnya. Kemudian diberi catatan terkait apa saja yang mestinya perlu dilengkapi atau diperbaiki. Cara ini memungkinkan penulis cerpen dan pembaca secara umum mendapat pemahaman bagaimana menulis yang lebih baik lagi.

Setiap ulasan ditulis dengan santai dan jauh dari kesan menggurui. Para pengulas merasa setara; masih sama-sama dalam proses belajar. Maka beberapa kali pengelola buletin mengundang santri-santri yang karyanya pernah dimuat Buletin Senja untuk berdiskusi.

Masa-masa penuh semangat itu ternyata tidak bertahan lama. Meski sempat beberapa kali terjadi estafet kepengurusan, tetapi memang telah tiba waktunya bagi Senja untuk tutup usia. Buletin Senja berakhir di edisi 21.

Senja menjadi legenda. Ungkapan yang paling tidak memberi sedikit rasa bahagia atas perjalanannya yang singkat. Para perintis dan generasi yang melanjutkannya dapat tersenyum walau sebenarnya berat hati. Legenda sendiri ialah kata yang bisa diartikan “sejarah besar tak terlupakan”.

KH. Aguk Irawan Mn yang pernah mengungkapkannya. Seorang sastrawan yang karyanya dikenal hingga mancanegara. Pada suatu kesempatan berdiskusi dengan teman-teman komunitas Senja. Tak disangka sewaktu ditengah-tengah perbincangan, ia berkata;

“Senja akan menjadi legenda”.

Setiap peristiwa pasti mengandung hikmah. Sekecil apapun itu, sedianya bisa dirasakan manfaatnya. Menikmati karya sastra dan belajar tentangnya menghadirkan ketenangan jiwa. Sebab karya sastra sejatinya mampu menghaluskan perasaan.

Lima santri yang menginisiasi lahirnya Senja tidak lagi sering berjumpa. Kini, masing-masing telah berkeluarga. Bermukim di lokasi yang berbeda-beda. Jaraknya ratusan kilometer jauhnya.

Bekal pengalaman di Senja mengiringi langkah dalam membina rumah tangga. Ada yang menjadi ibu rumah tangga dan tetap menulis. Buah hatinya adalah inspirasi terbesar dalam menghasilkan karya tulis.

Berkat sastra, dirinya cermat mengamati hal-hal kecil sekalipun. Sehingga, tumbuh kembang anaknya disyukuri betul dan ditulis membentuk rangkaian cerita indah.

Lalu ada yang semakin mencintai buku. Bahkan rejeki mengalir lantaran buku. Dulu saat di Senja, setiap yang ingin lancar menulis haruslah gemar banyak membaca buku. Melalui buku, ide cerita mudah didapat.

Sastra memancarkan cahaya kedamaian. Membaca, menulis, melihat dan mendengar karya sastra serasa masuk ke dunia yang diselimuti kebajikan. Amarah diredam, kebohongan disadarkan, kesedihan digembirakan.

Mungkinkah Buletin Senja dapat kembali terbit?. Atau cukup hanya menjadi legenda?. Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Penulis: Muhamad Taufik

.

.

IKUTI OFFICIAL RESMI KAMI:

Facebook – pondok pesantren tahfidz an-nur

Instagram – @annurngrukem

Twitter – @annurngrukem

YouTube – annurngrukem

Oleh M Taufiq

Lahir di Denpasar Bali. Pendidikan MTs hingga Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren An-Nur. Kini bersama keluarga tinggal di Banguntapan Bantul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *