Rabu, November 25, 2020
Beranda Artikel Memahami Pesan Islam tentang Pentingnya Waktu

Memahami Pesan Islam tentang Pentingnya Waktu

Gambar: beritagar,id

Sudah mafhum adanya, bahwa waktu merupakan modal utama bagi kehidupan setiap manusia. Tanpa menyadari tentang betapa pentingnya waktu, manusia dapat lalai dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Sehingga, acapkali berujung pada penyesalan atas waktu yang terlewati dengan sia-sia.

Masing-masing manusia diberi porsi waktu yang sama oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Semua mendapat ‘jatah’ 24 jam sehari, tidak kurang, tidak lebih. Perbedaan hanya terjadi pada sisi pemanfaatannya.

Seorang muslim sejati akan mampu menghargai waktu. Ia  senantiasa mengingat pesan Allah dalam Alquran;

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَا لنَّهَا رَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَا دَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَا دَ شُكُوْرًا

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 62)

Waktu yang dikelola secara baik, tentu dapat membuahkan kebahagiaan. Sebaliknya, waktu yang tidak terkontrol menyebabkan ketiadaan aktivitas positif. Ibarat kata, waktu terbuang percuma.

Allah Subhanahu wa ta’ala menyediakan siang dan malam supaya manusia bisa menyelami hikmah kehidupan. Bentangan waktu yang terbilang panjang setiap harinya mengantarkan manusia untuk berbuat banyak hal dalam kehidupan. Sayangnya, tidak setiap manusia menyadarinya.

Ada beberapa faktor yang mendasari ketidaksadaran diri atas pentingnya menghargai waktu. Namun umumnya disebabkan kurangnya pengetahuan terkait bagaimana mengatur waktu yang baik. Terkadang juga karena kebiasaan menunda-nunda suatu aktifitas.

Setiap yang beriman pasti menginginkan kebaikan untuk dirinya serta orang-orang yang ada didekatnya. Maka alangkah bijaknya jika umat Islam selalu introspeksi atau mawas diri. Kesadaran seperti ini nantinya membawa maslahat yang sangat besar di masa depan.

Selain berpandangan jauh kedepan. Introspeksi juga berpengaruh terhadap perkembangan jasmani dan rohani pada hari ini. Badan menjadi sehat, ketakwaan bisa terus meningkat.

Demi menemukan pencerahan, mari kita simak bersama pesan Islam tentang pentingnya menghargai waktu.

Waktu dalam Islam

Apabila menyelami Alquran, terdapat lebih dari seratus ayat yang menyinggung tentang waktu. Salah satunya dalam surah Al-Furqan, Ayat 62 sebagaimana yang telah tercantum di awal tulisan. Lain dari itu, ada pula surah Yunus, ayat 6 yang berbunyi;

“Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di Bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.”

Sungguh, berkat mengingat pentingnya waktu dapat mengangkat derajat ketakwaan seorang hamba. Waktu adalah kehidupan. Waktu adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk makhluk-Nya.

Ketika seseorang kehabisan waktu, maka bolehlah disebut ‘hidupnya sudah berakhir’. Manusia tidak bisa mengukur kapan kehidupannya akan berakhir. Sebab Allah satu-satunya yang berkuasa menentukan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

قُلْ لَّاۤ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُ ۗ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۗ اِذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa menolak mudarat ataupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Yunus 10: Ayat 49)

Sangat jelas dipahami, jika Allah menerangkan waktu sebagai bagian penting dalam Islam. Waktu tidak tergantikan oleh apapun. Waktu terus bergerak sesuai sunatullah.

Tujuan Adanya Waktu

Proses kehidupan manusia diawali dengan kelahirannya di dunia. Melalui masa kecil (balita), anak-anak hingga beranjak dewasa. Lalu sedikit demi sedikit menua, sampai akhirnya meninggal dunia. Kemudian mempertanggung jawabkan perbuatannya selama di dunia kepada Sang Pencipta. Sebagaimana firman-Nya;

وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَا لْمُؤْمِنُوْنَ ۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ۚ 

Dan katakanlah, Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 105)

Apakah mungkin manusia bisa hidup abadi di dunia? Pertanyaan yang terkesan berlebihan ini berulangkali muncul di layar kaca kita. Layaknya noda kecil, pertanyaan tidak penting ini layak diacuhkan. Hanya saja jika terus tampak (terdengar), lama kelamaan membuat risih.

Jawabannya sederhana; manusia tidak akan pernah bisa abadi. Cuma Allah Subhanahu wa ta’ala yang abadi. Andaikata manusia ingin hidup abadi, tentu didasari nafsu sesat untuk menguasai dunia. Ini fakta manusia yang diliputi keangkuhan.

Waktu dihadirkan guna memenuhi kebutuhan manusia yang tentunya dibatasi. Usia atau umur manusia merupakan pertanda batasan waktu manusia. Artinya, manusia mengikuti jalan takdirnya atas kehendak Allah.

Bersyukur Atas Nikmat Waktu

Kemarin adalah kenangan, esok adalah harapan, sekarang adalah kenyataan. Hari kemarin tidak bisa terulang lagi. Apapun yang dilakukan, salah atau benar, semuanya telah terjadi. Kita hanya bisa mengenangnya atau boleh pula melupakannya.

Hari esok belum tentu terwujud. Mungkin saja waktu kita tak sampai. Sehingga betul dikatakan kalau manusia hanya mampu berencana, namun Allah jua yang memutuskannya. Berhati-hatilah membuat rencana. Jangan sampai berharap terlampau jauh.

Kondisi tersebut patut direnungkan sedalam-dalamnya. Langkah positif yang sangat baik dilakukan ialah dengan bersikap menghargai waktu. Seolah-olah hari ini merupakan hari terakhir yang bisa dinikmati. Maka setiap detiknya dijalani penuh syukur sebagai hamba yang mengharapkan ridho Allah.

Ketika seorang hamba bersyukur atas nikmat waktu yang diterimanya, insyaallah nikmat itu akan terus ditambah. Demikian balasan Allah terhadap hamba-Nya yang selalu bersyukur. Wallahu a’lam. (Taufik)

.

.

IKUTI OFFICIAL RESMI KAMI:

Facebook – pondok pesantren tahfidz an-nur

Instagram – @annurngrukem

Twitter – @annurngrukem

YouTube – annurngrukem

M Taufiq
M Taufiq
Lahir di Denpasar Bali. Pendidikan MTs hingga Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren An-Nur. Kini bersama keluarga tinggal di Banguntapan Bantul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Memilih untuk Kembali

Dari pesantren aku belajar, untuk pesantren aku mengajar.Sungguh, betapa banyaknya pengalaman indah di pesantren. Sebuah tempat istimewa bagi para penuntut ilmu. Setiap...

Pelaksanaan Fortasi An Nur Putri

www.annurngrukem.com - Minggu (8/11), santri baru putri Pondok Pesantren An Nur mengikuti acara Forum Taaruf Santri (FORTASI). Kegiatan FORTASI yang diadakan pada...

Penundaan Kedatangan Santri Tahap 7 dan Lockdown Internal Pesantren

www.annurngrukem.com - Tim Satgas Pondok Pesantren An Nur melakukan penundaan kedatangan santri tahap 7, yang telah direncanakan akan dilakukan pada 18 November...

Orang-orang yang Tertipu Oleh Allah

"Saya rasa memang sudah sewajarnya guru yang melecehkan Nabi Muhammad SAW itu dibunuh. Orang seperti itu sudah jelas halal darahnya!" kata Kang...

Recent Comments

error: Content is protected !!