Jumat, April 23, 2021
No menu items!
Beranda Pojok Santri Pojok Santri#1 (Pesan Kiai dalam Refleksi Satu Tahun Kepengurusan)

Pojok Santri#1 (Pesan Kiai dalam Refleksi Satu Tahun Kepengurusan)

Gemuruh suasana siang itu, di Pesantren An Nur, menutupi kegelisan pengurus dalam menjalani refleksi kepengurusan atau koreksi kinerja pengurus pondok pesantren dalam waktu satu tahun.

Bisik seorang santri di telingaku mengatakan, “Sssttt, pak yai arep ngendiko, menengo!”. ‘Dukdukduk’ suara mikrofon diketuk dengan jari. Seketika gemuruh seperti suasana pasar itu menjadi hening, seperti tak ada orang di aula itu.

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Anak-anakku yang aku cintai” sambut hangat Bapak KH. Muslim Nawawi mengawali pembicaraan menyapa para pengurus. Suara serentak menjawab salam itu dengan nada lembut dan penuh keta’dhiman seorang santri kepada Sang Guru.

Pak Kiai melanjutkan pembicaraan sambil menatap seluruh yang hadir dengan rasa peduli dan kasih sayang, “Hari ini, saya mau berbicara sedikit saja tentang pengurus, bahwa sesungguhnya saya ini juga pengurus di pesantren ini”.

Seketika tatapan seluruh pengurus menunduk dengan kebingungan karena mereka menganggap Pak Kiai itu adalah Pengasuh Pondok Pesantren An Nur yang memiliki kewenangan penuh di atas pengurus terhadap segala keputusan di pesantren.

“Yaa Allah” gumam seorang pengurus dengan suara lirih di sebelahku yang kagum dengan kerendahan hati beliau. Sambil agak menundukkan duduknya, Pak Kiai melanjutkan sambutan, “Saya ini tidak punya berkah, bahwa yang punya berkah itu Simbah Nawawi (pendiri Pondok Pesantren An Nur). Makanya, ayo kita bersama-sama mencari berkahnya beliau agar ilmu di pesantren ini agar bermanfaat”.

Seketika para santri semakin menundukkan kepala merasa malu dengan senioritas yang selama ini melekat pada jiwa kepengurusannya. Dalam kepengurusan pesantren biasanya dipilih yang lebih tua untuk mengurusi adik-adiknya mengaji dan belajar di pondok pesantren. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa yang lebih tua lebih berpengalaman.

“Untuk menjadi ‘alim cukup dengan ta’lim, tapi untuk menjadi berkah harus dengan khidmah”.

Suara tegas itu mengheningkan suasana aula di Pesantren An Nur. Semua pengurus yang ada di aula itu pun memperhatikan dengan khidmah pesan-pesan yang disampaikan oleh Pak Kiai.

“Jangan sesekali mencari amanah, tapi kalo ada amanah datang, jangan sesekali mencoba lari”. Pak Kiai melanjutkan dengan suara yang lebih tegas dan penuh dengan tatapan kepeduliannya terhadap pengurus. Suara angin yang hanya bisa didengar mengisi suasana aula lantai tiga yang atapnya terbuka bebas di bagian belakang.

Beberapa pengurus sesekali menganggukkan kepala, tanda paham dan berniat patuh terhadap nasihat yang disampaikan. Tidak ada sedikit pun keraguan di benak pengurus untuk berkhusnudzan bahwa yang disampaikan Pak Kiai pasti menjadi yang terbaik bagi kinerja kepengurusan.

“Jadikan amanahmu sebagai bagian dari khidmahmu untuk menjadi berkah di setiap ilmumu”.

Nasihat itu membuat pengurus menghela napas lega karena menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat mengabdi atau berkhidmah kepada pesantren dalam melanjutkan perjuangan mengaji para santri, sesuai dengan wasiat Simbah KH. Nawawi yaitu ‘kabeh santri kudu ngaji, nek ora ngaji mulang, nek ora mulang yo ngaji’ yang artinya semua santri harus mengaji, kalau tidak mengaji ya mengajar kalau tidak mengajar ya mengaji.

Penggalan nasihat itulah yang dimaknai santri bahwa semuanya yang mondok di Pesantren An Nur harus mengaji dan mengajar, yang mana keduanya adalah inti dari kegiatan belajar mengajar atau mengaji.

Kemudian hadirnya pengurus adalah untuk membantu merealisasikan wasiat tersebut dengan memberikan fasilitas seperti pengaturan kelas dan juga sebagai ‘pelaksana’ untuk terlaksananya kegiatan mengaji dan mengajar atau kegiatan belajar mengajar, karena banyak dari beberapa pengurus yang kebetulan diberi amanah untuk mengampu dalam pembelajaran santri.

Selain itu, peran pengurus yang paling inti adalah sebagai ‘uswatun khasanah’ atau teladan bagi adik-adiknya. Sembari mengangkat tangan Pak Kiai melanjutkan dengan doa yang seketika diikuti oleh seluruh yang hadir di aula Pesantren An Nur.

_________________________

Penulis: Ahmad Hilmy Haidar Romzi

Asal: Santri An Nur dari Magelang

Avatar
annurngrukem
Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Lomba Cerpen 3: RUBERROSIS

Atmosfer langit mulai mendingin. Arakan awan gelap saling nomaden dengan begitu kentara oleh netra. Beberapa santri putri mulai memacu langkah demi menyelamatkan...

Lomba Esai 3: KEISTIMEWAAN SALAT TARAWIH

www.annurngrukem.com - Tarawih , apakah Tarawih  itu? Bagaimana sejarah salat Tarawih ? Dan apa yang istimewa dari ibadah tersebut? Padahal salat Tarawih...

Kewajiban Wanita Mempelajari Hukum Haid, Nifas, dan Istihadah

www.annurngrukem.com - Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap manusia, seperti sabda Rasulullah Saw dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Sunannya yaitu:

Ramadhan di Komplek Attariq

“Ramadhan tiba, Ramadhan tiba. Tiba-tiba Ramadhan, tiba-tiba Ramadhan”. Mungkin lagu itu sangat cocok teruntuk jiwa yang sudah rindu akan temunya sesuatu yang selama ini...

Recent Comments

Rini Dwi Hastuti on Pojok Santri#6 (Pelayan Surga)
Muhammad Rofiq Aulawi on Masih Manusiakah Kita?
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Cinta Raisa #3
fuad Rosyid on Kegiatan Harian
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
👋 Hai, ada yang bisa saya bantu??