Selasa, Juli 27, 2021
No menu items!
Beranda Pojok Santri Pojok Santri#2 (Karena Semesta Adalah Guru)

Pojok Santri#2 (Karena Semesta Adalah Guru)

“Ulin.. sakit.. tolong Mamak .. tolong Mamak… sakit..,” kata Mak’e mencoba menahan sakitnya yang luar biasa.

Mendengar rintihannya, tubuh saya bergetar hebat. Mata saya begitu pedih. Hati saya begitu ngilu. Ingin rasanya menitikkan air mata. Tapi tak mungkin. Saya tak mungkin menangis di ruangan itu. Apalagi di depan beliau. Saya harus tegar dan kuat. Karena untuk men-support orang yang sedang lemah kita sendiri harus kuat, paling tidak terlihat kuat.

Dengan segenap ketakutan, kepanikan bercampur kesedihan saya berjalan terburu-buru ke ruang perawat. Saya sampaikan kondisi Mak’e yang terus merintih tak kuat menahan sakitnya. Tapi sayang, saya hanya mendapat jawaban yang mengecewakan.

“Sebentar ya, Mas. Jika administrasi sudah selesai, dokter akan datang.”

Saya terdiam sejenak. Lalu berpikir. Menunggu Bapak mengurus administrasi tentu bukanlah waktu yang sebentar. Apalagi ini rumah sakit propinsi. Belum lagi ditambah kami masuk rumah sakit menggunakan jalur BPJS. Tak terbayangkan Bapak harus berjubel mengantri bersama puluhan-puluhan orang  lainnya untuk mengurus berkas administrasi. Harus berapa lama lagi Mak’e menunggu?

Akhirnya saya putuskan apa yang disampaikan perawat tadi saya sampaikan ke Mak’e. Namun Mak’e tak peduli. Beliau tetap saja merintih dan mengeluarkan air mata pesakitan. Hal itu Membuat saya tak kuat menyaksikan penderitaan Mak’e. Saya tetap menunggu di sampingnya sembari sesekali menguatkan.

“Sabar nggih, Mak..” ucap saya begitu lirih. Seharusnya  tak pantas sekali saya mengucapkan kalimat itu. Seolah saya paham apa yang dirasakan. Rasanya berdosa sekali. Selang beberapa menit saya putuskan kembali lagi ke ruang perawat. Namun, jawabannya masih sama. Dan lagi-lagi membuat saya terdiam begitu lama di lorong kamar.

Mendengar jawaban kedua kalinya tubuh saya lemas. Kekuatan saya luntur. Air mata tak dapat saya bendung. Saya tak berani masuk. Tak kuat. Dan tak ingin mengecewakan. Hingga seorang kerabat pasien lain menjemput saya dan menyuruh kembali.

Kejadian 2 tahun lalu itu membuat luka yang cukup dalam bagi saya. Selepas kepergian Mak’e ingatan-ingatan itu sering muncul. Rintihan pesakitan Mak’e sering terdengar manakala saya pergi ke rumah sakit. Membuat saya trauma hingga menimbukan kebencian tersendiri pada rumah sakit.  Tapi, semakin saya membenci, semakin saya sering harus ke rumah sakit. Entah karena saya sakit, atau karena mengantar kawan-kawan saya yang sakit. Dan tak mungkin saya menolak jika dimintai tolong.

“Sudahlah ikhlaskan jangan disimpan terus,” kata kawan saya ketika saya menceritakan trauma yang saya alami.

Saya tak tahu apa yang saya ikhlaskan. Kepergian Mak’e tentu saya sudah mengikhlaskannya. Tapi entah kenapa ingatan-ingatan itu sering kembali. Saya sendiri tak pernah benar-benar paham dalam praktiknya  apa itu ikhlas. Sedari kecil saya selalu diajari berbuat baik untuk mendapat pahala, bersedekah agar rezeki berlipat ganda, dan salat agar masuk surga. Apa seperti itu juga bisa dibilang ikhlas? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Entahlah.

Yang jelas penderitaan telah mengubah hidup saya.  Saya yang  tak pernah peduli dengan orang kini saya merasa lebih peduli. Hati saya lebih hidup. Lebih simpati terhadap orang lain. Setidaknya pada orang yang sakit. Hidup saya setidaknya saya rasakan lebih berkualitas meskipun masih ada sisa-sisa kepedihan.

Trauma tak membuat saya takut. Saya salalu mencoba berdamai dengan membantu orang lain sebisa saya. Dan melakukan apa yang perlu dilakukan entah ikhlas atau tidak. Meskipun harus dengan membuka ingatan dan luka-luka lama. Karena saya rasa membantu orang lain tak perlu ikhlas. Ikhlas akan datang dengan sendirinya. Dan kita tak perlu menunggu.

Bulan lalu, 25 November adalah hari guru. Saya rasa guru bukan hanya seseorang yang digugu dan ditiru. Bagi saya, guru adalah siapa pun dan apa pun yang mengajari kita. Kejadian menyedihkan itu  banyak mengajari saya tentang memahami orang lain. Banyak pesan tersirat yang kadang butuh waktu yang panjang untuk memahaminya. Kita bisa belajar dari manapun. Pengalaman  baik maupun buruk, jika kita mampu belajar darinya ia adalah guru kita. Karena semesta adalah guru. Dan saya ucapkan selamat hari guru, dan terima kasih kepada semesta yang tak lelah mendidik murid-muridnya.

ulinnuha
Santri Pondok Pesantren An Nur Bantul. Hobi membaca, menulis, dan menyapu halaman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Semangat Santri Attariq di Hari Raya Kurban

www.annurngrukem.com - Setelah adanya himbauan dari pemerintah terkait adanya kebijakan PPKM Darurat, berdampak pula dengan perayaan Idul Adha 1442 H tahun ini....

Meriah: Idul Adha Kali Ini Sembelih 28 Hewan Kurban

www.annurngrukem.com - Dalam setiap agama pasti memiliki hari di mana hari tersebut diistimewakan setiap tahunnya. Agama Islam, misalnya, terdapat dua hari raya...

Rahmatang: Peserta Tes 30 Juz Kedua

www.annurngrukem.com - Ahad (18/7), Rahmatang menjadi peserta kedua tes 30 juz bilhifdzi, setelah Humaira Nur yang telah melaksanakan tes pada bulan April...

Menggapai Takwa

www.annurngrukem.com - Perbedaan sudut pandang sering menyebabkan pertengkaran bagi manusia. Contohnya perbedaan beragama. Selain itu, adanya tingkatan kasta menyebabkan golongan-golongan yang tidak...

Recent Comments

Rini Dwi Hastuti on Pojok Santri#6 (Pelayan Surga)
Muhammad Rofiq Aulawi on Masih Manusiakah Kita?
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Cinta Raisa #3
fuad Rosyid on Kegiatan Harian
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
error: Ups, tidak boleh main copy paste ya! Izin dulu sama Admin annurngrukem.com, donk..!
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
👋 Hai, ada yang bisa saya bantu??