Kategori
Lomba

Lomba Esai 2: TIDUR SAAT BULAN RAMADHAN TIDAK BERPAHALA!!!

www.annurngrukem.com – Tanpa terasa, kita telah sampai di penghujung bulan Syakban yang menandakan tinggal hitungan jari kita akan menyambut bulan yang mulia yakni bulan suci Ramadan bulan yang penuh berkah rahmat dan ampunan, Tapi ada riwayat yang masyhur di kalangan masyarakat ketika memasuki bulan suci Ramadan: ‘’TIDURNYA ORANG YANG BERPUASA ITU IBADAH’’

Sehingga sebagian orang memahami bulan ini adalah bulan naum (tidur ),Merubah huruf shad dengan mim, dari shaum menjadi naum, Ramadan bulannya puasa, menjadi Ramadan bulannya tidur (Salah satu penyampaian K.H Muslim Nawawi, Saat memberiakan mauizah pada acara membukaan kegiatan Ramadan di Pondok Pesantren An-Nur,Bantul Yokyakarta, Senin 5 April 2021 pukul 20.30 WIB).

Sebenarnya benarkah riwayat tersebut, bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah? Sehingga sebagian dari kita berlomba-lomba mengamalkan riwayat tersebut. Ibadah sendiri mempunyai arti, benar-benar patuh dan tunduk kepada Rasulullah baik berupa perbuatan, menaati atau meninggalkan perkara-perkara yang telah ditetapakan oleh Allah.

Dari sebab itulah apa dalil yang mendasari bahwa tidurnya orang yang bepuasa adalah ibadah.? Dalam hal ini ada hadis yang sering disampaikan saat bulan Ramadan.

Berikut redaksi hadisnya :

نومُ الصائمِ عبادةٌ وصمتُه تسبيحٌ وعملُه مُضاعفٌ ودُعاؤهُ مُستجابٌ وذَنبُه مَغفُورٌ’’’’

‘’Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalannya dilipat gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.”

Meskipun popular di tengah- tengah masyarakat, tapi bagaimana sebenarnya status hadis ini? Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Baihaqi  dalam kitabnya Syu’ab Al-iman. Dan Imam Suyuti dalam kitabnya “Jami’ Al-Sahaghir” , yang keduanya menilai hadis ini adalah hadis dhaif jiddan (sangat lemah).

Dalam rangkaian sanad hadis ini terdapat perawi Sulaiman Amr Al-Nakha’i. menurut para ulama kritikus hadis seperti Imam Ahmad bin hambal, Ibnu hibban, imam Hakim dan mayoritas ulama lainnya berpendapat bahwa Sulaiman bin Amr Al-Nakha’i, adalah seorang perawi yang pendusta bahkan tertuduh pemalsu hadis. Termasuk imam Bukhari juga menilai Sulaiman bin Amr Al-Nakha’i adalah perawi yang hadisya Matruk (semi palsu, tertuduh sebagai pendusta).

Dalam disiplin ilmu hadis, jika terdapat perawi yang tertuduh dusta atau pendusta, hadisya menjadi hadis Matruk (tertolak ) bahkan Maudhu’ (palsu ), yang tidak bersumber dari Rasulullah SAW. Sehingga tidak bisa digunakan sebagai dalil penguat suatu amalan dan adanya larangan meriwayatkan hadis palsu atau berdusta atas nama Nabi SAW.

Sedangkan  dari segi matannya bertentangan dengan spirit bulan Ramadan yang bertujuan untuk memperbanyak amal saleh dan bulan yang penuh berkah. Bagaimana bisa memperoleh pahala di bulan yang berkah jika sepanjang hari saat puasa hanya dihabiskan untuk tidur? Jadi, tidurnya orang yang puasa bukan ibadah terlebih jika tidur dilakukan dengan tujuan bermalas-malasan saat bulan puasa.

Tapi bisa saja tidur itu bernilai pahala, karna dengan bagusnya niat tidur tersebut, misalnya tidur diniatkan untuk istirahat agar tubuh kembali bugar sehingga semangat untuk melakukan ibadah-ibadah yang lain saat bulan puasa, atau pun tidurnya diniatkan untuk menghindari maksiat seperti gibah, gunjing, hasud, dengki, dan lain-lain.

Walhasil, tidurnya orang yang puasa tidak berpahala, adapun nilai pahala yang diperoleh adalah pahala puasa bukan pahala tidur, karena tidur dilakukan saat berpuasa.tetapi alangkah baiknya mengganti kebiasaan bermalas-malasan saat bulan puasa (tidur) dengan melakukan amal saleh dan berlomba-lomba dalam kebaikan (Fastabiqul Khairot  seperti memperbanyak membaca  Al-Qur’an, dzikir, sholawat dan amal-amal saleh lainnya.

Karena Ramadan adalah momentum untuk kita  mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seperti moto kegiatan “Ramadan Fill Ma’had” di Pondok Pesantren An-Nur tahun ini, ‘’RAMADHAN AJANG AKTULISASI DIRI MENGGAPAI RIDHO ILAHI’’ bagaimana kita bisa mengaktualisasi diri dan menggapi rida Ilahi bila Ramadhan berlalu, dan yang tertinggal hanyalah amalan tidur saat puasa He..he..he…

__________________________

Penulis: M.Amirur Rahman.

Komplek: NURUL HUDA .

Oleh annurngrukem

Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *