Esai

Santri dan Pentingnya Literasi Digital

 

Beberapa waktu yang lalu, saya megikuti kegiatan workshop literasi digital yang diadakan salah satu perguruan tinggi Islam di Yogyakarta, acara berlagsung selama beberapa hari dan tentunya sangat menarik, mulai dari penyampaian materi, pembuatan konten hingga sesi evaluasi.

Dari beberapa pemaparan narasumber saya tertarik dengan materi jejak digital, merasa relate dan teringat sebuah kejadian  yang kurang mengenakkan akibat konten yang menjadi jejak digital orang lain yang ternyata berdampak kurang nyaman.

Selanjutnya, beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini di pesantren kami, di mana banyak penyebaran hoaks dan penipuan yang mengatasnamakan beberapa pengasuh bahkan sampai memakan korban. Terlebih saat ini juga memasuki tahun politik dan tentunya banyak sekali bersliweran konten pencitraan, ngawur, buzzer yang merajalela dan tidakk sadar justru banyak yang mendukung bahkan menyebarkan konten tersebut.

Nah, dari banyaknya kasus yang kita hadapi sehari-hari, kita tahu betapa pentingnya seseorang dibekali literasi digital, dengan harapan dapat memiliki kesadaran menggunakan dan mengelola teknologi dengan bijak agar kedepannya mendatangkan manfaat dan kebaikan.

So, apasih literasi digital itu? literasi digital menurut buku karya Devri Suhendri adalah pengetahuan serta kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital, seperti alat komunikasi dan lain sebagainya. Selanjutnya menurut Paul Gilster, literasi digital adalah kemampuan yang diperlukan individu era modern untuk menyaring informasi, juga agar dapat menggunakan teknologi dengan tepat.

Literasi digital memiliki empat pilar, yakni digital skills atau memahami cara kerja gadget dengan baik. Kedua, digital etnics atau mengedepankan etika dan berpikir rasional dalam beradaptasi di dunia digital, selanjutnya digital culture yakni bagaimana seseorang mampu berinteraksi di ruang digital dengan memegang prinsip kebangsaan dan Pancasila. Terakhir digital safety atau meningkatkan kesadaran pentingnya melindungi data pribadi di internet. Jadi literasi digital tidak hanya sekedar membaca, namun sebuah upaya untuk memahami, memanfaatkan, maupun menyebarluaskan teknologi digital.

READ  Senjakala, Pengalaman Bertemu Makhluk Tak Kasat Mata

Mungkin beberapa bertanya dari mana kita dapat belajar literasi digital, terdapat beberapa cara, seperti mengikuti kegiatan workshop atau seminar literasi digital, webinar, membaca buku-buku literasi digital, diskusi ataupun belajar lewat internet maupun media sosial.

Dan dari sebuah usaha belajar literasi digital, kedepannya dapat mewujudkan pemahaman yang kuat mengenai teknologi digital, serta masyarakat dapat lebih waspada terhadap upaya manipulasi dan penyebaran informasi palsu (hoaks) yang dapat merugikan keamanan nasional, karena teknologi adalah kekuatan.

Terlebih, literasi digital penting bagi santri yang notabenenya memiliki akses media digital salah satunya seperti smartphone yang terbatas, dan memang dibatasi. Agar ketika ada kelonggaran, misalnya pada saat memasuki waktu liburan yang tentunya bebas mengakses kita tidak terserang kaget-an, nggumunan dan dapat bijak menggunakan media digital.

Dalam konteks santri dan pesantren, literasi digital sangat diperlukan karena santri Insya Allah sudah memiliki landasan keagamaan yang kuat, sanad keilmuan yang jelas, dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir yang kritis, kreatif, dan inovatif. Oleh sebab itu, diharapkan kedepannya dapat menjadi angin segar bagi carut marutnya teknologi dan media digital, dengan mengkonsumi dan memproduksi konten-konten yang toleran dan menyebarkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Maulaminna

Santri Pondok Pesantren An Nur Komplek Khodijah. Suka membaca dan nonton drakor. Ingin lebih kenal bisa kunjungi media sosialnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??