Kategori
Artikel

Cikal Bakal Tasawuf

www.annurngrukem.com – Era setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Islam terpecah menjadi beberapa golongan. Hal ini terjadi ketika masa pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang kala itu masa kekhalifahannya digantikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan.

Pada masa itu, Islam mulai tepecah menjadi beberapa golongan, yaitu: kubu Sayyidina Ali bin Abi Tholib, kubu Muawiyah bin Abu Sofyan, dan golongan yang tidak berada di kedua kubu tersebut. Kendati demikian, fenomena ini lahir dari hadis Nabi SAW yang mengatakan bahwa Islam nanti akan terpecah menjadi 73 golongan.

Dan yang paling benar adalah satu golongan di antara 72 golongan lainnya, yaitu yang menganut paham ahlu sunnah wal jamaah.

Hal ini menyulitkan kita bahwa semua golongan Islam yang hadir di era saat ini mengklaim dirinya sebagai pemeluk ahli sunnah semuanya. Tetapi untuk melihat golongan mana yang memang memeluk paham ahli sunnah yang sesungguhnya dapat diketahui dengan beberapa indikator.

Dengan demikian, golongan Islam lainnya terus menuding dan memojokkan golongan Islam lainnya dengan paham yang sesat, tidak sesuai dengan sunah seperti mereka yang menganut paham tasawuf, memilih tradisi tahlilan, maulidan, dan lain sebagainya.

Berdasarkan latar belakang di atas, seiring perkembangan zaman muncul satu pemahaman tentang tasawuf di kalangan umat Islam. Hal ini menimbulkan pro dan kontra. Ada segolongan umat muslim yang anti tentang penyebutan tasawuf, dengan alasan bahwa tasawuf tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad SAW.

Padahal apa yang diajarkan dalam tasawuf sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu ulama sufi yaitu Zakaria al-Anshori adalah pembahasan soal inti agama dengan cara membersihkan jiwa, akhlak, memurnikan zahir dan batin, memperoleh kebahagiaan yang abadi dengan meramaikan hidup dengan beribadah kepada Allah.

Segolongan umat Islam yang anti soal tasawuf ini mendoktrin golongannya dari mulai seusia dini dengan melabelkan bahwa tasawuf ajaran kesesatan, menyimpang, hingga sampai mengatakan bahwa ulama tasawuf seperti Syeik Abdul Qodir al-Jilani sebagai Auliya Shaithon.

Hal ini dinafikan oleh salah satu ulama ahlu sunnah wal jamaah yaitu K.H. Sholahudin Munsif al-Shidani dalam kitabnya ‘Ilam al-Muhiddin. KH. Sholahudin Munsif yang merupakan salah satu murid dari Abuya Said Muhammad al-Maliki al- Hasani menjelaskan bahwa pada masa Nabi SAW, istilah tasawuf ini dikenal dengan sebutan Tazkiyah, al- ihsan, dan fakhu bathin.

Beliau menjelaskan dalam kitabnya bahwa Allah berfirman dalam surat al-Jum’ah ayat 2:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW, diutus oleh Allah SWT salah satunya yaitu untuk mensucikan mereka. Hal ini menggambarkan bahwa penggunaan redaksi وَيُزَكِّيه yaitu dengan membersihakan jiwa dari sifat jelek, dan bagusi jiwa dari sifat yang baik.

Realisasi ayat ini adalah contoh dari kehidupan sahabat dengan hasil masyarakat yang jujur, adil, pemerintahan yang adil (ideal).

Di sisi lain, K.H. Sholahudin Munsif dalam kitabnya menjelaskan tentang hadis Nabi Muhammad SAW tentang Ihsan. Ihsan merupakan satu metode bentuk keyakinan atau kekhusukan dalam beramal dan berlomba dalam membersihkan jiwa ini.

Ihsan juga mengajarkan bahwa dalam beribadah seorang hamba harusnya bisa melihat Allah, atau merasa kalau seakan-akan Allah melihatnya.

Dari pemaparan di atas, dapat diketehui bahwa ini merupakan dalil yang kuat soal tasawuf yang dianggap oleh segolongan umat muslim lainnya adalah bentuk kesesatan, ternyata pernah dipraktikan pada masa Nabi Muhammad SAW, dan para sahabatnya.

Hanya saja, apa yang ditudingkan oleh segolongan umat islam lainnya ini sebenarnya untuk membenarkan ajaran atau faham yang dianut oleh golongannya saja.

Golongan Islam lainnya mengklaim bahwa tasawuf ini sesat dengan menggunakan narasi yang sangat ekstrim, sehingga pemuda muslim saat ini jika dinisbatkan dengan kalimat sufi merasa malu dan tidak percaya diri.

Padahal esensi dalam tasawuf mengarah pada realisasi ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi tentang Ihsan, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Selain itu, inti dari ajaran tasawuf yang sebenarnya adalah menjadi jembatan mensucikan jiwa agar lebih ma’rifat billah dari ibadah syar’i yang kita lakukan selama ini. Wallahualam.

**Tulisan ini dikutip dalam kitab i’lam al-Muhibbin karya KH. Sholahudin Munshif al-Shidani hal 8-9 yang menjadi kajian di bulan Ramadhan di Pondok pesantren An Nur Ngrukem Komplek Nurul Huda yang diampu oleh guru kami tercinta Agus Muhammad Rumizijat.

Oleh Ibnu Ahmad el-Bantani

Santri Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul. Pecinta orang-orang yang bermoral. Warung literasinya bangkitmedia.com, dan lainnya. Penulis buku the power of mindset (cara berpikir positif ala qurani) Kontak dengannya bisa melalui

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *