Sepotong Kenangan KH. Ashim Nawawi di Hati Santri 4

Cahaya Tawadhu dari Ngrukem
Di antara cahaya keteladanan yang pernah kami saksikan di Ngrukem, kisah tentang Mbah Yai Ashim selalu lekat di hati para santri. Dari keseharian beliau, kami belajar makna keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan dalam mengabdi kepada ilmu.
Beliau pernah bercerita, ketika dalam perjalanan pulang dari sebuah acara, beliau tetap menyempatkan diri untuk muthala‘ah (mengulang pelajaran) demi mengampu kelas.
Agar tidak mengganggu orang lain di perjalanan, beliau melakukannya dengan diam-diam. Tak jarang, kitab yang sedang beliau baca ditutupi dengan majalah atau koran, supaya orang-orang tidak tahu bahwa beliau sedang muthala‘ah. Begitulah keteladanan beliau, selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin tanpa perlu terlihat oleh siapa pun.
Tidak hanya dalam keseharian, semangat beliau dalam mencari ilmu juga tercermin dalam kisah para alumni. Suatu hari, di tengah jadwal beliau yang padat, sekelompok alumni datang menemui Mbah Yai Ashim untuk meminta tambahan jadwal ngaji.
Dengan senang hati beliau mengiyakan permintaan para alumni yang sama-sama haus ilmu seperti gurunya itu. Diceritakan bahwa tambahan waktu ngaji itu berlangsung hingga pukul sebelas malam, waktu yang sudah sangat larut.
Dalam kesempatan itu, para alumni sepakat mengumpulkan bisyaroh untuk beliau. Namun, dengan tegas Mbah Yai menolak dan ngendikan bahwa mengaji tidak ada urusannya dengan perkara dunia. Beliau pun mengembalikan bisyaroh tersebut kepada para alumni. Ketegasan yang lembut itu menunjukkan betapa sucinya niat beliau dalam mengajar semata karena Allah.
Dalam setiap pengajian, nasihat-nasihat beliau selalu sederhana tetapi penuh makna. Saat mengaji Al-Hikam, beliau pernah menyinggung tentang ujian yang diberikan kepada para nabi. “Sekelas nabi saja diberi ujian, jadi berlapang dadalah apabila cobaan itu datang kepada kita. Ingat bahwa kita tidak sendirian.”
Nasehat itu sederhana, tetapi menyentuh hati. Mengingatkan bahwa setiap ujian adalah tanda kasih, bukan hukuman.
Penulis: Nida Rohmi, Alumni Pondok Pesantren An Nur
Idul Fitri tahun 1996
Seusai salat Id di Masjid Manunggal, Bantul, para santri berhalalbihalal dengan para pengasuh dan dzuriyyah. Setelah itu, saya dan beberapa santri lain bersilaturahmi ke tetangga pondok. Seusai Ashar, seorang teman sekampung bersikeras ingin mudik ke Banyuwangi. Sayangnya, keuangan kami tidak mencukupi. Kami sudah mencoba meminjam kepada beberapa teman dan juga pengurus, tetapi hasilnya nihil. Maklum, saat lebaran kebutuhan banyak.
Akhirnya saya, ditemani seorang santri senior, memberanikan diri sowan kepada Gus Ashim.
“Gus, pangapunten menawi dipun parengaken, kulo badhe nyambut arto. Kajengipun badhe mudik dhateng Banyuwangi nitih sepur,” saya matur pelan.
Beliau tersenyum dan menjawab, “Oh, yo. Direwangi ngitung… wong receh-receh.”
Tak lama kemudian, beliau masuk ke dalam rumah dan keluar menenteng sebuah kaleng roti. Ternyata isinya uang receh.
Saya membantu menghitung, dan beliau meminjamkan Rp30.000. (Sebagai perbandingan, tiket kereta Jogja–Banyuwangi waktu itu sekitar Rp10.000-an).
Seusai lebaran di kampung halaman, saya kembali ke pondok dan langsung mengembalikan uang pinjaman tersebut. Namun, Subhanallah… beliau menolaknya sambil berkata lembut, “Rak usah dibalikke, dienggo tambah sangu mondok wae.”
Gus Ashim, dalam kesederhanaannya, tetap memberi dan berbagi. Dari beliau, kami belajar bahwa keikhlasan dan kedermawanan tidak bergantung pada banyaknya harta, melainkan pada kelapangan hati yang senantiasa memberi, bahkan ketika tidak berlebih.
Penulis: Alumni Pondok Pesantren An Nur tahun 2003
Sepenggal Kisah Ngaji
Kurang lebih satu tahun saya mengaji kepada Abah Ashim. Hampir tidak pernah saya duduk di barisan paling depan. Bukan karena apa-apa, saya hanya merasa tidak kuat jika harus berhadapan langsung dan sedekat itu dengan beliau.
Kalau saya berada di barisan paling depan, itu biasanya karena keadaan terdesak, kelas masih sepi, misalnya. Padahal, dengan keadaan beliau yang sudah sepuh dan suara yang semakin lirih, seharusnya memang saya duduk di barisan depan agar lebih mudah menangkap penjelasan beliau.
Suatu ketika, saya berada di baris paling depan. Sepertinya hari itu hati dan pikiran saya sedang benar-benar bersama Abah di mushala itu. Penjelasannya terasa begitu dalam, menyentuh hingga ke relung hati. Hari itu kami mengaji kitab Aswaja. Seingat saya, pembahasannya tentang sifat-sifat Allah.
“Kabeh sing diciptakke Gusti Allah iku ora ono sing sia-sia. Kabeh iku ono manfaate.” tutur beliau.
Sambil tertawa, beliau melanjutkan, “Koyo contone opo? Contone iku ketombe.”
Ketombe? pikir saya.
“Allah nggawe ketombe kuwi yo ono tujuane. Ketombe kuwi ana manfaate, mesti ana. Lha apa coba kira-kira fungsine ketombe?” pancing beliau.
Saya berpikir keras, tetapi tidak juga menemukan manfaat dari ketombe.
Beliau kembali berkata, “Coba bayangno yen ora ana ketombe, mesthi ora ana sing jenenge sampo kanggo ngilangke ketombe. Lantaran saka ketombe kuwi, Gusti Allah paring rezeki marang wong-wong sing nggawe sampo anti ketombe.”
Beliau tertawa. Agak lama saya mencerna penjelasan Abah, lalu ikut tertawa. Benar juga. Tapi, kenapa harus ketombe, Bah? Siapa yang terpikir kalau ketombe bisa punya manfaat? batin saya.
Saya kemudian termenung. Bukankah itu justru inti pelajarannya? Saya kagum bagaimana Abah memberikan contoh dari hal yang sesederhana ketombe. Sepele, tetapi ternyata menyimpan ribuan manfaat bagi kemaslahatan manusia.
Dari beliau, saya belajar bahwa setiap hal, sekecil apa pun, selalu memiliki manfaat asal kita mau mencarinya. Dari beliau juga saya belajar untuk tidak meremehkan sesuatu yang tampak kecil atau sepele. Sesungguhnya, tidak ada yang sia-sia di dunia ini. Allah selalu punya tujuan dalam setiap ciptaan-Nya.
Di balik tawa lugu beliau itu tersimpan keluasan ilmu yang luar biasa. Bah, terima kasih atas ilmu yang engkau berikan. Mungkin raga kita tak akan berjumpa lagi di dunia ini, tetapi namamu akan selalu hidup bersama saya, lewat ilmu yang engkau curahkan.
Semoga ilmu itu tetap menancap di dalam hati saya dan dapat saya amalkan dengan sebaik-baiknya. Selamat jalan, Abah.
Penulis: Mukaromatul Munawwaroh, Santri Pondok Pesantren An Nur Komplek Al Maghfiroh




