Esai

Selalu Ada Hal yang Bisa Disyukuri

www.annurngrukem.com – Setiap malam, seorang laki-laki setengah baya, berkaki pincang, dengan topi berwarna merah jambu yang tak pernah ia cuci dan ia lepaskan itu datang ke rumah saya.

Orang-orang desa sekitar saya memanggilnya dengan panggilan “Lik Parmin”. Lelaki setengah baya itu tak pernah absen datang untuk menumpang tidur di kamar musala depan rumah.

 “Pak kula tilem mriki nggih, “ Katanya sewaktu awal-awal menumpang tidur. Saya tak tahu, mengapa ia lebih suka tidur di kamar musala depan rumah saya daripada tidur di rumahnya. Padahal, rumahnya juga tak terlalu buruk. Dan tak berbeda jauh dengan kamar musala depan rumah saya. Saya menebak, mungkin alasannya karena lebih nyaman, dan tak ada gangguan dari orang lain.

Awalnya bapak ragu untuk mengizinkannya, namun karena kasihan, bapak membolehkannya meski ia tak pernah mau shalat di musala  itu.

Lik Parmin adalah orang yang mengalami gangguan jiwa. Ia memang terlihat normal. Terlihat sehat. Bisa diajak berbicara.  Namun ia sering sekali bicara sendiri, mengomel-ngomel sendiri, kadangkala marah tanpa sebab mengumpat “Asu bajingan kampang!” Mengumpati orang-orang  membuatnya jengkel.

Kalau sedang kumat, saya kadang merasa jengkel dan harus menegurnya karena mengganggu orang tidur di waktu tengah malam. Jika dia ngomel-ngomel sendiri lagi, saya mendatanginya lagi hingga benar-benar diam.

Meski saya sendiri sering jengkel kepadanya karena suka marah-marah sendiri, kadang saya kagum dengan Lik Parmin.

Hampir setiap ia diberi sesuatu, ia selalu mengucapkan matur nuwun. Dan setiap mau makan atau  minum ia akan melakukan ritual khusus. Ia akan menunduk, larut dalam kekhusyukannya lalu mengucapkan doa yang ia sebut dengan mantra.

Maturnuwun gusti, maturnuwun (orang-orang yang sudah memberi) Al-Patekah! “. Ia selalu mengucapkan mantra itu meski ia cuma minum air keran. Dan itu membuat saya malu dan menyadarkan suatu hal dari kejadian yang saya alami.

READ  Apa yang Harus Kita Lakukan Setelah Ramadhan?

***

Beberapa minggu lalu, saya dan saudara-saudara saya mengalami kecelakaan. Gara-gara sebuah mobil, mobil yang kami kendarai menyenggol mobil lain, lalu hilang kendali dan menabrak pagar tembok hingga akhirnya terjun bebas kurang lebih sampai sepuluh meter dari jalan raya.

Mobil yang kami tunggangi rusak parah, tapi untunglah kami selamat dan tak ada korban jiwa. Meski masih diberi keselamatan, saya menyebut hari itu adalah hari yang sial. Kecelakaan itu membuat saya lesu dan lemas.

Entah kenapa hati saya belum bisa menerima dengan apa yang saya alami. Membuat saya protes dengan dengan Tuhan. Saya sudah berdoa, membaca shalawat, bahkan saya juga mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Tapi, kenapa musibah masih menimpa saya?

Namun, ketika melihat Lik Parmin begitu khusyuk membaca mantranya, entah kenapa saya jadi malu dengan diri saya sendiri. Kondisinya terlihat begitu menyedihkan di mata saya, namun ia masih bisa saja bersyukur dengan segala hal yang dimilikinya.

Saya jadi teringat sebuah Puisi Makna Titipan karya WS Rendra:

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan

bahwa mobiku hanya titipan-Nya

bahwa rumahku hanya titipan-Nya

bahwa hartaku hanya titipan-Nya

bahwa putraku hanya titipan-Nya

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?

Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,

aku ingin lebih banyak harta,

ingin lebih banyak mobil,

lebih banyak rumah,

lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:

aku rajin beribadah, maka selayaknya derita menjauh dariku, dan

Nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

 

READ  Meneladani Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW

Saya seharusnya mengucapkan “Alhamdulillah” Sebagai rasa syukur karena masih hidup, selamat, dan masih sehat hingga sekarang. Toh, semua yang hilang hanya titipan.

Bukankah sehat adalah nikmat yang tak ternilai harganya? Di kepala saya jadi terngiang sebuah ayat yang pernah saya hafal.

وَءَاتَىٰكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱلْإِنسَٟنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” [QS. Ibrahim 14:34]

Dengan bersyukur hati saya sebenarnya akan lebih lapang, kuat, dan lebih legawa. Bukan menghadapi musibah dengan protes, dongkol dan bertanya kenapa-kenapa musibah itu bisa terjadi. Namun nyatanya, selama ini ternyata saya hanya mengetahui teorinya, tidak dengan praktiknya.

Seperti Lik Parmin, sebenarnya selalu ada hal yang bisa disyukuri dari diri setiap orang.

Kata Ibu Nyai saya, semua tergantung dari sudut pandang mana kita melihat. Namun sayang, tak semua orang (salah satunya saya) bisa melihat sudut pandang yang bisa di syukuri dari apa yang dimilikinya, meski sebenarnya begitu jelas dan gamblang.

Bersyukur saat  terkena musibah memang bukan hal mudah dan  perlu latihan. Jika belum bisa dengan hati, cukup dengan lisan. Dan mungkin saya juga perlu membiasakan lisan saya mengucapkan syukur.

Toh, dibalik setiap kejadian atau musibah yang kita alami pasti selalu ada hikmahnya. Dan rela menerima ketetapan Allah dapat mengubah musibah, bencana menjadi karunia. Maturnuwun Gusti.

Muhammad Ulinnuha

Santri Pondok Pesantren An Nur Bantul. Hobi membaca, menulis, dan menyapu halaman.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??