Esai

Haruskah Ramadhan Disambut dengan Bahagia?

Menjelang bulan Ramadhan, sering kali terdengar bahwa kita dianjurkan menyambut bulan yang mulia ini dengan perasaan bahagia dan sukacita. Hal ini sesuai dengan hadits yang riwayatnya ditemukan di kitab Durrat An-Nasihin, “Barang siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.” Walaupun hadis ini dinilai dha’if bahkan maudhu (palsu), tetapi hal ini tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk menyambut bulan mulia ini.

Sebenarnya terdapat hadis sahih yang lebih tepat dijadikan dalil untuk menyambut Ramadhan, hadis tersebut berisi tentang keutamaan Ramadhan yang mana ini menjadi kabar gembira bagi setiap orang muslim sehingga kita perlu menyambutnya dengan bahagia. Ada pun hadis tersebut merupakan hadis riwayat An Nasa’I yang berbunyi, “Telah datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan puasa bagi kamu di bulan itu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang tidak mendapatkan kebaikannya, maka sungguh ia tidak mendapatkan kebaikan.” (Derajat Hadis tentang Menyambut Ramadhan dengan Gembira, rep: Muhyiddin/red: Muhammad Hafil)

Masyarakat di Indonesia sendiri sepertinya selalu bahagia dengan datangnya bulan Ramadhan, hal ini terlihat dari tradisi dan antusiasme masyarakat ketika bulan ini akan datang. Ketika menjelang satu Ramadhan, terlihat suasana yang khas; orang-orang sibuk membersihkan mushala atau masjid dan lingkungan kampungnya—karpet-karpet dijemur, pagar-pagar dicat kembali, dekorasi khas ramadhan dan lampu kerlap-kerlip dipasangi, rumput-rumput liar dicabuti dan masih banyak lagi. Tak lupa tiap dusun atau bahkan tiap musala biasanya memasang banner atau spanduk bertuliskan, “Marhaban Ya Ramadhan”, “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Tahun 1445 H”, atau “Ramadhan Kareem Mubarak” dan lain sebagainya. Hal-hal seperti itu tampaknya sudah menjadi kebiasaan baik orang-orang Indonesia tiap tahunnya.

READ  Puasa di Hari Pertama Ramadhan

Selain itu, banyak sekali tradisi-tradisi khas yang hanya dilakukan ketika bulan Ramadhan. Misalnya seperti ziarah kubur (nyadran), padusan atau mandi di sungai sebagai symbol membersihkan diri sebelum memasuki bulan ramadhan, makan bersama yang tiap daerahnya memiliki sebutan tersendiri seperti munggahan, megibun, meugang, malamang dan lain sebagainya. Antusiasme masyarakat dalam melakukan tradisi tersebut tentu bukan sekadar menjadi suatu kekhasan Ramadhan, tetapi juga membawa dampak positif yaitu meningkatan rasa persaudaraan dan kekeluargaan masyarakat.

Rasa bahagia dan antusiasme dalam menyambut bulan Ramadhan tentu merupakan suatu hal yang positif, tetapi penulis menemukan hal yang berbeda mengenai penyambutan bulan Ramadhan ini. Dalam buku “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya” karya Rusdi Mathari  terdapat satu kisah yang seolah-olah ‘menentang’ menyambut bulan Ramadhan dengan perasaan bahagia.

Sekilas mengenai buku “Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya” awalnya naskah-naskah dalam buku ini merupakan kisah serial Ramadhan yang dimuat di situs web Mojok.co pada tahun 2015 dan 2016. Naskah-naskah tersebut ketika dikumpulkan menjadi satu buku membuahkan tiga puluh artikel, yang kemudian tiga puluh artikel tersebut dibagi menjadi dua bab, yaitu Ramadhan Pertama dan Ramadhan Kedua.

Buku dengan judul kecil “Kisah Sufi dari Madura” ini mengisahkan keseharian tokoh utamanya yang bernama Cak Dlahom yang dianggap kurang waras oleh orang-orang di kampungnya. Cak Dlahom sering kali menjadi penyulut perbincangan mengenai substansi ibadah—yang lebih mengarah pada ranah tasawuf—yang sedang dilakukan orang-orang kampungnya. Salah satu contohnya adalah kisah yang sempat penulis singgung tadi. Kisah tersebut memiliki judul ‘Benarkah Kamu Merindukan Ramadhan?’ Kisah tersebut menjadi sajian pertama pembaca ketika buku ini akan dinikmati.

Dalam kisah tersebut, diilustrasikan bahwa orang-orang kampung sedang sibuk bergotong-royong membersihkan masjid, baik dari kalangan orang tua hingga anak-anak. Berbeda dengan yang lain, Cak Dlahom malah sibuk sendiri membaca spanduk yang bertuliskan “Selamat Datang Ramadhan Kami Rindu Padamu” berulang-ulang dengan suara yang agak keras. Melihat tingkah Cak Dlahom sontak anak-anak mentertawakannya.

READ  Nadzom Fiqih: Kitab Fasholatan Bahasa Jawa Pegon yang Mudah Dipahami

Mat Piti, seseorang yang memandang istimewa Cak Dlahom kemudian menghampiri, sebab ingin tahu, ada sesuatu apa yang menyebabkan Cak Dlahom melakukan hal aneh itu. Maka, terjadilah percakapan antar keduanya. Di sana, cak Dlahom bertanya mengenai spanduk yang dipasang anak-anak masjid. Setelah dijawab Mat Piti, ia kembali bertanya, “Apakah benar kamu merindukan Ramadhan?” “Apakah kamu senang berpuasa?” Dari pertanyaan itulah ‘pertentangan’ yang disinggung penulis sebelumnya muncul.

Dari pertanyaan tersebut, kita diajak berpikir dan jujur kepada hati kecil kita masing-masing. Apakah benar kita merindukan bulan mulia ini? Apakah kita benar-benar menyukai puasa, yang menjadi inti ibadah dari bulan mulia ini? Menurut Cak Dlahom, kewajiban diturunkan oleh Allah karena manusia tidak suka melakukannya, jika manusia menyukainya, untuk apa diwajibkan? Sesuatu yang dilakukan dengan senang hati bukanlah sesuatu yang hebat bahkan biasa saja. Apakah Allah SWT hanya akan mewajibkan hal-hal biasa itu?

Cak Dlahom kemudian menanyakan hal-hal lain yang serupa, apakah kita menyukai shalat yang wajib didirikan lima kali sehari? Apakah shalat tarawih yang hanya ada di bulan mulia ini, kita dengan senang hati mengerjakannya? Jika ditelisik ke dalam hati kita masing-masing, tentu saja kita keberatan. Buktinya, barisan shaf shalat tarawih selalu berkurang seiring bertambahnya hari di bulan Ramadhan. Lalu, kata cak Dlahom, kenapa kita harus pura-pura merindukannya? Kenapa kita menyambutnya dengan meriah jika kita sebenarnya ‘keberatan’ akan kedatangannya?

Jawaban Mat Piti atas pertanyaan Cak Dlahom tersebut cukup mewakili keadaan hari ini. Kata Mat Piti, “Ya gimana lagi, Cak, setiap tahunnya memang begitu.” Tanpa sadar, apa yang kita lakukan selama ini hanyalah sebuah kebiasaan. Sebuah kebiasaan yang mengeruhkan pandangan hati kita mengenai hakikat puasa yang sesungguhnya. Sebuah kebiasaan yang kemudian menghijabi perasaan spiritual sesungguhnya yang seharusnya ada ketika Ramadhan tiba. Lalu, sikap seperti apakah yang harus kita lakukan? Apakah kita harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun?

READ  Pesantren dan Tanggung Jawab Masalah Sampah

Jawab Cak Dlahom, “Itulah masalahmu. Mestinya kamu berterus terang pada Allah bahwa kamu tidak suka salat dan tidak suka puasa, tapi kamu siap dan ikhlas melakukan sesuatu kamu tidak suka itu sehingga derajatmu tinggi di hadapan Allah. Kalau kamu suka, ya tidak tinggi derajatmu Mat.” Maka tak heran jika ada seorang Kyai mengawali bulan Ramadhan dengan kata-kata ‘niat ingsun molo awak’ (saya niat menyakiti badan) untuk melakukan ibadah di bulan mulia ini. Karena sejatinya ibadah merupakan sesuatu yang berat dilakukan dan bertentangan dengan nafsu yang ada di dalam diri kita. Tak ada ibadah yang disenangi manusia, sehingga derajat seseorang akan tinggi di sisi Allah SWT ketika kita memaksakannya. Karena merupakan hal biasa ketika seseorang melakukan sesuatu yang pada dasarnya disukainya, begitu kata Mat Piti menanggapi pertanyaan Cak Dlahom.

Pada intinya, kita tidak perlu meninggalkan dan menghapus kebiasaan-kebiasaan yang ada, hanya saja ada sesuatu yang harus kita sadari dibalik bulan Ramadhan beserta penyambutan-penyambutan yang kita berikan. Bahwa sambutan kita kepada bulan Ramadhan bukanlah sebatas kebiasaan tanpa makna. Bahwa sambutan-sambutan tersebut merupakan bentuk kasadaran kita, bentuk kesiapan kita melakukan perintah Allah SWT dengan ikhlas walaupun sebenarnya begitu berat. Dengan ini, semoga kita termasuk orang-orang yang dapat melaksanakan beban kewajiban yang Allah berikan dengan kesadaran, kesiapan dan keikhlasan. Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Syahra Ash Shiyam!

Penulis: Mukaromatul Munawaroh II Juara 1 Lomba Menulis Edisi RFM 1445 H

annurngrukem

Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??