Puncak Haflah ke-24, Haul Muassis dan Peringatan Setengah Abad Pondok Pesantren An Nur

Malam Puncak Haflah Khotmil Qur’an ke-24, Haul ke-12 KH. Nawawi Abdul Aziz, Haul ke-15 Ny. Hj. Walidah Moenawwir, sekaligus Harlah Setengah Abad Pondok Pesantren An Nur dilaksanakan di halaman IIQ An Nur Ngrukem, Bantul, Yogyakarta (15/08/2026), dimulai pukul 18.30 hingga selesai. Acara ini dihadiri oleh para masyayikh dan dzuriyyah Pondok Pesantren An Nur, para alim ‘ulama, wali santri, serta tamu undangan.
Acara diawali dengan pembukaan dan pembacaan Suratul Fatihah yang dipimpin oleh Agus H. Adib ‘Ashim. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan maqra’ dan prosesi wisuda khotimin serta khotimat. Pembacaan maqra’ dibagi menjadi sejumlah kelompok berdasarkan kategori khataman yang diikuti.
Pertama, 12 khotimin dan 26 khotimat 30 Juz ‘ala qiroatissab’ah dengan membaca maqra’ dimulai dari Surat Al-Ikhlas sampai An-Nas. Kedua, 21 khotimin dan 39 khotimat 30 Juz bil hifdzi ‘ala qiroati ‘Ashim bi riwayati Hafsh dengan membaca maqra’ meliputi Surat Al-Fatihah, Surat Al-Baqarah ayat 1–5, serta ayat 255. Ketiga, terdiri dari 142 khotimin dan 162 khotimat 30 Juz bin-nadzri ‘ala qiroati‘ Ashim bi riwayati Hafsh dengan maqra’ Surat Al-Baqarah ayat 284–286. Setelah seluruh rangkaian pembacaan maqra’ selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Khotmil Qur’an oleh Ibu Ny. Hj. Barokah Nawawi yang kemudian diikuti oleh para khotimin dan khotimat.
Setelah prosesi wisuda, acara dilanjutkan dengan pelantunan ayat suci Al Qur’an oleh Ustadz Choirul Munada, dzikir tahlil dan doa oleh KH. R. Abdul Hamid Abdul Qadir, kemudian sambutan-sambutan.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren An Nur, KH. Muslim Nawawi, secara khusus meminta doa untuk para khotimin dan khotimat agar mampu menjaga Al Qur’an setelah menyelesaikan hafalannya. Beliau mengingatkan bahwa menjaga hafalan tidaklah mudah, sebagaimana dawuh beliau, “Ucule Al Qur’an iku luwih gampang tinimbang ucule unta sing wis dikencang, disamping sifat manusia sing mudah lupa.”
Acara kemudian dilanjutkan dengan mauidzoh hasanah oleh KH. Abdun Nashir Badrus Sholeh, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah Purwoasri, Kediri, Jawa Timur. Tausiyah tersebut secara khusus ditujukan kepada para santri. Beliau membuka mauidzoh dengan pertanyaan, “ماذا ستفعل بعد أن ختمت القرآن؟” atau “Apa yang akan kalian lakukan setelah khatam Al Qur’an?” Pertanyaan tersebut menjadi penekanan bahwa khatam dan wisuda Al Qur’an bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi awal dari tanggungjawab untuk terus menjaga Al Qur’an. Beliau juga menegaskan, “Sudah berani kah boyong? Menjaga Al Qur’an di rumah itu sangat sulit.”
Beliau kemudian menyampaikan pesan agar para santri memberikan bagian dari setiap panca indra untuk beribadah. “Mripatmu ki kek ono bagian kanggo ibadah. Ojo tinggin delok HP wae. Mripatmu kuwi kek ono bagian kanggo ibadah.” Mata hendaknya digunakan untuk melihat Al Qur’an. Beliau melanjutkan, “Al ula wal aula an nador ilal Qur’an,” bahwa yang pertama dan lebih utama adalah memandang Al Qur’an. Dengan melihat Al Qur’an, tangan memegang Al Qur’an, lisan membacanya, dan telinga mendengarkan bacaan sendiri, seluruh panca indra ikut terlibat dalam ibadah.
Menjaga Al Qur’an setelah boyong juga menjadi salah satu pesan penting dalam mauidzoh tersebut. Para santri tidak cukup hanya menghafal Al Qur’an, tetapi perlu terus berinteraksi dengannya melalui قارئًا (membaca Al Qur’an)، مقرئًا (mengajarkan Al Qur’an)، مستقرئًا (mempelajari dan mengulang Al Qur’an)، ومستسمعًا (mendengar/menyimak bacaan Al Qur’an). Dengan demikian, ilmu Al Qur’an tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi terus mengalir melalui kegiatan mengajar, menyimak, dan menghidupkan Al Qur’an di tengah masyarakat.
Beliau juga mengingatkan agar para santri tidak melupakan kiai, guru, dan orang tua yang telah menjadi bagian dari perjalanan mereka dalam menghafalkan Al Qur’an. “Jangan sakiti beliau-beliau dengan hilangnya Qur’anmu.” Setelah boyong, santri tetap perlu sowan, meminta nasihat, menjaga hubungan dengan guru, serta terus menghidupkan Al Qur’an di tengah masyarakat.
Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan khidmat hingga akhir. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan hamdalah bersama. Melalui kegiatan ini, diharapkan para khotimin dan khotimat tidak hanya membawa pulang predikat sebagai penghafal Al Qur’an, tetapi juga mampu menjaga, mengamalkan, mengajarkan, dan terus berkhidmah dengan Al Qur’an di mana pun berada.




