Kategori
Berita

Penutupan Kegiatan dan Libur Lebaran 1442 H

www.annurngrukem.com – Rabu (27/4) Pondok Pesantren An Nur Ngrukem menggelar acara Peringatan Nuzul al-Qur’an sekaligus menutup rangkaian kegiatan Ramadan yang diikuti oleh seluruh santri baik putra maupun putri.

Acara diikuti dengan penuh antusias dan tetap menerapkan protokol kesehatan, mewajibkan seluruh santri untuk menggunakan masker mengingat kegiatan ini dilaksanakan di masa pandemi. Acara ini adalah kegiatan outdoor yang pertama kali digelar sejak pandemi Covid melanda.

Acara dibuka pada pukul 20.45 WIB oleh pembawa acara dengan dilanjutkan sambutan dari ketua panitia RFM yakni Dwi Nur Hasan, S.Pd. Kang Hasan, begitu para santri memanggilnya, mengungkapkan kebahagiaan atas nikmat Islam dan iman yang melengkapi perasaan santri dalam mengikuti peringatan Nuzul al-Qur’an dan penutupan RFM di halaman Komplek Al Madinah.

“Terima kasih juga kepada panitia Ramadan, yang telah bahu membahu untuk menyiapkan acara malam ini dan seluruh santri yang berpartisipasi dalam rangkaian acara Ramadhan Fil Ma’had, mohon maaf kepada para santri, apabila selama kegiatan berlangsung terdapat salah dan kurang dari segenap panitia.” ujar Hasan.

Berikutnya, Ahmad Sangidu, ketua Pondok Pesantren An Nur Ngrukem mengumumkan bahwa santri berhak berbahagia karena liburan kali ini berbeda. Liburan kali ini lebih panjang terhitung satu bulan lebih sepuluh hari. Santri akan ditarik sesuai jadwal yang akan dipublikasikan pada halaman website annurngrukem.

“Bagi yang akan mudik dan membutuhkan surat santri aktif serta pengantar dari pengurus bisa menghubungi sekretaris komplek masing-masing” tambah Sangidu.

Acara inti pada penutupan kegiatan RFM ini yakni Mauizah Hasanah dari Pengasuh Pondok Pesantren An Nur Ngrukem, yakni K.H. Muslim Nawawi.

Beliau membuka Mauizah Hasanah dengan kuis santri, siapa yang bisa menjawab, “Peristiwa apa yang terjadi pada 17 Ramadan?”

Sebenarnya peringatan Nuzul al-Qur’an bisa diperingti kapan saja, karena Al-Qur’an diturunkan selama kurang lebih 23 tahun. Kanjeng Nabi Muhammad SAW hampir setiap hari menerima wahyu Al-Qur’an.

Beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW secara langsung, tapi secara bertahap. Terdapat tiga alasan mengapa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap.

Pertama, Kazalika linusabihifuadak. Agar Al-Qur’an ini lebih kokoh sampai ke hati Kanjeng Nabi. Kedua, untuk meringankan Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan Umatnya, karena seandainya Al-Qur’an langsung diturunkan, Kanjeng Nabi Muhammad SAW akan merasa berat sekali;

Ketiga, Innasanulqi ngalaika qoulan saqila. Kanjeng Nabi Muhammad SAW setiap menerima wahyu rasanya berat sekali, ibarat Kanjeng Nabi Muhammad SAW pada musim dingin, keringat Kanjeng Nabi Muhammad SAW tetap bercucuran sangat deras sekali.

Adalagi, suatu ketika Kanjeng Nabi Muhammad SAW sedang duduk bersama para sahabat di tempat yang sangat sempit, sehingga duduknya bertumpukan kaki dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Kanjeng Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dan kaki para sahabat yang menjadi tumpuan kaki Nabi terasa seperti remuk tulang dan dagingnya.

Sebagai penutup, K.H. Muslim berpesan kepada para santri ketika di rumah jangan sampai qada salat Subuh. Para santri ketika akan pulang lari secepat macan mengejar kijang, giliran akan kembali ke pondok berjalan seperti kura-kura. Jangan sampai seperti itu, kalau bisa pulang ke rumah dengan semangat, maka ketika kembali ke pondok juga harus semangat.

Yang paling ditunggu-tunggu oleh para santri adalah pengumuman santri-santri teladan, yang disampaikan oleh koordinator acara RFM, Ma’ruf Suryanto. “Terimakasih kepada para santri yang bertahan sampai hari ini, karena sudah banyak dari sekian santri yang sudah pulang, untuk itu izinkan saya yang diamanahi oleh Panitia RFM untuk memberikan penghargaan kepada santri-santri terbaik.”

Santri Putra menggolongkan santri teladan menjadi tiga kategori, yakni MTs, MA, tahasus dan Pengurus-Bapak Kamar. Santri teladan kategori MTs jatuh kepada Misbahuddin Muhammad, kategori MA diterima oleh Ahmad Fadhil Ulil Abshor. Kategori tahasus putra diraih oleh Ayed Yusron dan kategori Pengurus & Bapak Kamar terpilih adalah Najib Rifa’i.

“Saya sedikit merasa janggal, kenapa saya, saya protes kenapa saya? Tetapi saya akan menyampaikan kesan dan pesan mewakili adik-adik yang terpilih, pokoknya apapun yang kalian laksanakan dan amalkan di pondok ayo bareng-bareng dan dibawa pulang ke rumah amalan-amalannya” Kesan dan pesan dari Najib Rifa’i.

Santri teladan putri pusat jatuh kepada Alfiaturohmah, Nadia Soraya, Ida Khaeruzzi dan Iqlima. Kategori panitia teladan diberikan kepada Inaki Rohmatus. Nur Latifah dan Nihaya Sakina terpilih sebagai santri teladan Komplek Khodijah Pusat. Untuk santri teladan komplek Khodijah 1 atas nama Durrotun Nafisah dan komplek Khodijah 3 terpilih Nidaul Chasanah sebagai santri teladan.

Lu’luil Munawiroh terpilih sebagai santri teladan Komplek An Nisa. Kemudian santri teladan Komplek Maghfiroh atas nama Sari Nur Fatonah, Nur Halimah dan Izzatu Latifah Nur ‘Aini.

Selain penetapan santri teladan Ramadan Fil Ma’had, Panitia Khusus Pondok Pesantren An Nur yang diwakili oleh Muhammad Arwani juga mengumumkan hasil tes peringkat kategori 10 juz, 15 juz dan 20 juz sekaligus pemberian reward kepad santri terbaik pada setiap kategori.

“Selamat berlibur, nderes secukupnya, liburan sepuasnya, nanti kita refresh menyiapkan visi misi baru, kami dari panita khusus selalu menunggu mbak-mbak dan kang-kang untuk tes peringkat hafalan, semoga kita mendapat oleh-oleh yang baik untuk orang tua kita” pesan Muhammad Arwani.

Oleh Acil

Acil atau Atul Kecil, bernama asli Lailatul Munawaroh. Santri Pondok Pesantren An Nur Komplek Khodijah. Lebih jauh bisa kunjungi media sosialnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *