Berita

Excellent Basecamp MI Al-Ma’had An Nur: Menguatkan Mental, Menumbuhkan Keberanian, dan Menyalakan Mimpi Siswa Kelas VI

MI Al-Ma’had An-Nur kembali menyelenggarakan Motivasi Kelas VI – Excellent Basecamp (EBC) sebagai bagian dari agenda tahunan dalam mempersiapkan siswa menghadapi asesmen akhir. Berlangsung 2 hari, mulai hari jum’at sore 25 September 2026 sampai sabtu pagi, 26 September 2026 kegiatan ini berjalan lancer. Tidak sekadar membekali siswa dengan persiapan akademik, kegiatan ini dirancang untuk menguatkan mental, menumbuhkan rasa percaya diri, melatih ketelitian, membangun keberanian, serta mengajak siswa kembali menemukan alasan di balik cita-cita yang mereka perjuangkan.

Perencanaan kegiatan telah dilakukan sejak satu bulan sebelum pelaksanaan. Berbagai hal dipersiapkan secara matang, mulai dari konsep kegiatan, rangkaian aktivitas, hingga menghadirkan pemateri yang memberikan pengalamandan sudut pandang baru bagi siswa kelas VI.

Ketua panitia ibu Mahya, menyampaikan bahwa persiapan Excellent Basecamp membutuhkan perencanaan yang cukup panjang. Setiap rangkaian kegiatan dipersiapkan agar tidak hanya menjadi aktivitas bersama, tetapi benar-benar memberikan pengalaman yang memiliki makna bagi siswa.

Menyalakan Mimpi, Tetap Menjaga Jati Diri Santri

Excellent Basecamp dimulai pukul 15.30 WIB dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ananda Ummu Habibah. Suasana pembukaan berlangsung khidmat sebelum dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Anis Sulkhan Fadlil, M.Pd selaku Kepala Madrasah MI Al-Ma’had An-Nur.

Dalam pesannya, beliau mengajak siswa kelas VI untuk berani memiliki mimpi besar. Setiap siswa memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya melalui kesungguhan dan usaha. Namun, sebesar apa pun mimpi yang ingin diraih, identitas sebagai seorang santri harus tetap dijaga. Salah satu pesan yang beliau sampaikan mengutip keterangan dalam Kitab Al-Hikam:

“Wurudul imdad bihasabil isti’dad.”

Pesan tersebut mengandung makna bahwa datangnya pertolongan dan keberhasilan berkaitan dengan kesiapan seseorang. Bagi siswa kelas VI, pesan ini menjadi pengingat bahwa hasil yang baik perlu dipersiapkan dengan kesungguhan, ketekunan, dan kesiapan sejak sekarang.

“Kalian Punya Hak untuk Menjadi Hebat”

Semangat siswa kemudian semakin dikuatkan melalui sesi Motivasi pemateri 1 bersama Bapak Nadhif Masykur, S.Fil.I., M.Pd.

READ  HARLAH PONDOK PESANTREN AN NUR DAN WISUDA TPQ AN NUR 2012

Sebagai seorang yang memiliki latar belakang kehidupan pesantren selama hampir 20 tahun, beliau membagikan pengalaman perjalanan hidupnya kepada para siswa. Di tengah aktivitasnya sebagai santri, beliau juga terus berkarya hingga menghasilkan sekitar 40 karya buku. Dari perjalanan berkarya tersebut, beliau mendapatkan berbagai pengalaman berharga, termasuk kesempatan melaksanakan ibadah umrah beberapa kali yang didapat dari hasil karya tulisnya.

Kisah tersebut menjadi bukti bahwa kehidupan pesantren bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berkembang dan menghasilkan karya.

Beliau mengajak siswa kelas VI untuk tidak pernah merasa minder karena menjadi santri.

“Apa pun keadaan kalian, kalian punya hak untuk menjadi hebat.”

Pesan tersebut menjadi salah satu penguatan utama dalam sesi motivasi. Para siswa diajak untuk percaya bahwa keberhasilan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang mempunyai kondisi tertentu. Kesungguhan, keberanian belajar, dan kemauan untuk terus berkembang menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kesuksesan.

Beliau juga mengingatkan bahwa manusia memiliki potensi untuk menjadi pemimpin, bukan menjadi pribadi yang menyerah terhadap keadaan.

“Pesantren adalah tempat terbaik untuk memuliakan kita.”

Kalimat tersebut menjadi pesan yang diharapkan terus melekat dalam diri siswa, bahwa nilai-nilai kesantrian dapat menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan di masa depan.

Menemukan “Mengapa” di Balik Sebuah Cita-Cita

Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Ahmad Farid, S.Pd., M.Pd. Dalam pemaparannya, beliau mengajak para siswa untuk melihat lebih dalam tentang alasan di balik setiap cita-cita yang mereka inginkan. Menurut beliau, alasan atau dasar seseorang dalam melakukan sesuatu memiliki peranan penting, bahkan tidak cukup jika seseorang hanya berorientasi pada hasil.

Untuk membuka materi, beliau menceritakan kisah Mahatma Gandhi. Dari kisah tersebut, seluruh siswa diajak memahami pentingnya kejujuran dalam kehidupan. Setelah itu, diajak melakukan refleksi secara sederhana. Mereka diminta merenungkan satu pertanyaan:

READ  Halal Bi Halal dan Pembukaan Kegiatan di Pondok Pesantren An Nur Ngrukem TA 2025/2026

“Mengapa saya memiliki cita-cita tersebut?”

Pertanyaan tersebut membawa para siswa untuk tidak sekadar menyebutkan cita-cita, tetapi memahami alasan, tujuan, dan nilai yang ingin mereka perjuangkan. Dengan menemukan alasan yang kuat, diharapkan para siswa memiliki motivasi yang lebih kokoh ketika suatu saat menghadapi kesulitan dalam perjalanan meraih cita-citanya.

24 Soal dalam 3 Menit: Bukan Sekadar Tentang Jawaban

Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah mereka diberikan sejumlah soal yang harus diselesaikan dalam waktu terbatas. Mereka harus mengerjakan secara mandiri tanpa bertanya kepada temannya. Tantangan pun diberikan: 24 soal dalam waktu 3 menit. Namun, kegiatan tersebut ternyata bukan sekadar perlombaan menyelesaikan soal sebanyak-banyaknya.

Di balik aktivitas tersebut, siswa belajar bahwa dalam mengerjakan soal, kecepatan harus berjalan bersama ketelitian. Membaca instruksi dengan cermat, memahami pertanyaan, dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan menjadi bagian penting yang perlu dimiliki siswa. Setelah itu, para siswa diberikan tantangan “Thinking Outside the Box” melalui persoalan berupa beberapa titik yang harus dipecahkan dengan cara tertentu.

Aktivitas tersebut mengajak siswa memahami bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan pola berpikir yang sama. Siswa didorong untuk berani melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda, mencari referensi dari luar, keluar dari zona nyaman, bergerak lebih cepat, serta terbuka terhadap ide dan pemikiran orang lain.

Menghadapi Rasa Takut dalam Jurit Malam

Menjelang tengah malam, suasana Excellent Basecamp berubah. Setelah mengikuti berbagai sesi motivasi dan pembelajaran, siswa menghadapi tantangan berikutnya melalui kegiatan jurit malam menuju makam permukiman di sekitar lingkungan MI Al Ma’had An Nur.

Sebelum kegiatan dimulai, Bapak Nadhif memberikan pembekalan terlebih dahulu. Para siswa mendapatkan arahan mengenai cara menghadapi rasa takut, menjaga ketenangan, serta adab dan tata tertib selama kegiatan.

Sekitar pukul 23.12 WIB, siswa mulai berangkat secara berpasangan. Mereka mendapat tugas mencari nama masing-masing yang telah ditempatkan di sekitar lokasi.

READ  Harlah IKSAAS 2013

Beragam ekspresi terlihat selama kegiatan berlangsung. Ada siswa yang mampu melewati tantangan dengan tenang dan penuh keberanian, sementara beberapa siswa lainnya masih merasakan rasa takut. Namun, justru di situlah proses pembelajaran berlangsung.

Para siswa belajar bahwa rasa takut merupakan sesuatu yang dapat dihadapi dengan ketenangan dan keberanian. Kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk melatih pengendalian diri dan keberanian dalam menghadapi situasi yang tidak biasa.

Dari Malam Menuju Pagi: Menutup dengan Olahraga dan Hipnoterapi

Rangkaian kegiatan berlangsung hingga istirahat menjelang waktu subuh. Setelah itu, siswa melanjutkan aktivitas dengan senam dan olahraga serta diisi dengan permainan problem solving untuk menjaga kebugaran tubuh sekaligus menyegarkan kembali kondisi setelah mengikuti rangkaian kegiatan malam. Sebagai bagian akhir, siswa mengikuti sesi hipnoterapi. Sesi ini menjadi ruang untuk menenangkan diri, melakukan refleksi, serta membangun sugesti dan pikiran positif dalam menghadapi tantangan ke depan.

Rangkaian Excellent Basecamp akhirnya menjadi sebuah perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang asesmen. Di dalamnya terdapat proses belajar mengenal diri, berani bermimpi, menemukan alasan, membangun kepercayaan diri, belajar teliti, berpikir kreatif, menghadapi rasa takut, dan tetap menjaga jati diri sebagai seorang santri.

Bagi siswa kelas VI MI Al Ma’had An Nur, asesmen akhir bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan hasil yang baik. Ada proses panjang yang perlu dijalani dengan kesungguhan, kejujuran, keberanian, dan kesiapan mental.

Melalui Excellent Basecamp, madrasah berupaya menanamkan pesan bahwa kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mencapai tujuan, tetapi juga tentang bagaimana ia mempersiapkan diri dan tetap menjaga nilai-nilai kebaikan selama perjalanan. Kini, setelah melewati berbagai rangkaian kegiatan, para siswa kelas VI diharapkan semakin siap menghadapi tahapan berikutnya.

Berani bermimpi, bersungguh-sungguh dalam berproses. Tetap menjadi santri. Dan terus tumbuh menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

MI Al Ma’had An Nur – Madrasahnya Santri Pinter Berkarakter.

kangbachti

Santri Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul. Bagian Pelayan anak-anak di Asrama MI Al Ma’had An Nur. Penikmat kata, foto, dan video.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??