Artikel

Enam Syarat Sukses Nyantri

www.annurngrukem.com – Menjadi santri, adalah kebanggaan tersendiri. Menjalani rutinitas di pondok pesantren yang sangat menyenangkan, setelah melewati fase ‘tidak krasan’. Para santri bisa mencari ilmu di kala pagi, siang, sore, hingga malam. Mencari ilmu itu penting untuk menghilangkan kebodohan. Biar ilmu yang dicari dapat bermanfaat, ini syaratnya.

Pertama, cerdas. Pondok pesantren memiliki keunggulan unik yakni mendidik para santri agar menjadi orang yang cerdas serta baik budi. Cerdas bukan berarti tinggi IQ-nya. Kecerdasan ini bisa diperoleh dengan berbagai usaha, di antaranya: hobi mencatat materi palajaran, sering berdiskusi, atau mengulang materi yang telah diajarakan.

Para santri dibekali tiga kecerdasan sedikitnya. Kecerdasan spiritual utamanya. Ibadah para santri sudah tidak perlu ditanya lagi. Para santri bangun lebih pagi dan tidur larut malam bahkan ada yang bergadangan membuat hafalan sambil meneguk secangkir kopi untuk menahan kantuk.

Selain itu, para santri mendapatkan modal kecerdasan intelektual. Sebagaimana yang kita ketahui, para santri belajar sejak pagi, siang, sore hingga malam. Belajar Al-Qur’an, kitab kuning klasik, dan ilmu umum. Sebab, saat ini banyak pondok pesantren yang mempunyai sekolah bahkan hingga perguruan tinggi.

Dan tidak lupa, para santri terkadang tidak sadar jika sudah memperoleh kecerdasan emosional. Seperti yang kita ketahui, kecerdasan emosional berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. Inilah tiga jenis kecerdasan yang bisa diperoleh saat menjadi santri.

Kedua, semangat. Santri yang semangat adalah santri yang sungguh-sungguh, tekun, rajin, saat mencari ilmu. Tanpa kesungguhan, mencari ilmu bisa tidak menghasilkan apa-apa kecuali capek belaka. Menghafal Al-Qur’an, misalnya, akan cepat malas. Baru hafal satu dua ayat sudah bosan. Akhirnya, jadi gampang gagal.

READ  KHĀDIM AL-MA’HAD: Kepemimpinan Baru, Semangat dan Harapan Baru

Ada pepatah yang populer, “Barang siapa bersungguh-sungguh, pasti ia dapat”. Banyak di luar sana yang memiliki kekurangan dalam hal fisik, tetapi karena semangatnya justru ia menjadi orang yang sukses, berhasil meraih cita-cita. Seperti pria asal Australia, Nick Vujicic. Seorang penyandang difabel yang sukses dan menginspirasi dunia.

Ketiga, sabar. Para santri setiap saat mendapatkan cobaan dan ujian yang tidak terduga. Gasab, misalnya, atau kehilangan barang pribadi adalah hal familiar di kalangan pesantren. Contoh lainnya, saat kehabisan uang saku. Dan masih banyak lagi. Tentu semua itu harus disikapi dengan sabar.

Termasuk saat melakukan aktivitas harian santri, seperti mengaji pagi, siang, sore, malam. Lambat laun akan mulai males, bahkan bisa tidak betah. Lalu, pamit boyong padahal baru satu bulan masuk pondok pesantren. Kesabaran akan terus diuji. Awal masuk biasanya kena penyakit gudiken. Setelah itu terkena cacar, jika belum pernah sakit cacar. Dan seterusnya.

Keempat, biaya. Hanya bermimpi yang gratis. Untuk menggapai cita-cita, kadang butuh mengeluarkan biaya yang mungkin juga besar. Manusia memang hidup butuh biaya, seperti halnya untuk makan, minum, jajan, belanja, dan sebagainya. Terlebih, di zaman yang semakin canggih begini. Mau transfer bulanan santri, harus membayar biaya admin.

Nah, kalau masyarakat dengan ekonomi rendah bagaimana? Gampang. Sekarang ini beasiswa ada di berbagai segi. Pemerintah membuka banyak jalur beasiswa pada bidang pendidikan. Tinggal pilih saja mana yang sesuai dengan syarat dan ketentuan dari beasiswa tersebut. Kayak zaman Covid-19 kemarin, ada bantuan kuota juga para siswa-mahasiswa.

Kelima, petunjuk guru. Memang pada dasarnya belajar secara otodidak bisa-bisa saja. Terlebih, saat ini teknologi telah sangat canggih. Akan tetapi, sebaiknya itu dilakukan sebatas wawasan awal saja. Selanjutnya harus dibenarkan dengan guru, apakah yang didapat secara otodidak itu benar atau keliru.

READ  Puasa; Transformasi Menjadi Pribadi yang Dicinta

Lagi pula, belajar tanpa guru itu bahaya. Coba dibayangkan, saat hendak pergi ke pantai selatan, kita sembarangan meluncur ke selatan, atau bermodal google maps. Pernahkah kalian salah lokasi? Lalu, bagaimana jika bertanya orang sekitar atau yang paham arah ke pantai selatan. Pasti akan cepat sampai tujuan dan tentunya selamat.

Keenam, waktu yang lama. Ya, jelas saja. Baru satu bulan masuk pesantren, eh, berharap sudah bisa memaknai kitab kuning. Mustahil. Kecuali jika Allah berkehendak lain. Saat mencari ilmu, tidak boleh buru-buru. Pasti ada tahapan-tahapan yang harus dilewati. Apalagi santri, yang pada dasarnya tidak hanya mencari ilmu tetapi juga mencari berkah guru.

Sistem pesantren akan membentuk santri yang berilmu dan berakhlak mulia. Tentu itu tidak bisa digapai dengan waktu singkat. Terlebih di bagian akhlak, perilaku. Perlu pembiasaan yang lama. Di Indonesia saja butuh minimal 12 tahun untuk menyelesaikan masa pendidikan formal dari SD-SMP-SMA/SLTA.

Mari lebih serius belajar untuk menyongsong masa depan. Sebab, pendidikanlah penentu masa depan. Penuhi syaratnya, raih kesuksesannya. Semoga kta tergolong dalam orang-orang yang senang belajar.

IDU AHM

Santri Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul. Pekerja Teks Komersial. Baca tulisannya di rahma.id, bangkitmedia.com, dan lainnya. Anggota komunitas online Rumah Membaca Indonesia. Kontak dengannya bisa melalui

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??