Kategori
Artikel

Mengenal Ulama Yogyakarta: Empat Kepribadian KH Ali Maksum Krapyak

www.annurngrukem.com – Penghujung tahun 2020 ini, Pondok Pesantren Krapyak melaksanakan peringatan Haul Ke-32 KH Ali Maksum. Sayangnya kondisi di tengah wabah Covid-19 membuat pelaksanaan haul terealisasi secara virtual. Majelis haul diadakan pada 23 Desember lalu, melalui media Zoom Meeting disertai live streaming via Youtube. Sehingga, para santri, alumni, sampai masyarakat luas pun tetap bisa mengikuti majelis haul tersebut.

Acara pun berjalan meriah, meski terselenggara secara virtual. Tausiah diisi oleh para tokoh terkemuka, di antaranya KH. Abdul Ghofur Maimoen (Pengasuh STAI Al-Anwar), Dr. KH. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. (Dubes RI untuk Arab Saudi) secara virtual, dan KH. Baha’uddin Nursalim (Pengasuh PP. Tahfidzul Qur’an LP2IA, Narukan).

Dr. KH. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. dalam tausiahnya menyebutkan KH Ali Maksum terkenal dengan kejelian dan ketelitian dalam hal membaca teks keagamaan. Ada 4 hal masyhur, yang menonjol dalam diri KH Ali Maksum Krapyak, yaitu: (1) ulama al-Mausu’iyyu, (2) Munsif, (3) al-Mutawassith, al-Mu’tadir, al-Mutasamih, dan (4) al-Murabbi.

Ulama al-Mausu’iyyu

KH Ali Maksum disebut sebagai ulama al-mausu’iyyu karena beliau adalah ulama yang insiklopedis, ulama yang komplet, samudra ilmu, luas pengetahuan. Ketika orang-orang masih membaca tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan muridnya Jalaluddin As-Suyuthi, as-Shawi, dan Khasiyatul Jamal, KH Ali Maksum sudah sampai pada tahap membaca kitab al-Jamali Ahkamul Qur’an karya al-Qurtubi, Ahkamul Qur’an karya al-Arabi, Ahkamul Qur’an karya al-Harasyi, dan lain sebagainya.

KH Ali Maksum bahkan telah membaca kitab-kitab yang pada masa itu masih tergolong pada kitab yang sulit dipahami. Bahkan beliau tuntas membaca Kitab Minhajus Sunnah An Nabawiyah Fi Naqdhi Kalamis Syiah Al Qodariyah karya Ibnu Taimiyah. Sebab itu, layak disebut ulama al-mausu’iyyu. Sebab bacaan beliau sangat banyak. Semua kitab dibaca oleh beliau.

Ulama al-Munsif

KH Ali Maksum disebut sebagai ulama al-munsif karena beliau termasuk ulama objektif. Adalah ulama yang tidak kagetan. Karena referensi bacaan beliau sangat banyak. Mazhab apapun beliau baca. Beliau itu moderat, menghindari hal yang dianggap ekstrem dan menengahi perselisihan. KH Ali Maksum adalah salah satu dari sekian ulama nusantara yang pandai berdialog dengan Muhammadiyah.

Ulama al-Mutawassith, al-Mu’tadir, al-Mutasamih

KH Ali Maksum disebut sebagai ulama al-Mutawassith yakni moderat, al-Mu’tadir dan al-Mutasamih karena beliau termasuk ulama yang menjunjung tinggi toleransi. KH Ali Maksum merangkul semua golongan tanpa pandang bulu, mentolelir dan memberikan solusi atas problematika yang terjadi.

Kemasyhuran KH Ali Maksum yang moderat menginspirasi masyarakat Arab mendirikan badan perlindungan dari aliran-aliran keras atau radikal. Muhammad bin Salman bin Abdul Aziz Arab Saudi mendirikan lembaga I’tidal yang memerangi pemikiran-pemikiran ekstrim.

Ulama al-Murabbi

KH Ali Maksum juga disebut sebagai ulama al-Murabbi. Beliau adalah ulama yang sangat dekat dengan santri, beliau sangat akrab dengan santri, seolah tidak ada batas dengan para santrinya. Bercanda dengan para santri. Bahkan pada suatu ketika beliau berfoto dengan merangkul santri.

Melalui kedekatannya dengan santri, beliau memanfaatkan kesempatan itu untuk mentransfer ilmu kepada para santrinya. Karena itulah beliau disebut sebagai mahaguru dan sangat dihormati oleh semua santri maupun masyarakat Indonesia.

KH Ali Maksum memiliki nasab sampai Rasulullah Saw. sebagaimana disebutkan oleh Dr. KH. Agus Maftuh Abegebriel, M.Ag. Kemudian, garis keturunan KH. Ali Maksum selanjutnya dengan menikahi putri KH. Munawwir yang bernama Ibu Ny. Hj. Hasyimah Munawwir, putri dari Ny. Hj. Khodijah (Suistiyah) Wates, Kulonprogo, Yogyakarta, dari istri kedua KH Munawwir.

Adapun KH Nawawi, pendiri Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul, memperoleh istri Ny Hj Walidah, yang merupakan putri KH Munawir dari istri kelima Ny. Khodijah-Kanggotan, Bantul, Yogyakarta. Yang selanjutnya, penikahan KH Nawawi dengan Ny Hj Walidah Munawir dikaruniai sebelas putra.

Oleh annurngrukem

Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *