Sastra

Untuk Njenengan Berdua, yang Namanya Selalu Kusertakan dalam Doa

Assalamualaikum Mamak, Bapak…

Semoga limpahan nikmat sedang dan selalu kalian rasakan di alam sana…

Ini Aku Mak, putri kecilmu yang dulu masih sering ngambung handuk kemana-mana sampai-sampai orang-orang sering menjulukiku tukang krupuk kliling  sekarang sudah tumbuh dewasa lho Mak. Mas juga demikian pak, yang waktu itu masih kelas 2 SMK sekarang sudah berkeluarga tapi anaknya masih satu belum dua masih satu wkwkw…

Hari ini, denok masih dipondok mak, pak menikmati rangkaian Ramadhon Fiil Ma’had yang kegiatannya masyaalah sekalii, anti shalat tarawih sat set, dan tura-turu nglintek. Pokoe ngendikane Abah Muslim Nawawi “The Time is Ngaji”. Ya ngaji Qur’an iya Ngaji Kitab juga iya, pokoe paket lengkap Mak, Pak. Jadi bisa ikut mborong diskonan ganjaran yang inshaalah akan ke-transfer langsung ke njenengan berdua disana. Semoga denok bisa memanfaatkan waktu di bulan yang mulia ini untuk tafaquh fiiddin dan senantiasa dimudahkan oleh Allah untuk berbuat kebaikan ya Mak, Pak.

Sebentar lagi masuk waktu liburan Mak, Pak…

Alhamdulillah bisa nyekar (ziarah) lagi ke makam nanti bareng sama Mas. Ngapunten lho Mak kalau denok sama Mas masih suka udur-udur-an buat mimpin tahlil di makam, la wong setiap denok pulang pondok terus nyekar bareng Mas sampai makam mas selalu bilang “Kamu ya nok sik mimpin, aku wedi nek mendadak lali urutane, kan awakmu sing cah pondok…”.

O iya Mak, Pak, Alhamdulillah lebaran nanti denok sama Mas sekeluarga bisa lebaran bareng lagi mulai tahun ini, setelah bertahun-tahun mas berjuang mencari nafkah di negeri orang. Bisa dibilang Mas jarang pulang, jadi momen lebaran cuma bisa sungkem lewat virtual. Sekarang Alhamdulillah Mas sudah netep di rumah bisa kumpul lagi sama denok, anak dan istrinya. Di rumah juga sambil nyambi usaha kecil-kecilan colab sama temennya Mas, doakan semoga lancar dan berkah ya mak pak,..

READ  Surat Kehilangan

Dan atas Ridho Allah disertai usaha dari Mas, rumah tinggalan Mamak Bapak sudah direnovasi full sekarang, sudah kami tempati ya walaupun denok masih bolak-balik ke rumah Pakdhe Budhe, ndak enak Mak, Pak. Semenjak njenengan berdua kapundut, Pakdhe Budhe yang dengan tulus merawat, membesarkan, bahkan sampai denok bisa menikmati indahnya belajar di pesantren sampai saat ini juga berkat mereka. Sungguh kasih sayang mereka sama sekali mboten pernah luntur. Dengan demikian, lagi-lagi denok bersyukur bisa tetap merasakan hadirnya kasih sayang Mamak Bapak lewat Pakdhe dan Budhe.

Kalau mau liburan gini mesti ada aja rasa gelisah tak kunjung sudah Mak. Ya setiap denok keluar ke mesjid, warung, atau lagi rewang terus dihadapkan dengan ibu-ibu yang masih sebaya dengan mamak atau bahkan mungkin teman akrab ketika njenengan masih sugeng, selalu saja ada yang bilang gini :

“Ealah ini anaknya Mbak Sri sik neng pondok kae ya, Ya Allah wis gadis saiki, jan soyo gedhe soyo mirip banget kaya mamake mbiyen,” ada lagi yang bilang gini, “Masyaalah jan logat sama suarane persis banget kaya mamakmu nok,” tambah lagi, “Cara mlakumu lho nok, ngelingke maring bapakmu,”. Malahan kadang ada yang sampai membuatku maktratap  salah seorang saudara bapak bilang “Ya Allah andaikan saja Njenengan sisakan satu, Bapak, opo Mamakne ben iso ndelok anak-anake saiki wis podo gedhe kabeh”.

Ya mau gimana wong sudah takdir dari Allah, kalau masalah menerima takdir ya masih terus belajar, denok yakin Mak, Pak apa pun yang ditakdirkan untuk kami pasti  yang terbaik, dan selalu ada hikmah dibalik semua ini.

Ditambah lagi orang-orang yang bilang demikian habis itu ndlewer deh air matanya, bahkan ada yang sampai terisak dan memeluk erat tubuhku sembari mengelus-elus kepalaku. Gimana denok ngak ikut nangis coba, ya tapi nggak sampek sesegen kok mak pak, paling nanti dilanjut dikamar…

READ  The Umbrella

Dibalik gembengnya denok kula selalu berusaha untuk tetap bersyukur M,ak Pak. Kenapa? Ya karena tenyata banyak orang yang mengenang kalian, kebaikan kalian dan bahkan tidak sungkan untuk menceritakannya kepadaku bagaimana sosok Bapak Mamak ketika masih sugeng.

Maklum, nggak banyak yang bisa denok ingat tentang kalian aku masih sangat bocil kala itu, foto-foto kenangan yang tersisa juga hanya sedikit. Mungkin hanya sebagian memori yang masih samar-samar kuingat seperti diajak mbajak sawah bersama Bapak waktu itu masih pakek sapi nggih pak, Ikut jualan remukan emping pedes bersama Mamak, dan ya! sendal jepit.

Kula ingat pak, walaupun sedikit semerawut waktu itu sendal jepit (sendal swallow) denok copot, dan tentunya layaknya anak kecil pada umumnya yang akan merengek dan minta dibelikan yang baru dan Bapak tidak langsung mengiyakan tapi mencoba memasang kembali dengan mengambil tali rapia dan Bapak bilang, “Iki isih iso dinggo neh nok,” dari secuil ingatan itu aku belajar arti kesederhanaan dari sosok njenengan Bapak.

O Iya pak, denok juga teringat cerita Budhe kata Padhe semasa njenengan masih sugeng dan kira-kira masih seumuran denok. Njenengan mempunyai keinginan kuat untuk belajar mengaji, namun kata Budhe “ya maklum waktu itu mencari uang sangat rekoso Nok, jadi Simbahmu ndak memperbolehkan bapak buat ngaji, dan harus ikut cari uang untuk tetap bisa menghidupi keluarga yang jumlahnya cukup banyak,”.

Dan lagi-lagi itu Pak, Mak yang membuat denok untuk selalu berusaha bersyukur. Denok sudah hampir sembilan tahun hidup di bawah atap pesantren. Walaupun belum bisa khatam Al-Qur’an Alhamdulillah denok bisa banyak sekali belajar ilmu di sini Pak, agamanya dapet, umumnya juga dapet. Denok juga sudah berada di semester menuju akhir kuliahnya, pangestunipun semoga selalu diberi kelancaran tholabul “ilmi-nya ya Mak, Pak…

READ  Surat Cinta dari Putri Pertama

Terakhir, denok minta maaf ya mak pak belum bisa jadi anak yang berbakti, belum bisa membahagiakan kalian… belum sempat sungkem juga setiap lebaran.

Semoga kelak Allah pertemukan kita di surga nggih Mak, Pak, Amin…

Doakan denok, Mas sekeluarga semoga selalu tabah, sabar dan kuat menjalani hidup meskipun tanpa kehadiran njenengan berdua. Semoga kami bisa selalu bersyukur, panjang umur dan bermanfaat buat banyak orang. Apa yang menjadi cita-cita denok dan Mas Sekeluarga semoga Allah mudahkan dan Ridhoi Jalannya, Aminn ????

Salam rindu dari denok dan Mas, Pak Mak.

 

Penulis: Winda Fitriani ( Komplek Al Maghfiroh, Juara 1 menulis surat RFM 1445 H)

annurngrukem

Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also
Close
Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??