Esai

Pesantren dan Tanggung Jawab Masalah Sampah

Bulan lalu, saya mengikuti program pelatihan pesantren Emas di Panggungharjo. Pesantren Emas adalah program yang dicanangkan oleh PWNU Yogyakarta yang berkolaborasi dengan desa Panggungharjo dan pesantren-pesantren untuk mengembangkan pesantren yang memiliki ekosistem madani atasi sampah.

Baru saja beberapa hari saya mengikuti pelatihan pesantren Emas, sebuah pesan mengagetkan lewat WhatsApp di hape saya masuk.

Klunting! 

“Info terkini: Mulai hari ini sampai dg 5 September 2023, TPA Piyungan di tutup.”

Saya menghela napas panjang mencoba menenangkan pikiran. Saya coba buka pesan yang sudah terbaca dari notifikasi dengan tenang. 

Bagi yang tidak paham, atau mungkin tidak mengurusi sampah pesantren mungkin hal itu bukanlah masalah. Namun berita itu bagi saya dan kawan-kawan yang ikut mengurusi tetek bengek tentang sampah, kabar itu adalah salah satu bencana besar. 

Bagaimana tidak, sampah yang diproduksi pesantren sangat banyak. Jika rata-rata setiap santri membuang sampah sehari seberat 0.6 Ons, dikali 2500-an santri, sehari saja sampah pesantren bisa 1,5 Ton. Jika 1.5 Ton dikalikan 40 hari berarti 60 ton. Bayangkan! Sampah 60 ton mau dikemanakan? 

Akhirnya bersama pengelola sampah pesantren, saya ikut menyusun sebuah rencana untuk melakukan pengelolaan sampah agar bagaimana caranya sampah bisa teratasi. Sembari menyusun rencana-rencana itu saya belajar tentang pengelolaan sampah di Panggungharjo. 

Di Panggungharjo saya belajar mengamati, memilah sampah dan memetakan berbagai beberapa permasalahan sampah. Setelah pembelajaran di desa selesai, saya dan santri pesantren Emas melakukan kunjungan di Pondok Pesantren An Nuqoyah Lubangsa, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura. 

Baru saja saya dan teman-teman turun dari bus, kami sudah disambut sebuah ayat Al Quran yang terpampang di sebuah banner besar pinggir jalan pesantren, yang cukup membuat saya tertampar. 

READ  Surat untuk Ibu yang Telah Berlabuh Terlebih Dahulu

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ – ٤١

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).(Q.S. Arum ayat 41).”

Membaca ayat itu membuat saya jadi paham bahwa saya jugalah penyebab TPS Piyungan tutup. Dan saya menyadari hal yang selama ini saya lakukan ternyata salah.  Membuang sampah pada tempat sampah, lalu dimasukkan gerobak, ditaruh kontainer DLH, lalu diangkut dan dibuang di TPA Piyungan ternyata sama saja memindahkan sampah. 

Tanggung Jawab Terhadap Sampah 

“Saya sampaikan kepada santri-santri bahwa semua sumber sampah, dialah yang seharusnya mengelola sampahnya! Sampah yang dihasilkan pesantren, itu juga santri kita. Tidak boleh keluar! Harus kita urus!” Kata K.H. Muhammad Shalahuddin, pengasuh Pondok Pesantren An Nuqoyah saat bercerita kepada saya dan santri pesantren Emas memperagakan bagaimana beliau menasehati santri-santrinya. 

Setiap manusia mempunyai tanggung jawab terhadap hal yang dilakukannya. Termasuk terhadap sampahnya. Hal yang seharusnya kita lakukan sebagai manusia yang selalu memproduksi sampah adalah mengolahnya, sampai sampah benar-benar pada tahap yang tersisa hanya sampah residu. Jika sudah di tahap residu barulah tugas pemerintah untuk menyelesaikannya. 

Sayangnya, tak semua orang bisa memahami itu. Kalaupun paham, mungkin akan terkendala masalah biaya pengelolaan. Sebab biaya pengelolaan lebih mahal dari pada sekadar memindahkan sampah ke TPA. Namun, jika mindset orang-orang masih seperti itu, seluas apa pun TPA sampah tentu tidak akan cukup menanggung jumlah sampah yang diproduksi manusianya. 

Pesantren bisa menjadi garda terdepan dalam penanganan sampah karena memiliki peran penting dalam membentuk nilai-nilai lingkungan dan kesadaran masyarakat. Dengan mengajarkan praktik-praktik pengelolaan sampah yang baik, pesantren dapat merangsang perubahan perilaku positif terkait pemilahan, pengurangan, dan pengelolaan daur ulang yang benar di masyarakat sekitar.

READ  Ramadhan Philosophy

Untuk bisa mengelola sampah dengan baik tentunya membutuhkan dukungan berbagai pihak, diantaranya dukungan pengasuh dalam mengimplementasikan program pengelolaan sampah, partisipasi santri, asatidz, pemerintah daerah setempat dan media sosial dalam menyebarkan informasi mengenai pengelolaan sampah. Dengan dukungan dari berbagai pihak, pesantren akan lebih mudah menjalankan program pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan.

Memberi Contoh Merawat Alam

Gus Dur, atau K.H. Abdurrahman Wahid, percaya bahwa nilai-nilai agama, terutama Islam, mengajarkan tentang tanggung jawab manusia untuk menjaga alam dan lingkungan. Tentu sudah menjadi kewajiban bagi pesantren sebagai lembaga kajian Islam memberikan contoh bagaimana mengimplementasikan ayat-ayat tanggung jawab manusia terhadap lingkungan. 

Gus Dur sering mengemukakan pandangannya tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ia berpendapat bahwa isu lingkungan adalah bagian penting dari agenda moral dan spiritual, serta menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana.

Sebagai tokoh agama, Gus Dur juga mendorong agar ajaran agama diimplementasikan dalam praktik sehari-hari, termasuk dalam cara kita berhubungan dengan alam. Ia mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah (pemimpin) di bumi, yang memiliki tanggung jawab untuk merawat dan melindungi ciptaan Tuhan, termasuk alam.

Saya jadi teringat penggalan puisi berjudul Selamat Pagi, Bumi karya Kyai M. Faiz yang pernah dibacakannya saat saya belajar pengelolaan sampah di Pondok Pesantren Annuqoyah. 

Selamat pagi, manusia

engkau bekerja demi melangsungkan hidup

dan kamu hidup sekedar iseng menunggu maut

Tapi,

Mengapa Anda merusak laut?

hanya karena Anda punya teknologi untuk menangkap ikan?

namun siapa sesungguhnya yang memberi pakan?

 Mengapa kamu meracuni bumi?

hanya karena Anda yang menanam demi alasan pangan?

Namun siapa sebenarnya yang mengolah?

READ  Santri dan Pentingnya Literasi Digital

ءَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُۥٓ أَمْ نَحْنُ ٱلزَّٰرِعُونَ

Saat puisi itu dibacakannya, saya terkagum-kagum. Saya ikut geram dengan manusia-manusia yang merusak bumi lewat kecongkakan dan meja makannya. 

Saya menyoraki seolah ikut mengolok-olok. Saya girang seolah ikut mengutuk. Saya tepuk tangan dengan keras pertanda perlawanan dengan kelakuan biadab manusia-manusia itu. 

Hingga akhirnya saya sadar, bahwa saya lah manusia itu. Manusia yang sering membuang karbon ke udara. Manusia yang merusak laut dan meracuni tanah. Manusia yang suka membuang sampah tanpa pernah sadar bahwa kelakuannya lebih buruk dari sampah. 

Musuh terberat manusia adalah dirinya sendiri. Dan saya memang harus melawan kelakuan biadab yang sering merusak alam, setidaknya dimulai dengan tanggung jawab terhadap sampah saya sendiri. 

Muhammad Ulinnuha

Santri Pondok Pesantren An Nur Bantul. Hobi membaca, menulis, dan menyapu halaman.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
Hai, ada yang bisa saya bantu??