Berani Minta Maaf Itu Hebat

0
35

www.annurngrukem.com – Manusia sebagai makhluk sosial tidak pernah luput dari yang namanya menjalin hubungan dengan makhluk lain. Sifat ketergantungan ini adalah persifatan alami yang dimiliki manusia dan tidak akan pernah bisa diubah. Selain itu, menjalin hubungan baik pertemanan, persahabatan, maupun pasangan, pasti akan menemui problematika di dalamnya. Hanya saja siapa yang mau mengalah dan siapa yang mau memaafkan.

Seseorang yang bersedia meminta maaf berarti telah menurunkan egonya untuk mengakui kesalahan dirinya sendiri. Namun, perihal meminta maaf bagi sebagian orang bisa lebih berat dari sekadar memaafkan kesalahan orang lain. Terlebih jika tidak merasa memiliki salah dengan orang lain. Bagaimana mau minta maaf, lha wong merasa melakukan kesalahan saja tidak.

Seperti yang saya alami belum lama ini. Tidak ada angin, tidak ada hujan, teman dekat saya, sebut saja Paidilah, mendiamkan saya selama seminggu. Awalnya, saya pikir marah biasa atau lagi PMS yang sejam-dua jam sudah baikan lagi. Namun dugaan saya salah. Kurang lebih seminggu lamanya dirinya marah dan membuat kami perang dingin.

Memang, dalam suatu hubungan terlebih pertemanan lumrah terjadi suatu perselisihan. Namun apakah kita akan diam saja dengan masalah yang kita hadapi dengan orang lain? Tentu saja tidak.

Sebagai makhluk sosial yang tidak bisa melakukan banyak hal tanpa orang lain, lebih-lebih sebagai santri yang harus menjaga Hablunminannas, yang setiap harinya selalu bersama teman. Mulai dari tidur, makan, ngaji, belajar juga bersama-sama, pasti tak akan betah jika terus-terusan berselisih paham dengan orang yang selalu bersama kita setiap hari. Dan hal itulah yang saya alami.

Setelah beberapa hari saya dan Paidilah terjadi perang dingin, saya mencoba mengajaknya berkomunikasi dengan memulai dari hal-hal kecil. Meskipun agak kaku, saya mencoba mengajaknya makan, mengajaknya guyonan, dan hal kecil lainnya. Namun apapun usaha tetap tidak mempan, dia tetap marah. Hal itu membuat saya bingung untuk mengatasinya. Saya putuskan untuk curhat dengan teman saya, Fulan.

“Mungkin lagi PMS, Mbak, nggak papa, yang sabar aja. Sek waras ngalah!”, begitu kata kawan saya ketika semua masalah yang saya dan paidi alami tersampaikan kepada Fulan. Jawabannya membuat saya tertawa, namun tetap gelisah. Masih terbesit pertanyaan pada diri sendiri, apa yang saya lakukan hingga membuatnya marah? Lucu memang, jika biasanya kami selalu bersama, kini diam tanpa kata.

Kesabaran saya pun perlahan terkikis, hingga usaha terakhir saya kerahkan, yakni mengirim pesan via WhatsApps. Namun respon yang diberikan sangat mencengangkan. Ya, hanya centang dua biru, tanpa ada balasan. Akhirnya saya memutuskan untuk bodoamat dan tetap melanjutkan kegiatan seperti biasa.

Ketika saya mulai bersikap bodoamat itulah saya teringat sebuah hadits Nabi, “Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari 3 malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam” (HR. Muslim).

Saya pun tersadar, bersikap bodoamat bukanlah pilihan yang bijak. Kemudian saya mendatangi Paidilah dan berusaha meminta penjelasan mengenai apa yang sudah saya lakukan hingga membuatnya diam tanpa kata, lalu meminta maaf kepadanya. Namun, ia masih saja tak bergeming. Karena tidak ada penjelasan lebih lanjut hingga masalah ini saya biarkan larut, paling tidak saya sudah minta maaf.

Saat saya scroll Instagram, saya menemukan quote yang mewakili perasaan saya, “Jika seseorang tersinggung atas gurauanmu tidak perlu tersinggung apalagi bilang, jangan baper! Cukup minta maaf saja. Minta maaf bukan hal yang memalukan, tidak meminta maaflah yang memalukan. Meminta maaf tidak menurunkan harga dirimu, justru sikap itu membuatmu hebat”. Saya ingat sekali, quote itu ditulis oleh Syahid Muhammad dalam bukunya yang berjudul Kamu Gak Sendiri (hal. 216).

Memang, hal yang paling sulit disadari oleh diri sendiri adalah menyadari kesalahan yang diperbuat, tidak peka dan kurang kepedulian. Meminta maaf adalah tanda diri kita berbesar hati menerima kekurangan diri sendiri dan mau berdamai dengan sekitar. Namun perlu diingat, tidak sekedar meminta maaf lewat ucapan belaka, namun harus tulus dari lubuk hati terdalam. 

Setelah membaca quote tersebut saya termenung dan tersenyum sendiri. Apa yang saya lakukan pada Paidilah sudah benar?. Saya mungkin melakukan kesalahan yang tak saya sadari dan saya ingin belajar menjadi orang yang berhati besar dengan menurunkan ego dan meminta maaf duluan.

Tak lama setelah saya meminta maaf, meski ia tak bergeming, tiba-tiba Paidilah mengajak saya ngobrol dan guyonan seperti biasa. Saya menjawab dengan tersenyum kecil dan sedikit kaku, sembari berkata dalam batin, ajaib wong iki!. Mungkin begitu yang dinamakan mood, bisa naik dan turun seperti rollercoaster. Selain itu, sepertinya memaafkan juga hal yang tak mudah.

Maka dari itu saya rasa meminta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain adalah hal yang sama-sama hebat. Kita tak perlu malu jika harus meminta maaf, karena itu memang sudah seharusnya kita lakukan, meskipun tidak merasa melakukan kesalahan terhadap orang lain. Toh, kita juga tidak tahu apa yang kita lakukan akan mendapat respon seperti apa bagi orang lain? Karena perspektif seseorang selalu berbeda-beda.

Bahkan bisa saja tanpa sengaja perkataan atau tingkah laku kita dapat melukai hati, menyinggung perasaan hingga menimbulkan kekecewaan dan amarah bagi orang lain. Maka bersikap lapang dada dan open mind sangat diperlukan. Terlebih masyarakat Indonesia kini sudah mulai beragam, baik dari segi pola pikir, sudut pandang dan logat bahasa dalam menyampaikan sesuatu.

____________________________________

Oleh: Minnatul Maula (Santri Komplek Khodijah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here