Selasa, Mei 11, 2021
No menu items!
Beranda Pojok Santri Cinta Raisa #3

Cinta Raisa #3

Pertama kali bertemu, seketika Naila menyimpan rasa salut pada Farhan.Hal itu berlangsung saat Farhan sowanke ayah Nailaagar diperkenankan ikut mondok.Bermodal semangat mengaji, Farhan mohon izin untuk bisa menimba ilmu meski tidak memiliki bekal uang.

Farhan menyampaikan terus terang bahwa dirinya bersedia mengerjakan sesuatu yang bisa dianggap sebagai pengganti biaya selama mondok.

“Saya ngikut kyai, sekiranya ada yang bisa dikerjakan. Insya Allah siap, yang penting bisa mengaji disini” ungkap Farhan

Senyum ayah Naila mengembang. Ia mengucap alhamdulillah dan bergumam, ternyata di era seperti sekarang masih ada santri yang memiliki niat kuat mengaji meski minim biaya. Ayah Naila lalu berkata;

“Baik, Nak Farhan sangat boleh ikut mengaji disini. Untuk memenuhi kebutuhan, nantinya bisa ikut bantu-bantu mengurus lahan pertanian yang ada.”

Farhan mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan Ayah Naila.

“Sebelumnya, apa Nak Farhan sudah pernah bertani?” tanya Ayah Naila.

“Sejauh ini baru sebatas bertani di sawah menanam padi kyai”jawab Farhan.

“Emmm… Begitu ya. Baik, nanti Nak Farhan selama disini juga bisa terus ngembangkan ilmu bertani padi sekaligus yang lainnya, seperti sayuran dan buah-buahan” sambut Ayah Naila.

Perbincangan pun terus berlanjut. Suasana hangat menyelimuti pertemuan ini. Ayah Naila merasa bahwa pemuda di hadapannya merupakan pribadi yang penuh semangat.

Dibalik dinding ruang tamu, ternyata Naila tidak beranjak dari tempatnya duduk. Sejak tadi ia penasaran tentang santri baru bernama Farhan tersebut.Entah mengapa ada yang berdesir di dada.

“Astaghfilullah!” Naila tersentak atas sesuatu yang menyadarkannya. Bukan, bukan karena ada yang berdesir, tapi sebab Naila lupa bahwa para santri putri telah menantinya untuk membimbing programderesan Al-Qur’an bersama.

Jam sembilan malam memang merupakan jadwal deresan, yakni kegiatan mengulang hafalan Al-Qur’an. Naila bersama puluhan santri melafalkannyabersama-sama sebanyak dua juz.

Teknisnya, Naila memimpin menggunakan alat pengeras suara. Sedangkan para santri putrimengikutinya. Istimewanya, selama dua tahun memimpin deresan, sangat minim sekali lisan Naila keliru mengucapkan lafal hafalannya.

Naila memang dianugerahi kekuatan hafalan yang sangat bagus. Begitu pun proses menghafalnya yang juga bagus. Didukung suaranya yang merdu, menjadikannya sering diminta untukSima’an Al-Qur’an di berbagai daerah.

***

Hari esok adalah harapan baru bagi Farhan. Dirinya merasa bersyukur mendapat kesempatan belajar di pesantren ini. Sebuah kesempatan istimewa yang tentu menjadi hadiah indah dari Sang Pencipta.

Hari-hari berikutnya, Farhan aktif mengaji. Ba’daSholat Subuh dilanjut mengaji Al-Qur’an dengan menyetor hafalannya di hadapan Ayah Naila. Satu kali tatap muka berarti satu halaman Al-Qur’an yang telah dihafal disimak oleh Ayah Naila.

Usai mengaji, Farhan lantas menuju lahan di belakang pesantren yang luasnya kurang lebih satu hektar. Sejauh mata memandang, berbagai jenis tanaman tumbuh subur tertata rapi. Selain itu, terdapat pula kolam ikan dan kandang ternak.

Farhan tampak penasaran, bagaimana cara kyai mengelola lahan seluas ini dengan baik. Padahal tidak banyak waktu yang dimiliki kyai untuk fokus mengurus lahan.

Tentu saja Farhan sungkan jika bertanya langsung pada kyai. Maka langkah mudah demi menjawab rasa penasarannya ialah bertanya pada salah satu santri senior.

“Bagaimana cara pak kyai mengurusnya ya kang?” tanya Farhan pada Kang Amir.

“Istiqomah kang” jawab Kang Amir singkat.

“Istiqomah ya” gumam Farhan.

“Pak kyai betul-betul Istiqomah dalam mengurus lahan. Jadi kalau jadwalnya hari Senin mengurus sawah, berarti ya mesti terlaksana” jelas Kang Amir

“Kalau Selasa, waktunya mengurus lahan sayur” lanjut Kang Amir.

“Sejauh ini berapa santri yang secara khusus membantu pak kyai dalam pengelolaan lahan kang?” tanya Farhan. (Bersambung)

Penulis: Muhammad Taufik

M Taufiq
M Taufiq
Lahir di Denpasar Bali. Pendidikan MTs hingga Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren An-Nur. Kini bersama keluarga tinggal di Banguntapan Bantul.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Mengenal Ilmu Tauhid dalam Kitab Idhoatul Dujannah

www.annurngrukem.com - Tauhid secara singkatnya adalah mengesakan Allah SWT yang disebut dalam syahadatain yang kalimatnya terdiri atas dua bagian. Pertama, syahadat tauhid...

Penutupan Kegiatan dan Libur Lebaran 1442 H

www.annurngrukem.com - Rabu (27/4) Pondok Pesantren An Nur Ngrukem menggelar acara Peringatan Nuzul al-Qur’an sekaligus menutup rangkaian kegiatan Ramadan yang diikuti oleh seluruh santri...

Pengumuman Liburan Idul Fitri 1442 H

Sesuai surat edaran Pondok Pesantren An Nur dengan nomor 024/SP/PH-PPA/IV/2021 pada tanggal 28 April 2021 seluruh santri An Nur akan belajar di rumah...

Lomba Cerpen 6: SI DARYO

Lelaki 20 tahun itu terlihat meringis menahan perih saat air wudhu mengalir melewati luka-luka di beberapa bagian tubuhnya bersamaan dengan darah yang...

Recent Comments

Rini Dwi Hastuti on Pojok Santri#6 (Pelayan Surga)
Muhammad Rofiq Aulawi on Masih Manusiakah Kita?
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Penarikan Santri Tahap Dua
annur ngrukem on Cinta Raisa #3
fuad Rosyid on Kegiatan Harian
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
annur ngrukem on PROFIL MA AL MA’HAD AN NUR
error: Ups, tidak boleh main copy paste ya! Izin dulu sama Admin annurngrukem.com, donk..!
WeCreativez WhatsApp Support
Tim dukungan pelayanan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!
👋 Hai, ada yang bisa saya bantu??