Kategori
Pojok Santri

Pojok Santri#5 (Keuntungan Menjadi Pengurus Pondok)

www.annurngrukem.com – Awal tahun 2021 ini mendekati masa-masa terakhir tugas pengurus periode 2019-2021. Tidak lama lagi akan ada pengangkatan anggota pengurus baru.

Tentu ada perubahan struktural kepengurusan. Ada anggota yang berpindah departemen, ada yang bertahan di departemen sebelumnya padahal sudah hampir pingsan saking bosannya di departemen yang sama selama bertahun-tahun, bahkan ada anggota  baru yang  sama sekali belum pernah masuk dalam departemen mana pun.

Menjadi pengurus di benak sebagian santri masih menjadi hal menakutkan. Pada dasarnya memang tidak mudah menjadi pengurus tapi tidak semengerikan dan sesulit persepsi sebagian orang. Selain mendapat persepsi tersebut, menjadi pengurus juga mendapat banyak stigma negatif lainnya di antaranya: membebani, tukang suruh, dan sebagainya.

Peran pengurus itu menyeluruh. Bisa mencakup semua pihak yang yang memiliki kepentingan (stakeholders) pada pondok. Salah satunya menjadi penghubung antara para stakeholders, yaitu: pengasuh  pondok (para Bapak Kiai dan Ibu Nyai), santri secara menyeluruh, wali santri, alumni, dan masyarakat lingkungan pondok.

Pengurus adalah Pemimpin (Leader / Khalifah)

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat ‘aku hendak menjadikan khalifah di bumi’. Mereka (malaikat) berkata ‘apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’. Dia berfirman, ‘sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ ” (QS. Al-Baqarah: 30)

Peran pengurus sesuai ayat tersebut adalah menjadi pelaksana visi dan misi dari pengasuh pondok, maka pengurus mempunyai tanggung jawab untuk membuat dan mengatur program kegiatan yang sesuai dengan visi dan misi pengasuh dalam pengembangan pendidikan dan keilmuan.

Pengurus  adalah Teladan (Role Model / Uswatun Hasanah)

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”  (QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat di atas mengisahkan bahwa Rasulullah SAW adalah penyeru dalam kebaikan bukan dalam artian hanya secara lisan, tapi juga berdakwah dalam segala perilaku beliau.

Berdasarkan ayat tersebut, maka konsekuensi dari pengurus sebagai pembuat program kegiatan di pondok ialah menjadi pihak utama yang menjalankan program tersebut.

Sebagai contoh, dalam Departemen Pendidikan mempunyai program untuk mengikuti muraja’ah bersama Bapak Kiai, maka selain mengajak santri untuk menjalankan program tersebut, seluruh pengurus pun harus mengikuti kegiatan tersebut. Dalam kegiatan pondok apapun, pengurus harus menjadi pihak yang aktif mengikuti program yang diaturnya sendiri.

Pengurus adalah Pelayan (Servant / Abdi)

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina, mereka mengucapkan ‘salam’ ” ( QS. Al-Furqan: 63).

Ayat di atas menjelaskan tentang karakter ideal seorang pelayan atau abdi. Peran pengurus sebagai pelayan di pondok diharapkan sesuai karakter yang disebutkan ayat tersebut. Pengurus harus sepenuh hati membimbing santri-santri  agar mampu mengikuti kegiatan pondok tanpa berharap untuk dianggap lebih tinggi kedudukannya.

Pengurus harus bersikap sopan dan mematuhi dawuh kepada para pengasuh   pondok. Dan berbesar hati menerima masukan, saran, dan kritik dari berbagai pihak yang mempunyai keterlibatan di pondok meskipun kadang kritik tersebut disampaikan dengan cara yang tidak seharusnya.

Keuntungan menjadi Pengurus

Menjadi pengurus akan mendapatkan banyak keuntungan terutama dalam hal pengalaman yang bisa menjadi bekal lebih ketika sudah tidak nyantri dan harus turun di masyarakat.

  • Self management / Pengelolaan Diri

Tidak jarang dalam proses menjalankan program, pengurus menemui tantangan dari santri,  wali santri, bahkan tidak jarang tantangan antar sesama pengurus atau tantangan dengan diri sendiri yang tentu akan melibatkan emosi, pemikiran, dan stamina fisik.

Dalam situasi seperti ini seorang pengurus dituntut untuk mengatasi tantangan tersebut, cerdas membaca situasi, dan harus mampu mengatur agar tidak terjadi konflik yang lebih jauh antara program kerja, hubungan sosial, maupun kegiatan prioritas mengaji dan belajar agar tetap berjalan semestinya.

Terbiasa untuk melewati tantangan dan menyelaraskan diri dengan berbagai tekanan akan membentuk diri pengurus memiliki kemampuan pengelolaan terhadap diri sendiri ke depannya jika menemui masalah serupa. Kemampuan pengelolaan terhadap diri sendiri ini modal utama untuk bertahan di tengah keragaman masyarakat yang tentu lebih rawan konflik.

  • Society management / Pengelolaan Masyarakat

Sebagai penghubung antara pengasuh  pondok, santri, wali santri, dan masyarakat sekitar pondok tentu saja pengurus akan sering berkomunikasi dan terlibat dengan berbagai kalangan. Setiap kalangan yang terlibat dalam pondok tentu memiliki kebiasaan dan cara pendekatan komunikasi yang berbeda.

Pada situasi ini pengurus dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan perbedaan tersebut. Meski awalnya tidak mudah tapi secara perlahan tentu akan membentuk kepribadian pengurus menjadi fleksibel dan dapat menyesuaikan diri untuk melakukan komunikasi dan pendekatan terhadap berbagai kalangan tersebut.

Keahlian ini akan berguna ketika pengurus sudah keluar dari lingkungan pondok dan akan berbaur di masyarakat kelak untuk lebih mudah mengatasi berbagai masalah sosial di tengah keragaman masyarakat luar pondok yang lebih kompleks.

  • Time management / Pengaturan Waktu

Pengurus juga merupakan santri, yang mempunyai prioritas utama untuk mengaji dan menuntut ilmu. Dengan peran tambahan untuk ikut mengelola tatanan pondok tentu tidak membedakan kewajiban utama pengurus dengan santri nonpengurus dalam hal mengaji dan menuntut ilmu.

Antara program kerja pengurus, prioritas mengaji, dan menimba ilmu yang harus dilakukan bersamaan menuntut pengurus pintar membagi waktu agar ketiganya agar bisa berjalan semestinya. Terbiasa dengan tekanan tersebut akan membentuk pengurus mampu mengatur ritme dan menyeimbangkan porsi kegiatan.

Menjadi pengurus akan mendapat pengalaman dan ilmu penting yang tidak bisa dicari di bangku akademis manapun. Menjadi pengurus itu ringan, yang berat itu pahala dan berkahnya.

Penulis : HILYATUL HUSNA

Referensi

  • Al-Qur’an Karim
  • Tafsir Jalalain al-Juz’u al-Awwal. Jalaluddin Muhammad bin Ahmad Mahali dan Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar as-Suyuthi
  • ESQ: Emotional Spiritual Quotient, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual, 1 Ihsan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Ary Ginanjar Agustian

Oleh annurngrukem

Admin website. Pengurus Pondok Pesantren An Nur. Departemen Multimedia Bidang Informasi dan Teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *